DILI, 28 Agustus 2025 (TATOLI)— Wakil Ketua KADIN (Kamar Dagang dan Industri Indonesia) di Timor-Leste, Oktovianus Lay Khim Fa, menegaskan pentingnya Asosiasi Pengusaha Indonesia di Timor-Leste (COINTL) sebagai sarana strategis bagi pengusaha Indonesia dalam berkomunikasi, menjalin kerja sama, serta menghadapi tantangan bisnis di negara tetangga.
“Selama kami para pengusaha Indonesia berada di Timor-Leste, kini kami memiliki wadah yang bernama COINTL. Organisasi ini menjadi sarana bagi kami untuk berkomunikasi, baik di antara sesama pengusaha maupun dengan Pemerintah Timor-Leste, serta dukungan penuh dari Bapak Duta Besar RI. Mereka sangat banyak membantu kami dalam menjalankan usaha di Timor-Leste,” ujar Oktovianus Lay dalam sesi paparan pengusaha dalam Forum Bisnis Republik Indonesia (RI) –Timor-Leste (TL) dengan tema “Penguatan Kerja Sama Ekonomi Timor-Leste dan Indonesia”, yang diadakan di Pusat Konvensi Dili (CCD), Kamis (28/08).
Oktovianus Lay menambahkan, daya tarik Timor-Leste sebagai pasar tidak hanya terletak pada potensi lokal, tetapi juga karena penggunaan mata uang US Dolar. Dinamika nilai tukar rupiah menjadi faktor eksternal yang memengaruhi bisnis, di mana barang dari Indonesia menjadi relatif murah ketika rupiah melemah, dan sebaliknya lebih mahal saat rupiah menguat.
Berita terkait : Forum Bisnis TL – RI dorong investasi UMKM dan kerja sama lintas batas
“Peluang berikutnya datang dari integrasi Timor-Leste ke ASEAN, yang sudah disampaikan oleh Bapak Menteri dan juga Pak Xanana Gusmão (Perdana Menteri TL). Jika selama ini para pengusaha lebih banyak berpikir soal impor, kini saatnya mengubah pola pikir menjadi ekspor. Pasar ASEAN sangat besar, dengan jumlah penduduk sekitar 600 juta orang, jauh lebih besar dibanding pasar lokal Timor-Leste yang hanya 1,5 juta jiwa. Potensi ini harus kita manfaatkan bersama,” kata Oktovianus Lay.
Ia juga menutup paparan dengan pesan motivasi bagi para pelaku usaha. “Kuncinya jelas, peluang di sini sangat besar dan cuan. Jadi jangan patah semangat. Bagi yang belum mendapatkan mitra kerja sama atau MoU (Nota Kesepahaman), teruslah mencari. Demikian juga untuk rekan-rekan dari Timor-Leste, mari kita manfaatkan kesempatan ini agar bisa bersama-sama meraih keuntungan dan kemajuan,” katanya.
Sementara itu, Ketua CCI-TL (Kamar Dagang dan Industri Timor-Leste), Jorge Manuel de Araújo Serrano, menekankan bahwa meskipun Timor-Leste tergolong negara kecil dan baru, peluang bisnis tetap besar.
Jorge menyebutkan bahwa pemerintah kini semakin memberi perhatian pada sektor swasta dan mendorong peran aktif pengusaha.
“Bagi saya, pelaku bisnis adalah orang-orang yang berani sekaligus tepat dalam melihat kesempatan. Hambatan memang ada, terutama dalam hal birokrasi, namun pemerintah semakin mendorong peran sektor swasta. Forum ini adalah bukti nyata bahwa pemerintah ingin sektor swasta berada di garis depan pembangunan,” ujar Jorge.
Berita terkait : 80 Perusahaan Indonesia ambil bagian dalam Dili International Trade Expo 2025
Ia juga menyinggung tantangan dalam perdagangan perbatasan antara Timor-Leste dan NTT. “Dari NTT (Nusa Tenggara Timur) ke Timor-Leste produk masuk relatif mudah, tetapi sebaliknya tidak semudah itu. Hal-hal seperti ini perlu dicari solusi bersama agar ada keseimbangan antara kedua negara. Inilah tujuan forum ini, untuk membangun pemahaman dan mencari titik temu,” ujarnya.
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz




