iklan

INTERNASIONAL

Dubes Okto dan Istri kenang kerjasama dan kehangatan masyarakat Timor-Leste  

Dubes Okto dan Istri kenang kerjasama dan kehangatan masyarakat Timor-Leste   

Duta Besar Republik Indonesia untuk Timor-Leste, Okto Dorinus Manik didampingi sang istri, Flantina Silalahi, berbincang-bincanga dengan media dalam acara Breakfast Meeting dan ramah tamah yang diadakan di Wisma Duta Besar RI, Pantai Kelapa. Foto Tatoli/Cidalia Fátima

DILI, 31 Maret 2026 (TATOLI) – Menjelang akhir masa tugasnya sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) Republik Indonesia untuk Republik Demokratik Timor-Leste, Okto Dorinus Manik bersama sang istri, Flantina Silalahi, mengenang perjalanan pengabdian yang sarat makna, kehangatan, dan persaudaraan yang mendalam dengan masyarakat Timor-Leste.

Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Dili menggelar acara Breakfast Meeting dan ramah tamah bersama para jurnalis pada Selasa pagi di Wisma Duta Besar RI, Pantai Kelapa. Kegiatan ini menjadi momen perpisahan yang penuh keakraban, sekaligus ungkapan terima kasih atas kerja sama erat antara KBRI dan insan media selama lebih dari empat tahun terakhir.

Acara tersebut dihadiri oleh berbagai perwakilan media nasional, antara lain TATOLI, RTTL (Radio e Televisão de Timor-Leste), GMN (Grupo Média Nacionál), STL (Suara Timor Lorosa’e), Timor Post, Dili Post, Jornal Independente, Radio Voz, HATUTAN, serta sejumlah jurnalis lainnya. Kehadiran para jurnalis disebut sebagai kehormatan tersendiri bagi KBRI Dili dalam menutup masa bakti Dubes Okto dengan suasana kekeluargaan.

Dalam sambutannya, Dubes Okto menyampaikan rasa syukur dan haru atas pengalaman yang ia dan keluarganya rasakan selama 4 tahun lebih bertugas di Timor-Leste. Ia menggambarkan masa pengabdiannya bukan sekadar penugasan diplomatik, melainkan perjalanan hidup yang penuh berkat.

“Kami sangat menikmati hidup empat tahun empat bulan bersama seluruh keluarga Timor-Leste. Dukungan dari semua pihak Presiden, Perdana Menteri, Parlemen, tokoh agama, gereja, hingga masyarakat di tingkat bawah, sangat tulus dan luar biasa,” ujarnya.

Menurutnya, waktu yang dilalui terasa begitu singkat karena setiap momen dijalani dengan penuh kebersamaan dan dukungan. Ia menegaskan bahwa hubungan antara Indonesia dan Timor-Leste tidak hanya terjalin di tingkat pemerintah, tetapi juga hidup kuat di tengah masyarakat.

Selama masa tugasnya, Dubes Okto menyoroti sejumlah pencapaian penting dalam hubungan bilateral kedua negara. Salah satu fokus utama adalah penguatan konektivitas, baik udara maupun darat. Ia mengenang perjuangan awal menghidupkan kembali jalur penerbangan Bali–Dili pasca-pandemi COVID-19, yang saat itu dilayani oleh Citilink sebelum hadirnya Aero Dili.

Selain itu, konektivitas darat melalui jalur Dili–Kupang juga berhasil diperkuat dengan kehadiran beberapa tiga operator bus DAMRI, Babadok, Bagong, yang kini berjalan semakin baik setelah melalui berbagai evaluasi.

“Kalau kita tidak mulai, maka tidak akan pernah terjadi. Awalnya memang ada tantangan, tapi sekarang sudah berjalan baik dan terus kami kembangkan,” katanya.

Di bidang ekonomi, kedua negara juga mencatat kemajuan melalui penguatan perdagangan dan penyelenggaraan berbagai trade expo berskala besar, baik di Timor-Leste maupun Indonesia. Dubes Okto juga menyebut penyelesaian Bilateral Investment Treaty sebagai langkah strategis untuk melindungi investor dan mendorong investasi di masa depan.

Tak hanya itu, Indonesia turut berperan aktif mendukung Timor-Leste dalam proses aksesi ke ASEAN, sebuah capaian bersejarah bagi negara muda tersebut. Dukungan juga diberikan melalui program peningkatan kapasitas, termasuk pelatihan dan magang bagi pejabat Timor-Leste di Indonesia.

Di sektor pendidikan, sekitar 1.700 beasiswa telah diberikan kepada generasi muda Timor-Leste selama masa kepemimpinannya, sebagai investasi jangka panjang dalam pembangunan sumber daya manusia.

Namun, di balik capaian diplomatik tersebut, hal yang paling membekas bagi Dubes Okto justru adalah nilai-nilai kemanusiaan yang ia saksikan langsung di tengah masyarakat.

Ia menuturkan pengalamannya saat menghadiri Misa Kunjungan Paus Fransiskus di Tasi Tolu, di mana ribuan orang dari latar belakang berbeda berkumpul tanpa konflik, saling membantu, dan menunjukkan solidaritas yang tulus.

“Tidak ada keributan, semua saling menolong. Ini sesuatu yang mungkin sudah mulai hilang di banyak tempat, tetapi masih hidup di Timor-Leste,” ungkapnya.

Ia juga terkesan dengan kuatnya budaya kebersamaan dalam kehidupan sosial, termasuk dalam acara kedukaan, di mana masyarakat berkumpul, berbagi cerita, dan mempererat hubungan layaknya keluarga besar.

Sementara itu, sang istri, Flantina Silalahi, turut membagikan kesan mendalam tentang kehangatan masyarakat Timor-Leste yang ia rasakan sejak pertama tiba.

Menurutnya, masyarakat Timor-Leste tidak hanya mengenal Indonesia melalui media, tetapi juga memiliki kerinduan untuk menjalin hubungan yang lebih personal dan dekat.

“Kami merasakan bahwa masyarakat di sini menanti hubungan yang lebih hangat dengan Indonesia. Setiap kunjungan selalu disambut dengan antusias, dengan senyum yang tulus dari anak-anak hingga para ibu,” tuturnya.

Ia mengaku tidak pernah merasa terasing selama tinggal di Timor-Leste. Bahkan dalam aktivitas sehari-hari seperti berjalan kaki, berbelanja, atau berolahraga, ia selalu merasakan rasa aman dan diterima.

“Senyum mereka membuat kami merasa seperti berada di rumah sendiri,” katanya.

Flantina juga mengagumi keunikan budaya lokal, mulai dari kebiasaan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari hingga kuatnya ikatan kekeluargaan. Ia mencontohkan tradisi gotong royong dalam acara kedukaan, serta kejujuran masyarakat yang tetap menjaga barang milik orang lain, seperti ikan yang digantung di kendaraan tanpa takut hilang.

“Ini menunjukkan betapa kuatnya nilai kepercayaan dan kebersamaan di masyarakat Timor-Leste,” ujarnya.

Reporter : Cidalia Fátima

Editor : Armandina Moniz

iklan
iklan

Leave a Reply

iklan
error: Content is protected !!