iklan

SOSIAL INKLUSIF

Timor – Leste gelar Konferensi Geosains Internasional

Timor – Leste gelar Konferensi Geosains Internasional

Acara pembukaan resmi Konferensi Internasional Geosains ke – VI Tahun 2026 pada 05 – 06 Februari dengan tema “Geoscience for National Building: Data, Resources and Resilience for Timor-Leste’s Future” yang digelar di Gedung Serbaguna GMN TV. Foto Tatoli/Francisco Sony

DILI, 05 Februari 2026 (TATOLI) —  Timor-Leste melalui Institut Geosains Timor-Leste (IGTL) menyelenggarakan Konferensi Internasional Geosains ke – VI Tahun 2026 pada 05 – 06 Februari dengan tema “Geoscience for National Building: Data, Resources and Resilience for Timor-Leste’s Future”.

Konferensi tersebut digelar di Gedung Serbaguna GMN TV, Kamis ini dengan  menghadirkan para ahli geosains, akademisi, pelaku industri, dan pembuat kebijakan dari berbagai negara untuk membahas peran ilmu kebumian dalam pembangunan nasional dan pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan.

Ketua IGTL, Job Brites dos Santos, menyatakan bahwa konferensi ini merupakan momen penting bagi IGTL dan bagi Timor-Leste karena mempertemukan perwakilan Survei Geologi Nasional, universitas INWI, pusat riset, dan institusi ilmiah dari dunia berbahasa Portugis, kawasan Asia-Pasifik, dan wilayah lainnya.

“Kita bersatu oleh tujuan yang sama, memperkuat peran ilmu pengetahuan dan pengetahuan geosains dalam membangun negara yang lebih tangguh, berdaulat, dan berkelanjutan,” ujar Job Brites dalam pidatonya pada acara tersebut.

Ia juga menegaskan visi konferensi sebagai wujud konkret dari misi institusi, karena akan membahas isu-isu kunci yang menjadi tantangan utama bagi negara dan institusinya saat ini, peran survei geologi nasional dalam pembangunan internasional, kontribusi geosains terhadap ekonomi, tata kelola sumber daya mineral dan energi, transisi energi, pengurangan risiko bencana, dan transformasi pengetahuan ilmiah menjadi nilai publik.

“Ilmu pengetahuan, khususnya geosains, memainkan peran yang menentukan dalam perencanaan wilayah, perlindungan masyarakat, investasi yang bertanggung jawab, dan kebijakan publik berbasis bukti,” katanya.

Menurutnya, semakin banyak pengetahuan yang dikembangkan tentang wilayah sendiri, tentang bawah tanah, dan tentang sumber daya, semakin besar kapasitas untuk memutuskan, bernegosiasi, dan merencanakan secara mandiri.

“Kita harus menarik investasi, ya, tetapi kita harus menariknya dengan baik, dengan mengandalkan informasi yang dapat dipercaya, data ilmiah, transparansi, dan kedaulatan. Pengetahuan adalah kunci untuk mengubah potensi menjadi nilai nyata, mengurangi risiko, meningkatkan kepercayaan investor, dan memastikan pembangunan memberikan manfaat bagi negara dan rakyat Timor-Leste,” ucapnya.

Sementara itu, Menteri Perminyakan dan Sumber Daya Mineral, Francisco da Costa Monteiro, menekankan konferensi bukan sekadar kegiatan akademik, tetapi merupakan ruang strategis untuk mengkaji peran penting geosains dalam pembangunan nasional, memperluas pemahaman mengenai tren terbaru dalam akuisisi dan pemanfaatan data, serta membahas praktik terbaik dalam pengembangan dan pengelolaan sumber daya alam.

“Diskusi ini akan memperkuat kerja sama antara pemerintah, industri, dan akademisi, yang secara tidak langsung berkontribusi pada perumusan kebijakan dan strategi pengelolaan serta pengembangan sumber daya nasional,” jelasnya.

