iklan

SOSIAL INKLUSIF

Abilio abadikan cerita adiknya dalam Novel “Janji yang Tertinggal di Ruang Gelap”  

Abilio abadikan cerita adiknya dalam Novel “Janji yang Tertinggal di Ruang Gelap”   

Novel berjudul “Janji yang Tertinggal di Ruang Gelap”, diluncurkan. Foto Tatoli/Cidalia Fatima

DILI, 27 Maret 2026 (TATOLI) – Seorang penulis muda Timor-Leste, Abilio Barros Soares, merealisasikan kisah hidup adiknya melalui sebuah novel berjudul “Janji yang Tertinggal di Ruang Gelap”, sebagai bentuk penghormatan sekaligus upaya menjaga ingatan kolektif atas para korban masa lalu.

Peluncuran novel tersebut berlangsung di CNC Balide dan dihadiri langsung oleh orang tua penulis bersama keluarga besar, serta para mahasiswa, siswa, dan perwakilan dari Kementerian Pendidikan Timor-Leste.

Abilio mengungkapkan bahwa proses penulisan novel tersebut telah dimulai sejak 2017, meskipun sempat terhenti beberapa kali karena berbagai kendala. Ia menuturkan bahwa motivasi utamanya menulis adalah untuk mengenang kembali kisah-kisah masa lalu dan memberikan keadilan moral bagi para korban.

“Penulisan ini lahir dari keinginan untuk mengingat kembali cerita-cerita masa lalu, karena bagi saya keadilan pertama bagi para korban adalah ketika kisah mereka didengar, sehingga kematian mereka tidak dianggap sia-sia,” ujarnya dalam peluncuran buku di CNC Balide, Jumat ini.

Ia menambahkan, sosok adiknya, Zé, bukanlah seorang pejuang bersenjata, melainkan seorang anak biasa yang gemar bersekolah dan bermain gitar. Namun, menurut Abilio, anak-anak seperti Zé sering kali hanya tercatat sebagai angka dalam statistik korban konflik.

“Sering kali kita hanya mengingat para pahlawan besar, padahal anak-anak seperti Zé juga menjadi bagian dari sejarah. Saya menulis agar namanya tetap dikenang,” katanya.

Abilio berasal dari keluarga besar dengan sembilan bersaudara, di mana enam di antaranya telah meninggal dunia. Empat meninggal saat konflik di hutan, satu yakni Zé tewas pada 1999 akibat dibunuh milisi, dan satu lainnya meninggal karena sakit akibat keterbatasan fasilitas kesehatan. Kini, hanya tiga saudara yang masih hidup.

Zé, yang lahir pada 1 November 1986, menempuh pendidikan dasar di SDN Samutaben, Manapa, Cailaco, Bobonaro, dan melanjutkan pendidikan di SMPK Colegio Maliana. Ia diketahui turut terlibat dalam kegiatan klandestin, termasuk mengantar surat kepada ayahnya yang berada di hutan selama masa konflik. Pada 8 September 1999, Zé dibunuh oleh milisi di rumah keluarganya.

Novel berjudul “Janji yang Tertinggal di Ruang Gelap”. Foto Tatoli/Cidalia Fatima

Abilio menegaskan bahwa novel tersebut bukanlah buku sejarah, melainkan karya sastra yang menggabungkan berbagai fragmen cerita keluarga, termasuk kisah ayah dan saudara-saudaranya. Setelah menemukan kembali jenazah Zé pada 2022, ia mulai menyusun ulang bagian-bagian penting dalam novelnya hingga akhirnya rampung pada Agustus hingga Desember 2025.

Menurutnya, novel ini tidak hanya mengisahkan perjalanan hidup dan kematian, tetapi juga perjalanan penyembuhan (healing) dan pencarian penutup luka (closure).

Dalam peluncuran novel tersebut, Abilio juga menyampaikan apresiasi kepada pihak yang telah memberikan ruang bagi penerbitan karyanya. Ia menekankan pentingnya menjaga memori sebagai bagian dari keadilan dan pengakuan moral bagi para korban.

“Kenangan memiliki hubungan erat dengan keadilan. Mengingat kembali adalah bentuk pengakuan moral. Novel ini menghadirkan para korban sebagai manusia, bukan sekadar angka,” tegasnya.

Ia juga menambahkan bahwa menjaga ingatan merupakan bagian dari upaya mempertahankan kemerdekaan, serta memastikan bahwa sejarah tidak akan hilang.

“Tidak semua pengorbanan mendapatkan balasan, dan tidak semua nama tercatat dalam buku sejarah. Namun selama kita terus menceritakan kisah mereka, maka mereka tidak akan benar-benar hilang,” ujarnya.

