DILI, 05 November 2025 (TATOLI)—Presiden Republik dan Peraih Nobel Perdamaian, Jose Ramos-Horta, menyampaikan ucapan belasungkawa dan solidaritasnya yang mendalam, atas bencana alam Topan Kalmaegi yang melanda Vietnam dan menewaskan nyawa orang.
Presiden Ramos-Horta dalam pesan resmi yang dituliskan pada Selasa (04/11) ini yang diakses Tatoli, menyatakan rasa duka simpati dan solidaritas yang mendalam kepada Presiden Republik Sosialis Vietnam Lương Cường.
Presiden Ramos-Horta menyampaikan belasungkawa terdalam dari rakyat Timor-Leste. “Saya menyampaikan belasungkawa terdalam dari Timor-Leste kepada Yang Terhormat, kepada keluarga para korban, dan kepada seluruh rakyat Vietnam, bersama dengan ungkapan solidaritas persaudaraan kami di masa duka dan cobaan yang berat ini. Saya sangat mengagumi upaya tak kenal lelah dari otoritas Vietnam, tim penyelamat, dan masyarakat setempat untuk menyelamatkan nyawa, menyediakan bantuan kemanusiaan, dan membangun kembali infrastruktur yang terdampak. Semangat ketahanan dan persatuan yang menjadi ciri khas rakyat Vietnam, sekali lagi, tetap menjadi sumber inspirasi bagi kita semua,” tulis Kepala Negara Timor-Leste.
Presiden Ramos-Horta menegaskan kembali ikatan persaudaraan antara kedua negara. Timor-Leste berdiri dalam solidaritas dengan Vietnam dan menyampaikan harapan untuk keberhasilan upaya bantuan dan pemulihan yang sedang berlangsung.
Menurut laporan AFP pada Selasa (4/11/2025), yang dikutip Tatoli, bahwa jumlah korban jiwa akibat bencana alam banjir dan hujan deras yang melanda Vietnam tengah selama sepekan bertambah menjadi 40 orang. Di tengah situasi ini, badai besar lainnya diperkirakan segera menghantam wilayah yang sudah terdampak.
Hujan lebat yang mengguyur wilayah Vietnam tengah telah mengubah jalan menjadi aliran air seperti kanal, membuat sungai meluap, dan membanjiri sejumlah lokasi bersejarah yang menjadi destinasi wisata populer di negara tersebut.
Dari laporan AFP itu bahwa dalam kurun waktu 24 jam, beberapa area terendam banjir dengan ketinggian mencapai 1,7 meter akibat curah hujan yang menjadi cacatan terburuk negara itu.
Korban meninggal dilaporkan berada di provinsi Hue, Da Nang, Lam Dong, dan Quang Tri. Badan penanggulangan bencana Kementerian Lingkungan Hidup menyebut masih ada enam orang yang belum ditemukan.
Cuaca ekstrem ini diperkirakan akan terus berlanjut. Biro cuaca nasional melaporkan bahwa Topan Kalmaegi diprediksi akan tiba pada Jumat dini hari (07/11).
Vietnam memang kerap dilanda hujan lebat pada Juni hingga September lalu. Meski demikian, para ahli menilai bahwa perubahan iklim akibat ulah manusia telah meningkatkan intensitas dan frekuensi cuaca ekstrem ini.
Biasanya, sekitar sepuluh topan dan badai tropis melanda Vietnam setiap tahunnya, baik secara langsung ataupun di sekitar wilayah perairannya. Namun, Topan Kalmaegi tercatat sebagai badai ke-13 yang melanda negara itu sepanjang 2025.
Reporter : Mirandolina Barros Soares
Editor : Armandina Moniz




