iklan

OPINI

JJ Kusni di Timor-Leste: Ketika Persahabatan Lebih Bernilai dari Penghargaan

JJ Kusni di Timor-Leste: Ketika Persahabatan Lebih Bernilai dari Penghargaan

Oleh Dr. Jemi Renhart *

Perjalanan Kusni Sulang atau JJ Kusni ke Timor-Leste pada Mei 2026 bukan sekadar perjalanan menghadiri seremoni kenegaraan. Di balik penghargaan Order of Timor-Leste yang diterimanya, tersimpan makna yang lebih besar: persahabatan, solidaritas, dan penghormatan terhadap nilai kemanusiaan yang melampaui batas negara. Di Dili, ketika Presiden Timor-Leste José Ramos-Horta dan Perdana Menteri Xanana Gusmão berdiri bersama seorang budayawan Dayak dari Kalimantan, yang hadir sesungguhnya bukan hanya pertemuan antarindividu, tetapi juga perjumpaan sejarah dan ingatan kolektif Asia Tenggara. Timor-Leste adalah bangsa yang lahir dari luka panjang perjuangan. Negeri itu memahami betul arti solidaritas dan arti keberanian berdiri bersama rakyat kecil di tengah tekanan sejarah. Karena itu, penghargaan kepada JJ Kusni tidak dapat dibaca hanya sebagai penghormatan formal negara kepada seorang tamu. Penghargaan tersebut merupakan pengakuan terhadap konsistensi seorang intelektual dan budayawan yang sepanjang hidupnya menjaga suara kemanusiaan, kebudayaan rakyat, dan persaudaraan lintas bangsa.

Di tengah dunia yang semakin pragmatis dan dipenuhi relasi berbasis kepentingan, perjalanan ini menghadirkan sesuatu yang terasa langka: persahabatan yang tumbuh karena kesetiaan pada nilai. Hal itu terlihat jelas ketika JJ Kusni menyerahkan tanda mata dari Tanah Dayak kepada Ramos-Horta dan Xanana Gusmão. Seorang kawan menyebut benda itu sebagai koleksi yang “nilainya tak terhingga”. Namun Kusni menjawab dengan sederhana, “Pertemanan lebih tak ternilai.”  Kalimat pendek itu justru menjadi inti dari seluruh perjalanan ini. Ia menunjukkan bahwa bagi seorang budayawan, benda hanyalah simbol, sedangkan relasi antarmanusia adalah makna yang sesungguhnya. Dalam dunia modern yang sering mengukur segala sesuatu dengan materi dan popularitas, JJ Kusni mengingatkan bahwa warisan paling penting bukanlah kekayaan atau penghargaan, melainkan hubungan manusia yang dibangun dengan ketulusan. Yang lebih menarik, perjalanan ini juga memperlihatkan kegelisahan seorang budayawan terhadap masa depan kebudayaan rakyat. Di sela penghormatan yang diterimanya, JJ Kusni justru mempertanyakan apakah masih ada generasi yang mampu membuat karya seni rakyat seperti tanda mata yang ia bawa dari Tanah Dayak. Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya merupakan kritik yang mendalam terhadap zaman.

Modernitas memang membawa kemajuan teknologi, tetapi sering kali sekaligus mengikis ingatan budaya. Karya seni rakyat perlahan berubah menjadi barang pajangan, kehilangan konteks sosial dan spiritualnya. Padahal di balik karya-karya tradisional itu tersimpan filosofi hidup, identitas komunitas, dan cara manusia menjaga hubungan dengan alam dan sejarahnya. Kegelisahan JJ Kusni menunjukkan bahwa perjuangan kebudayaan belum selesai. Jika dahulu bangsa-bangsa di Asia Tenggara berjuang melawan kolonialisme fisik, maka hari ini perjuangannya adalah melawan hilangnya identitas budaya akibat arus globalisasi yang seragam. Karena itu, perjalanan JJ Kusni ke Timor-Leste sesungguhnya dapat dibaca sebagai bentuk diplomasi kebudayaan yang sunyi. Ia tidak datang membawa kekuatan politik atau ekonomi, melainkan membawa ingatan budaya Dayak, persahabatan, dan nilai kemanusiaan. Dalam banyak hal, diplomasi semacam ini justru lebih bertahan lama dibanding diplomasi formal negara. Hubungan antarbangsa sering kali menjadi kuat bukan hanya karena perjanjian politik, tetapi karena adanya hubungan personal yang tulus di antara manusia-manusia yang saling menghormati sejarah dan perjuangan masing-masing. Dokumentasi perjalanan ini juga menjadi penting. Foto-foto karya Armenio dari Media Affairs Kepresidenan Timor-Leste bukan sekadar dokumentasi acara seremonial. Ia telah berubah menjadi arsip sejarah tentang hubungan seorang tokoh Dayak Kalimantan dengan para pemimpin Timor-Leste. Di masa depan, foto-foto itu akan dibaca bukan hanya sebagai gambar pertemuan tokoh, tetapi sebagai penanda bahwa pernah ada persahabatan lintas bangsa yang dibangun di atas penghormatan terhadap perjuangan dan kebudayaan.

Pada akhirnya, perjalanan JJ Kusni ke Timor-Leste memperlihatkan bahwa seorang budayawan tidak hanya hidup di ruang sastra, diskusi intelektual, atau panggung kebudayaan. Seorang budayawan juga dapat menjadi jembatan kemanusiaan antarbangsa. Di Dili, JJ Kusni hadir bukan semata sebagai penerima penghargaan, melainkan sebagai saksi zaman yang terus percaya bahwa persahabatan, budaya rakyat, dan kemanusiaan adalah nilai yang lebih abadi daripada kekuasaan. Di tengah dunia yang semakin bising oleh konflik identitas dan persaingan politik, pesan itu terasa sangat relevan: bahwa pada akhirnya, yang paling diingat manusia bukanlah siapa yang paling berkuasa, melainkan siapa yang tetap menjaga persahabatan dan kemanusiaan ketika sejarah terus berubah. ***

 *  Pengajar Fakultas Kehutanan Universitas Palangka Raya, Kalaimantana Tengah.

iklan
iklan

Leave a Reply

iklan
error: Content is protected !!