Anggota Pemerintah itu menyebutkan bahwa Timor-Leste sangat dipengaruhi oleh kondisi geologi. Pengetahuan mengenai cadangan hidrokarbon yang kaya telah memberikan dampak langsung terhadap perjalanan sejarah negara, dari masa perjuangan hingga tercapainya kedaulatan.

“Saat ini, konferensi ini menjadi bukti komitmen kita untuk mengubah warisan geologi menjadi fondasi pembangunan berkelanjutan dan kesejahteraan rakyat,” pungkas Menteri Francisco.

Konferensi hari pertama, pada Kamis (05/02), menghadirkan sesi pleno dengan pembicara Teresa Ponce de Leão (LNEG Portugal) tentang peran survei geologi dalam pembangunan nasional, Américo da Mata Lourenço Victorino (IGEO Angola) mengenai pelajaran dari survei geologi Angola, dan Ma Yongzheng (CCOP) membahas kerja sama regional geosains. Sesi panel melibatkan LNEG, IGEO, SGB, IGTL, dan University of Western Australia (UWA).

Sesi sore menampilkan presentasi teknis dari pakar lokal IGTL dan lembaga nasional,  Rui Soares (TimorGAP) mengenai data geosains untuk pengembangan minyak dan gas, Marcal Ximenes (IGTL) tentang hidrogeologi urban, Bayu Pranata (BMKG Indonesia) tentang mitigasi risiko bencana, Luke Wallace (Geoscience Australia) mengenai pengelolaan air tanah berkelanjutan, Moises Soares menyoroti geofisika untuk mengurangi risiko,  Joaquina Mendes membahas rekayasa geologi; Gualdino da Silva (ANP) tentang tata kelola data, dan Geovanio Almeida memaparkan pemantauan seismik real-time.

Hari kedua, Jumat (06/02) akan dimulai dengan keynote speaker Francisco Valdir Silveira (SGB Brasil) dengan topik  peran lembaga geosains publik untuk pembangunan berkelanjutan, Jorge Carvalho (LNEG Portugal) mengenai penggunaan data survei geologi untuk tata guna lahan dan kebijakan publik, serta sesi pagi oleh Rafael de Araujo (ANM) tentang tata kelola sumber daya mineral, Andre Soares (IGTL) tentang potensi mineral dan panas bumi, Igor Morais (LNEG Portugal) tentang provinsi metalogenetik, dan José Gonçalves (MRT) terkait pengembangan pertambangan bertanggung jawab.

Diskusi energi dibawakan Rudêncio Morais (ENH Mozambik), Elias Cabral (IGTL) tentang prospek minyak, dan Manuel Gomes Correia (UNISIM Brasil) mengenai pemodelan reservoir terfragmentasi.

Panel diskusi besar menekankan kontribusi geosains, mineral, dan energi untuk pertumbuhan ekonomi, dengan keterlibatan perwakilan LNEG, ANM, ANP, IGTL, ENH, CCOP, dan Michael Earle. Dimana, sesi sore menghadirkan Prof. David W. Haig (UWA Australia) mengenai nomenklatur stratigrafi Timor-Leste, Michael Earle (UK) mengenai kompleks metamorfik, Antonio de Araujo tentang progres pemetaan geologi, Benjamin Kear (Uppsala University, Swedia) tentang fosil Ichthyosaurus dan konservasi geoheritage, serta Isaias Santos Barros (IGTL) mengenai paleontologi Foraminifera.

Konferensi dihadiri atau terwakili oleh Timor-Leste, Portugal, Angola, regional Asia (CCOP), Indonesia, Australia, Brazil, Mozambique, United Kingdom, dan Swedia, menegaskan posisi Timor-Leste sebagai pusat diskusi geosains internasional sekaligus memperkuat kapasitas ilmiah nasional dalam pengelolaan sumber daya alam, mitigasi risiko bencana, dan pembangunan berkelanjutan.

Reporter : Cidalia Fátima

Editor     : Armandina Moniz

iklan
iklan

Leave a Reply

iklan
error: Content is protected !!