DILI, 17 Agustus 2025 (TATOLI)— Duta Besar Republik Indonesia untuk Timor-Leste, Okto Dorinus Manik, menyampaikan kesan mendalam atas pengabdiannya selama hampir empat tahun di negara itu. Menjelang akhir masa tugasnya, Dubes Okto menyebut Timor-Leste sudah seperti rumah sendiri bagi dirinya dan keluarga.
Pernyataan tersebut disampaikan Dubes Okto usai memimpin upacara pengibaran bendera di halaman Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Dili, dalam rangka peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80.
Upacara tersebut juga menjadi yang terakhir baginya selama menjabat sebagai Duta Besar di Timor-Leste, karena masa tugasnya akan berakhir pada akhir Agustus 2025.
“Pertama saya tinggal di sini, saya merasakan kehangatan, kesejukan. Bukan hanya udara. Yang mana udaranya sudah pasti bagus lah, fresh. Tapi juga pemerintah dan masyarakat Timor-Leste sangat hangat bagi kami sekeluarga dan tim kami di KBRI dan masyarakat Indonesia ini,” ucap Dubes Okto kepada wartawan.
Ia menambahkan bahwa pengalaman bertugas di Timor-Leste meninggalkan kesan yang mendalam, terutama dalam konteks hubungan bilateral yang harmonis antara kedua negara.
“Jadi itu tidak bisa kami lupakan. Bagaimana proses rekonsiliasi itu ternyata sudah mengakar sampai ke bawah. Dan kami sendiri pemerintah Indonesia fully support untuk semua kemajuan Timor Leste,” katanya.
Selama masa tugasnya, Dubes Okto menyaksikan bagaimana kerja sama Indonesia dan Timor-Leste berkembang di berbagai bidang. Menurutnya, hubungan antara kedua negara sangat erat, baik secara resmi maupun melalui hubungan antar warga.
“Saya bersyukur hubungan Indonesia dan Timor-Leste itu sangat mesra selama kami di sini. Dan itu pastinya akan kita lanjutin terus,” tambahnya.
Ia menegaskan pentingnya menjaga persahabatan antara dua negara serumpun ini, yang sama-sama merupakan bagian dari kawasan Asia Tenggara.
“Persahabatan, dimana dalam pergaulan, dalam pekerjaan bahwa ini adalah bagian daripada keluarga besar ASEAN tentunya ya. Tadinya keluarga besar Timor, pulau Timor, tapi ini ASEAN dan kami semua fully support,” ujar Okto.
Dubes Okto juga mengapresiasi dukungan masyarakat Timor-Leste kepada komunitas Indonesia yang tersebar di berbagai distrik, termasuk para tenaga religius.
“Semua masyarakat bukan hanya dari pemerintah, masyarakat juga support. Dan ini bukan di bidang ekonomi saja, di bidang kemasyarakatan, religi. Kita itu hampir semua distrik punya susteran, pastoran,” jelasnya.
“Jadi tadi kita lihat beberapa pastor-pastor ini di setiap distrik kita ada. Dan mereka melayani dengan hati yang tulus, dengan luar biasa lah pokoknya. Keren suster-suster kami dan orang-orang Indonesia yang ada di sini. Jadi itu tentunya dukungan juga keluar masyarakat Timor-Leste kepada orang-orang Indonesia di sini,” sambungnya.
Okto Dorinus Manik resmi bertugas sebagai Duta Besar Indonesia untuk Timor-Leste sejak 25 Oktober 2021 dan menyerahkan surat kepercayaan kepada Presiden Timor-Leste saat itu, Francisco Guterres ‘Lu Olo’, pada 13 Desember 2021. Ia menggantikan Dubes Sahat Sitorus yang menjabat sejak Maret 2017 hingga September 2021.
Diplomat kelahiran Simbolon, Sumatera, pada 5 Oktober 1965 ini mengawali kiprahnya di dunia diplomasi sejak akhir 1990-an. Ia pernah bertugas sebagai Deputy Direktorat Hubungan Perdagangan Internasional (1997-1999), Sekretaris Ketiga di Kedubes Indonesia di Selandia Baru (1999-2002), dan Minister Counsellor di Kedubes Indonesia di Amerika Serikat (2013–2017).
Sebelum ditugaskan ke Timor-Leste, ia menjabat sebagai Kepala Biro Hukum dan Tata Kerja di Kementerian Luar Negeri Indonesia (2018–2021).
Timor-Leste menjadi negara pertama bagi Okto Dorinus Manik sebagai kepala perwakilan diplomatik. Ia dijadwalkan kembali ke Indonesia sebelum mendapat penugasan baru dari Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia.
Sejak kemerdekaan Timor-Leste, Indonesia telah menugaskan lima duta besar untuk negara tersebut. Dubes pertama adalah Ahmed Bey Sofwan yang dilantik pada 29 Juli 2004, diikuti oleh Eddy Setiabudhi (2009), Marcellinus Primanto Hendrasmoro (2012), Sahat Sitorus (2017), dan terakhir Okto Dorinus Manik (2021).
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz




