iklan

KESEHATAN, HEADLINE

Perwakilan WHO Arvind Mathur : Rabies penyakit mematikan, tapi 100% bisa dicegah

Perwakilan WHO Arvind Mathur : Rabies penyakit mematikan, tapi 100% bisa dicegah

Anjing ini dibawa oleh pemiliknya untuk divaksin. Foto TATOLI/António Daciparu

DILI, 29 September 2025 (TATOLI) – Perwakilan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Timor-Leste, Arvind Mathur, menegaskan bahwa meski rabies adalah penyakit mematikan, namun penyakit ini sepenuhnya dapat dicegah melalui vaksinasi dan kesadaran masyarakat.

“Rabies menyebar sangat cepat, dan itulah mengapa tema Hari Rabies Sedunia tahun ini adalah ‘Bertindak sekarang: Anda, Saya, Masyarakat’ sangat relevan bagi Timor-Leste,” kata Arvind Mathur dalam pernyataan resminya yang dirilis dalam memperingati Hari Rabies Sedunia yang diakses TATOLI, Senin ini.

Pemerintah Timor-Leste menetapkan rabies sebagai kasus darurat kesehatan masyarakat pada Juni 2023. Kementerian Kesehatan bersama WHO bergerak cepat dengan dukungan teknis dari pusat kolaborasi WHO untuk Penelitian Rabies dan kantor regional Asia Tenggara.

WHO segera menyalurkan 6.000 dosis vaksin dan 1.000 dosis imunoglobulin rabies (RIG) pada tahun pertama, serta tambahan 10.000 dosis vaksin dan 1.000 RIG pada Agustus 2024.

Berita terkait : Kasus Rabies : Kementerian Kesehatan catat 17 orang meninggal dunia

WHO juga memfasilitasi solidaritas regional. Indonesia menyumbangkan vaksin rabies yang dikirim dari Kupang ke Dili melalui koordinasi lintas kementerian dan Kedutaan Besar Indonesia.

Tahun ini, Timor-Leste kembali meminta bantuan India melalui Kedutaan Besar India di Dili untuk mendapatkan 10.000 dosis vaksin dan 2.000 RIG tambahan.

Namun, menurutnya, vaksin hanyalah lini pertahanan pertama. Rabies adalah isu lintas sektor, sehingga perlu strategi komprehensif. WHO mendukung penyusunan Rencana Strategis Nasional Pengendalian Rabies melalui kolaborasi antara Kementerian Kesehatan, Kementerian Pertanian, serta mitra pembangunan seperti DFAT (Department of Foreign Affairs and Trade) dan DAFF (Department of Agriculture, Fisheries and Forestry).

Selain distribusi vaksin, WHO bersama Kementerian Kesehatan mengembangkan sistem stok, pelaporan, serta pelatihan tenaga kesehatan. Tim surveilans juga telah membentuk format pelaporan gigitan anjing dan kasus rabies pada manusia, yang kini menghasilkan pembaruan mingguan.

Kesadaran masyarakat juga menjadi kunci. WHO bersama Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pendidikan telah menyebarkan 90.000 pamflet, manual pelatihan untuk guru, serta memasukkan modul rabies ke dalam Paket Pelayanan Kesehatan Primer (PHCP). Anak-anak diajarkan cara menghindari anjing agresif dan pentingnya segera mencari pertolongan medis jika tergigit.

“Jika Anda tergigit anjing, segera cuci luka dengan sabun dan air selama 15 menit, lalu pergi ke pusat kesehatan. Penting untuk memulai vaksinasi secepat mungkin dan menyelesaikannya tanpa ditunda. Vaksin tersedia, tetapi hanya dapat melindungi jika dicari,” tegasnya.

Ia menambahkan, dengan bertindak bersama, individu, komunitas, dan pemerintah Timor-Leste dapat mencapai target nol rabies pada tahun 2030.

Hari Rabies Sedunia diperingati setiap 28 September sejak tahun 2007 sebagai kampanye global untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pencegahan dan pengendalian rabies.

Berita terkait : WHO dukung 10.000 dosis vaksin anti rabies ke Kementerian Kesehatan

Sementara itu, hingga Maret 2023 lalu, Timor-Leste belum pernah mencatat kematian akibat rabies. Namun, kasus pertama terjadi di Oecusse saat seorang gadis berusia 19 tahun meninggal dunia setelah digigit anjing. Dalam waktu 18 bulan, rabies telah merenggut belasan nyawa dan menyebar di tujuh kotamadya.

Sementara itu, perlu diketahui berikut tahapan cara mencegah rabies sebagai berikut :

  • Penanganan hewan peliharaan (vaksinasi rutin, pengandangan, dan pemantauan perilaku)
  • Menghindari kontak dengan hewan liar yang agresif atau tidak dikenal
  • Bertindak cepat setelah terpapar dengan mencuci luka gigitan/cakaran menggunakan sabun dan air mengalir
  • Mengoleskan antiseptik, dan segera ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan vaksinasi pasca paparan (PEP)

Reporter : Cidalia Fátima

Editor    : Armandina Moniz

iklan
iklan

Leave a Reply

iklan
error: Content is protected !!