iklan

OPINI

Bahaya merokok serta prevalensi, faktor penentu potensial dan peluang untuk pencegahan dan pengendalian

Bahaya merokok serta prevalensi, faktor penentu potensial dan peluang untuk pencegahan dan pengendalian

Merokok. Imajen/Espesiál

Oleh : Elisa de Deus

(Mahasiswa Program Doctor Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin, Makasar, Indonesia)

Merokok bagi sebagian besar kalangan extreme anti rokok adalah salah satu alat bantu bunuh diri. Bagi mereka, cepat atau lambat merokok merupakan sumber utama dari hilangnya nyawa bagi perokok.

Merokok atau pemakaian tobaku merupakan salah satu cara mengkonsumsi zat-zat beracun yang berbahaya bagi kesehatan manusia. Zat-zat beracun berbahaya yang biasanya terdapat rokok adalah bahan pembuat aspal, bahan yang terdapat dalam bygone obat nyamuk dan bahan – bahan berbahaya lainnya.

Seperti dikutip dari berbagai sumber bahwa Rokok mengandung ribuan zat kimia berbahaya, termasuk nikotin (menyebabkan kecanduan), tar (mengandung karsinogen dan merusak paru-paru), karbon monoksida (mengurangi oksigen dalam darah), benzena, amonia, formaldehid, dan logam berat seperti arsenik dan kadmium, yang semuanya dapat menyebabkan berbagai penyakit mematikan.

Merokok tidak hanya berbahaya bagi perokok tetapi juga bagi orang yang bukan perokok. Asap rokok yang dihirup oleh ibu hamil dapat mengakibatkan berat badan lahir rendah bagi bayi yang dikandungnya bahkan jika ibu dengan suami perokok, anak mereka akan lahir dengan berat badan lahir rendah. Risiko melahirkan bayi berat badan lahir rendah dari seorang ibu dengan suami perokok adalah 56 kali dibanding ibu dengan suami bukan perokok (Conceicao Matos et all, 2010). Penelitian terhadap bahaya merokok sudah berlangsung sejak lama di berbagai Negara termasuk Timor-Leste.

Berbagai himbauan pemerintah melalui media masa baik media elektronik maupun media cetak teelah dilakukan untuk menekan angka prevalens perokok namun pada kenyataannya justru kadang terjadi sebaliknya di beberapa Negara.

Penilaian untuk mengetahui pengetahuan tentang bahaya merokok dan perilaku merokok, penggunaan tembakau, terutama merokok, memiliki angka kematian tertinggi di Amerika. Kebanyakan orang dewasa yang bergantung pada nikotin mulai merokok di usia remaja (Brooke L dkk., 2017). Perilaku merokok telah menjadi gaya hidup bagi remaja saat ini.

Merokok merupakan perilaku yang dapat membahayakan individu dan kesehatan masyarakat, karena rokok merupakan salah satu zat adiktif yang harus dihindari (Kurniasih H, Widjanarko B, 2016).

Rokok mempunyai tiga komponen utama yaitu nikotin yang menyebabkan kecanduan, tar yang bersifat karsinogenik dan karbon monoksida yang aktivitasnya sangat kuat terhadap hemoglobin, sehingga kadar oksigen dalam darah berkurang dan zat-zat kimia lainnya yang berbahaya bagi tubuh.( Nur.2021).

Timor-Leste adalah negara dengan tingkat perokok tertinggi di dunia. Setiap tahun, lebih dari 700 orang di Timor- Leste meninggal dunia akibat penyakit yang berkaitan dengan tembakau. Penyakit yang berkaitan dengan tembakau Adalah Penyebab kematian keempat yang terbanyak. Pada tahun 2020, prevalensi pengguna tembakau akibat merokok adalah 60,7% pria dewasa dan 9,4% wanita dewasa, dan di kalangan remaja berusia 13-15 tahun, sekitar 42% anak laki-laki dan 21% anak perempuan (ACT-TL, 2021).

Faktor-faktor yang memengaruhi perilaku merokok antara lain pengaruh teman, faktor kepribadian, dan pengaruh iklan (Nur, 2021). Faktor lain yang memengaruhi perilaku merokok antara lain usia 20-24 tahun dengan nilai OR 2,8, status pekerjaan (OR: 2,24), tingkat pendidikan (OR: 1,93), mendapatkan informasi dari majalah (OR: 0,78), dan akses video (OR: 1,28).

