iklan

INTERNASIONAL

Misi Pemantau Pemilu g7+ gelar pertemuan jelang pantau pemilu di Guinea-Bissau   

Misi Pemantau Pemilu g7+ gelar pertemuan jelang pantau pemilu di Guinea-Bissau   

Tim Misi Pemantauan Pemilu dari g7+ mengadakan rapat koordinasi di Lisbon sebelum bertolak ke Guinea-Bissau untuk memantau langsung Pemilu Presiden dan Parlemen. Foto TATOLI/Arminda Fonseca

LISBON, 17 November 2025 (TATOLI) – Sekretariat Misi Pemantau Pemilu (MOE) g7+ mengadakan rapat koordinasi di Lisbon, Portugal, untuk membahas kegiatan yang akan dilakukan tim selama pemantauan Pemilihan Presiden dan Parlemen di Guinea-Bissau, yang akan diselenggarakan pada 23 November 2025.

Direktur Operasional g7+, Felix Piedade, menjelaskan bahwa pertemuan tersebut diselenggarakan karena Komisi Pemilihan Nasional (CNE) Guinea-Bissau tahun ini tidak hanya mengundang g7+ dari Timor-Leste, tetapi juga anggota g7+ dari negara lain seperti Kepulauan Solomon dan São Tomé dan Príncipe.

Oleh karena itu, sebelum berangkat ke Guinea-Bissau, tim bertemu dengan MOE anggota g7+ untuk membahas dua agenda penting, yaitu program yang akan dijalankan tim dalam memantau kampanye pra-pemilu dan pasca-pemilu.

Agenda lainnya adalah membahas formulir yang akan digunakan untuk melakukan pengamatan selama misi di Guinea-Bissau.

“Hari ini, anggota tim masing-masing menyampaikan pendapat dan saran untuk memastikan misi dapat berjalan dengan baik,” ujar Felix Piedade kepada TATOLI di gedung g7+ di Lisbon, Senin ini.

Ia menekankan bahwa kegiatan pertama yang akan dilakukan tim MOE selama misi ini adalah mengadakan pertemuan dengan Ketua Komisi Pemilihan Umum Guinea-Bissau serta melakukan observasi terhadap kampanye para calon presiden dan partai politik.

“Saat ini, kegiatan yang sangat penting yang akan dilakukan tim adalah mengamati seluruh proses pemilu pada 23 November 2025, memastikan bahwa tim mengamati seluruh proses mulai dari pembukaan, pemungutan suara, hingga penutupan pemilu,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa kegiatan penting lainnya adalah observasi terhadap proses penghitungan suara setelah pemungutan suara, karena pemilu tersebut dilaksanakan di tiga wilayah, yakni Bissau, Biombu, dan Oio.

Felix menginformasikan bahwa selama misi, dalam waktu 24 hingga 48 jam, tim akan menyampaikan laporan awal kepada Ketua Komisi Pemilihan Umum Guinea-Bissau melalui konferensi pers.

Pada saat yang sama, Kepala Misi Pemantau Pemilu, Christina Joanna Mitini, menyampaikan terima kasih kepada Guinea-Bissau, Ketua Komisi Pemilihan Umum Guinea-Bissau, dan Sekretariat g7+ atas undangan untuk berpartisipasi dalam misi pemantauan tersebut.

“Merupakan kehormatan besar bagi saya sebagai perwakilan Kepulauan Solomon untuk menjadi Kepala Misi Pemantau Pemilu di Guinea-Bissau. Kepulauan Solomon tetap berkomitmen terhadap misi ini, dan saya merasa terhormat dapat mewakili negara kami dalam upaya penting ini. Misi ini bukan hanya untuk memantau proses pemilu, tetapi juga memperkuat nilai-nilai perdamaian, rekonsiliasi, dan pemerintahan demokratis yang diwakili g7+,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa pemilu Guinea-Bissau pada 23 November menandai momen penting dalam perjalanan negara tersebut menuju stabilitas dan pembangunan berkelanjutan.

“Kehadiran kolektif kita di sini melambangkan solidaritas antarnegara pascakonflik, serta keyakinan bahwa pemilu yang kredibel, transparan, dan inklusif merupakan landasan perdamaian yang berkelanjutan,” jelasnya.

Bersama akan melibatkan para pemangku kepentingan, memantau prosesnya, dan memberikan penilaian yang imparsial untuk memperkuat kepercayaan terhadap lembaga-lembaga negara dan mendorong kohesi nasional.

“Prinsip g7+ mengingatkan kita bahwa tidak ada perdamaian tanpa rekonsiliasi, dan tidak ada rekonsiliasi tanpa perdamaian. Dengan semangat itulah kita bekerja. Saya berharap dapat bekerja sama erat dengan rekan-rekan dalam memenuhi tanggung jawab bersama dalam misi ini,” lanjutnya.

“Mari kita berjalan bersama di jalan ini dengan kerendahan hati, rasa hormat, dan tekad, untuk memastikan bahwa kontribusi kita membantu Guinea-Bissau melangkah lebih jauh menuju demokrasi dan pembangunan,” ujarnya.

Rapat koordinasi tersebut dipimpin oleh Kepala MOE, Christina Joanna Mitini dihadiri Direktur Operasi g7+, Felix Piedade, Direktur Jenderal Sekretariat Teknis Administrasi Pemilihan (STAE), Elvino Fernandes Moniz, Sekretaris Jenderal Komisi Pemilihan Nasional Republik Demokratik São Tomé dan Príncipe, Melvim Nascimento Castro, Teknisi Protokol dan Mitra g7+, Elísio Monteiro Valadares, serta Asisten Pribadi g7+, Vítor Liu Gonçalves. 

Reporter : Arminda Fonseca (Penerjemah: Cidalia Fátima)

Editor    :  Armandina Moniz

iklan
iklan

Leave a Reply

iklan
error: Content is protected !!