Novel ini didedikasikan untuk Zé, yang disebut sebagai “Lelo Furak”, serta bagi seluruh anak-anak Timor-Leste yang menjadi korban konflik. Abilio berharap, kisah adiknya dapat menjadi simbol bagi banyak anak lainnya yang turut berkontribusi dalam perjalanan bangsa, meskipun sering tidak terlihat.

Novel “Janji yang Tertinggal di Ruang Gelap” terdiri dari 247 halaman yang terbagi dalam 36 bab, dan diterbitkan di Cirebon, Indonesia. Pada tahap awal, buku ini dicetak sebanyak 50 eksemplar, dan saat ini tersisa 20 eksemplar yang masih tersedia untuk dibeli di CNC (Pusat Nasional Chega!).

Dijelaskan penulis akan melakukan pencetakan tahap kedua mengingat tingginya permintaan setelah dilakukan peluncuran hari ini.

Selain peluncuran buku, kegiatan juga diisi dengan diskusi bersama yang menghadirkan dua pembicara, yakni Zelia Vital dan Nugroho Katjasungkana, serta penulis Abilio Barros Soares, dengan peserta dari kalangan mahasiswa dan pegiat seni.

Dalam kesempatan tersebut, Zelia Vital merekomendasikan agar novel ini dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Tetun dan tersedia di perpustakaan CNC maupun toko buku, sehingga dapat diakses lebih luas oleh masyarakat.


Foto bersama disela-sela acara peluncuran novel berjudul “Janji yang Tertinggal di Ruang Gelap”. Foto Tatoli/ Cidalia Fátima

“Buku ini sangat bagus karena menceritakan bagaimana seorang anak muda mengorbankan dirinya dan berdiri untuk negaranya dan keluarganya. Saya harap ini bisa diakses luas oleh semua orang khususnya anak-anak muda,” ucapnya.

Ia juga menyampaikan penghormatan kepada sosok Zé sekaligus apresiasi terhadap karya Abilio. Mengutip pemikiran Kahlil Gibran tentang perjalanan sungai menuju laut, Zelia mengibaratkan Zé sebagai “mota oan” (anak sungai) yang pada akhirnya telah menyatu dengan lautan, sebagai simbol perjalanan hidup yang berujung pada keabadian.

Direktur Eksekutif Centro Nasional Chega! (CNC), Hugo Fernandes, mengatakan bahwa peluncuran novel “Janji yang Tertinggal di Ruang Gelap” menjadi salah satu kontribusi penting dalam upaya pelestarian memori serta penyebarluasan sejarah Timor-Leste, khususnya kepada masyarakat internasional.

Hugo Fernandes menjelaskan bahwa CNC secara rutin menyelenggarakan peluncuran buku yang berkaitan dengan sejarah Timor-Leste. Ia menegaskan bahwa meskipun novel tersebut merupakan karya sastra, namun isinya didasarkan pada peristiwa faktual yang benar-benar terjadi di masa lalu.

“Kami di CNC sering mengadakan peluncuran buku-buku yang berkaitan dengan sejarah Timor-Leste. Hari ini, 27 Maret, juga berdekatan dengan 24 Maret yang diperingati sebagai Hari Internasional untuk Hak atas Kebenaran. Novel ini memang karya fiksi, tetapi berbasis pada realitas yang benar-benar terjadi,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan apresiasinya karena novel tersebut ditulis dalam bahasa Indonesia, yang dinilai memiliki peran penting dalam menjangkau pembaca di Indonesia agar dapat memahami sejarah Timor-Leste.

“Saya senang karena buku ini ditulis dalam bahasa Indonesia, sehingga masyarakat Indonesia dapat lebih memahami apa yang terjadi di Timor-Leste, khususnya pada tahun 1999,” katanya.

Lebih lanjut, Hugo Fernandes mengungkapkan bahwa CNC memiliki kerja sama dengan Universitas Sanata Dharma (USD) di Indonesia serta asosiasi perpustakaan universitas Katolik di negara tersebut. Melalui kemitraan ini, CNC berencana mendistribusikan sejumlah eksemplar buku ke berbagai perpustakaan di Indonesia.

“Kami akan mengirim beberapa eksemplar ke Universitas Sanata Dharma agar dapat didistribusikan ke perpustakaan-perpustakaan di Indonesia. Bagi Timor-Leste, buku ini menggambarkan transformasi dari peristiwa yang terjadi di Maliana, Bobonaro. Sementara bagi Indonesia, ini menjadi kesempatan untuk membaca dan memahami peristiwa tersebut dalam bahasa mereka sendiri,” jelasnya.

Ia menambahkan, karya sastra seperti novel ini memiliki peran penting dalam menghubungkan memori masa lalu dengan generasi muda, sehingga sejarah tetap hidup dan tidak hilang.

Reporter: Cidalia Fátima

Editor: Armandina Moniz

 

 

iklan
iklan

Leave a Reply

iklan
error: Content is protected !!