Penelitian yang lakukan oleh (Maximiano Oqui, dkk, 2022). Berdasarkan hasil penelitian yang di tersebut, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar remaja laki-laki merokok. Iklan rokok di radio dan majalah, pendapatan yang lebih rendah, dan Pendidikan yang lebih tinggi meningkatkan risiko merokok (Ferry dkk., 2019).

Faktor-faktor yang memengaruhi pengetahuan tidak hanya informasi tetapi juga pengalaman. Pemerintah Timor Leste telah berupaya memberikan edukasi tentang bahaya merokok, tetapi di kalangan anak sekola SMA tersebut belum terlaksana secara optimal.

Pendidikan kesehatan tentang bahaya merokok kepada siswa SMA belum dilakukan secara konsisten. Masalah keluarga (37,3%), kesenangan, dan memiliki kerabat yang merokok (Ali, 2018).

Persepsi yang mendukung perilaku merokok antara lain merokok membuat seseorang lebih percaya diri, terlihat lebih keren, mudah berteman, dapat meredakan stres, dan melambangkan kejantanan dan kedewasaan seseorang (Mochamad dkk., 2019).

Faktor lain yang berhubungan signifikan dengan perilaku merokok saat ini adalah status perkawinan, jenis kelamin, usia, dan daerah tempat tinggal (Ameraah dkk., 2021). Data diambil dari survei kesehatan siswa berbasis sekolah Global Timor-Leste 2015. Data siswa berusia 13-17 tahun (N= 3700) dari kelas 7-11 di seluruh sekolah di Timor-Leste dianalisis untuk studi ini.

Paparan merokok pasif (AOR = 1,57 [1,31, 1,89] dan penggunaan tembakau orang tua, AOR = 1,94 [1,54, 2,44]) secara signifikan terkait dengan penggunaan zat remaja di sekolah saat ini setelah disesuaikan dengan kovariat. Beban penyalahgunaan zat lebih berat di kalangan remaja karena mereka berisiko lebih tinggimenggunakan dan mencoba berbagai zat psikoaktif [2, 3].

Remaja umumnya menggunakan ganja, alkohol, dan tembakau [4]. Secara global, sekitar 13,8 juta anak muda (5,6% dari remaja yang bersekolah) telah menggunakan ganja [5]. Diperkirakan bahwa remaja rata-rata mengonsumsi enam liter alkohol murni per tahun [6].

Data terbaru melaporkan bahwa sembilan dari sepuluh perokok tembakau mulai merokok sebelum usia delapan belas tahun, dan 24 juta dari perokok awal ini berusia 13–15 tahun [7].

Prevalensi penyalahgunaan zat saat ini di kalangan remaja di Timor-Leste sama mengkhawatirkannya. Hasil prevalensi dari studi berbasis sekolah menunjukkan penggunaanrokok dan/atau tembakau sebesar 29,7%, penggunaan alkohol sebesar 12,5%, Abigail Esinam Adade, dkk, 2022).

Prevalensi pernah menggunakan produk tembakau adalah 40,4% (laki- laki 55,5%; perempuan 23,8%) dan penggunaan saat ini adalah 32,2% (laki-laki 45,3%; perempuan 17,9%).

Dalam regresi multivariabel logistik, faktor-faktor yang terkait dengan penggunaan produk tembakau saat ini adalah jenis kelamin laki-laki, uang saku mingguan US$1, orang tua merokok, paparan di rumah, dan paparan di lokasi lain. Temuan ini menunjukkan bahwa mengurangi penggunaan tembakau yang sangat tinggi di kalangan remaja di Timor-Leste akan memerlukan langkah-langkah kebijakan baru, peningkatan penegakan undang-undang saat ini serta komitmen yang terfokus pada kampanye pendidikan bebas asap rokok yang terarah, dan promosi kesehatan berbasis masyarakat untuk mendukung orang tua berhenti merokok dan tidak merokok di sekitar anak-anak.( João Soares Martins, dkk, 2023).

Peluang penekanan prevalens merokok di kalangan masyarakat umum yakni dengan penegakan hukum yang tidak pandang bulu, leader become a model, peningkatan harga rokok, peningkatan bea impor rokok dari Negara lain, dan pembukaan lapangan kerja yang luas sehingga masyarakat menikmati pekerjaan tanpa asap rokok.

iklan
iklan

Leave a Reply

iklan
error: Content is protected !!