Oleh: Teresa de Jesus Vaz Cabral
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin Makasar-Indonesia (HP +67077827100, e-mail: teresavazcabral@gmail.com)
Kematian seorang ibu saat melahirkan bukan sekadar kehilangan pribadi, tetapi luka bagi seluruh bangsa. Di Timor-Leste, setiap tahun masih ada ibu yang meninggal karena komplikasi kehamilan dan persalinan yang sebenarnya dapat dicegah. Di balik setiap angka statistik itu, ada keluarga yang kehilangan, anak yang tumbuh tanpa pelukan ibu, dan masa depan yang terguncang.
Timor-Leste memiliki salah satu angka kematian ibu tertinggi di Asia Tenggara (195 per 100.000 kelahiran hidup) dan hanya 57% kelahiran yang ditolong oleh tenaga kesehatan profesional yang berkualifikasi. Namun Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) Timor Leste yaitu untuk mengurangi rasio kematian global akibat komplikasi kehamilan dan persalinan menjadi kurang dari 70 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2030.
Penyebab utama kematian ibu terdiri dari: perdarahan, infeksi, tekanan darah tinggi saat hamil, hingga kurang gizi. Namun akar masalahnya lebih dalam: sulitnya akses menuju fasilitas kesehatan, minimnya transportasi darurat, serta terbatasnya tenaga medis di desa-desa terpencil. Banyak ibu terlambat mendapat pertolongan karena jarak jauh dan keputusan yang tertunda untuk mencari bantuan.
Untuk menurunkan angka kematian ibu, UNFPA Timor-Leste, bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan, berkomitmen untuk membangun kapasitas sekolah-sekolah kebidanan di Timor-Leste dalam menyediakan pendidikan kebidanan pra-jabatan berkualitas tinggi, untuk memitigasi dampak bencana seperti COVID-19 dan meningkatkan kondisi kerja bidan melalui penyediaan fasilitas mutakhir untuk sekolah kebidanan.
Oleh karena itu kita harus memastikan setiap perempuan hamil mendapatkan layanan kesehatan yang cepat, aman, dan berkualitas. Semua puskesmas harus memiliki tenaga bidan terlatih dan siap menghadapi keadaan darurat. Ambulans desa atau sistem transportasi gawat darurat perlu tersedia agar tidak ada ibu yang kehilangan nyawa di perjalanan menuju rumah sakit.
Pemeriksaan kehamilan harus menjadi prioritas, bukan formalitas, karena lewat pemeriksaan rutin, bahaya bisa dicegah lebih awal. Namun tanggung jawab ini tidak hanya milik tenaga Kesehatan namun Keluarga dan masyarakat memegang peranan penting.
Suami yang mengantar istrinya ke puskesmas, tetangga yang membantu menyediakan kendaraan, gereja, sekolah, dan pemimpin lokal juga dapat menjadi suara perubahan untuk menghapus kepercayaan lama yang membahayakan keselamatan ibu. Mereka semuanya adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Karena melahirkan bukan hanya urusan medis, melainkan hasil dari dukungan sosial, ekonomi, dan budaya yang sehat.
Pemerintah telah menunjukkan komitmen besar terhadap kesehatan ibu dan anak. Namun komitmen itu harus diterjemahkan menjadi tindakan nyata di lapangan: memperkuat puskesmas, memperbaiki sistem rujukan, memastikan tenaga medis tersebar merata, serta menjamin bahwa setiap ibu baik di gunung maupun di pantai memiliki hak yang sama untuk hidup.
Menurunkan angka kematian ibu bukan hanya soal mencapai target pembangunan berkelanjutan (SDGs), tetapi juga soal harga diri bangsa. Ibu adalah jiwa keluarga dan masa depan generasi.
Setiap ibu yang selamat adalah kemenangan bagi seluruh Timor-Leste. Karena bangsa yang menjaga ibunya, adalah bangsa yang menjaga kehidupannya sendiri.




