iklan

KESEHATAN

Program ber-Wolbachia butuh satu hingga dua tahun untuk menunjukkan hasil

Program ber-Wolbachia butuh satu hingga dua tahun untuk menunjukkan hasil

Foto google

DILI, 04 Februari 2026 (TATOLI) — Direktur Kantor Kebijakan Kesehatan, Perencanaan, Kerja Sama, dan Pengembangan di Kementerian Kesehatan (MS), Florindo Gonzaga, menegaskan bahwa hasil Program ber-Wolbachia baru dapat terlihat setelah implementasinya selama satu hingga dua tahun.

“Banyak orang mempertanyakan peningkatan kasus demam berdarah setelah dilepaskannya nyamuk yang mengandung bakteri ber-Wolbachia. Hasil program ini tidak bisa langsung terlihat. Butuh waktu,” kata Florindo Gonzaga menanggapi kekhawatiran masyarakat terkait efektivitas Program ber-Wolbachia, menyusul lonjakan jumlah kasus demam berdarah.

Ia menjelaskan bahwa nyamuk yang mengandung bakteri ber-Wolbachia mulai dilepas pada Agustus tahun lalu, dan pelepasan terakhir dilakukan minggu lalu. Efek program tersebut baru dapat dievaluasi dalam satu hingga dua tahun ke depan, karena tim baru memulai pemantauan pada awal bulan ini.

Florindo Gonzaga menambahkan, nyamuk yang mengandung bakteri ber-Wolbachia harus mendominasi area di mana nyamuk Aedes aegypti berkonsentrasi agar efektif mengurangi populasi nyamuk tersebut.

Berita terkait : Kemenkes pastikan program ber-Wolbachia dapat mengurangi DBD di Timor-Leste

Dalam pelaksanaan Program ber-Wolbachia, Timor-Leste menggunakan strategi penggantian populasi, yang berarti nyamuk tetap ada, tetapi jumlah kasus demam berdarah dapat berkurang. Menurutnya, pendekatan ini juga mempertahankan ekosistem lokal, termasuk habitat burung yang menjadi bagian dari rantai makanan hewan lain, sehingga tidak memungkinkan populasi burung sepenuhnya dihilangkan.

Bakteri ber-Wolbachia dimasukkan ke dalam nyamuk karena nyamuk biasanya menghisap darah manusia untuk bertahan hidup, sekaligus menularkan virus demam berdarah. Tidak seperti nyamuk betina, nyamuk jantan tidak menggigit manusia, melainkan hanya mengonsumsi jus buah dan makanan lain.

“Ketika nyamuk betina yang mengandung Wolbachia kawin dengan nyamuk jantan lokal, mereka dapat melahirkan generasi nyamuk baru yang membawa Wolbachia, berkontribusi pada pengendalian populasi Aedes aegypti,” ujar Direktur itu.

Florindo Gonzaga menekankan bahwa generasi ini merupakan proses berkelanjutan, sehingga Program ber-Wolbachia bersifat jangka panjang. Ia juga optimistis, karena lingkungan tropis Timor-Leste mendukung kelangsungan hidup nyamuk yang mengandung Wolbachia, dan program ini diharapkan membantu memerangi demam berdarah, chikungunya, dan zika.

Ia menambahkan, ketika tim Kementerian Kesehatan melakukan fumigasi atau penyemprotan insektisida, hal ini tidak berdampak pada nyamuk yang mengandung Wolbachia, karena sebelum dilepas, nyamuk telah melalui uji laboratorium dan bergantung pada resistensi masing-masing individu.

Berita terkait : Program ber-Wolbachia : Kemenkes – Menzies telah lepas 8.141 nyamuk di Dili

Mengenai kasus demam berdarah, Kementerian Kesehatan mencatat sejak awal Januari 2026 sebanyak 1.408 kasus, dengan lima orang meninggal dunia. Kota Dili menjadi kotamadya dengan jumlah kasus tertinggi, yaitu 931 kasus.

 Reporter: Felicidade Ximenes (Penerjemah: Cidalia Fátima)

Editor   :  Armandina Moniz

iklan
iklan

Leave a Reply

iklan
error: Content is protected !!