DILI, 15 Agustus 2025 (TATOLI) — Presiden Republik Demokratik Timor-Leste, José Ramos-Horta, menyampaikan dukungan dan solidaritas penuh kepada Pemerintah dan rakyat Republik China atas bencana banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah, termasuk Provinsi Gansu, yang mengakibatkan korban jiwa, luka-luka, dan kerusakan besar.
Hal ini dinyatakan dalam surat resmi tertanggal 14 Agustus 2025 yang ditujukan kepada Presiden Republik Rakyat China, Xi Jinping.
Presiden Ramos-Horta menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas tragedi kemanusiaan yang terjadi, seraya menegaskan bahwa Timor-Leste berdiri teguh bersama China di saat-saat sulit ini.
“Saya ingin menyampaikan belasungkawa terdalam saya kepada Anda, Pemerintah, dan rakyat China, serta solidaritas Timor-Leste selama masa duka dan kesulitan ini. Doa dan pikiran kami menyertai keluarga yang ditinggalkan, yang hilang, dan yang terluka, dan kami mendoakan mereka agar diberi kekuatan dan pemulihan yang cepat,” tulis Presiden Ramos-Horta dalam surat tersebut.
Presiden mengapresiasi kerja keras tim penyelamat dan langkah pemerintah China dalam merespons bencana serta berharap keluarga korban diberi kekuatan dan pemulihan segera.
“Kami juga mengapresiasi upaya tak kenal lelah tim penyelamat dan langkah-langkah yang diambil oleh otoritas China untuk membantu masyarakat terdampak,” ungkapnya.
Kepala Negara juga menyatakan keyakinannya bahwa ketangguhan, kesatuan, dan tekad rakyat China akan menjadi kekuatan utama dalam proses pemulihan dan pembangunan kembali wilayah-wilayah terdampak.
Bencana tersebut terjadi akibat curah hujan ekstrem selama musim “Plum Rains” pada awal Juli 2025. Menurut laporan Reuters (3 Juli 2025), hujan lebat menyebabkan banjir besar dan tanah longsor di berbagai provinsi, termasuk Sichuan, Gansu, dan Liaoning. Otoritas China menetapkan status siaga merah sebagai tingkat peringatan tertinggi di wilayah-wilayah tersebut.
Salah satu peristiwa tragis terjadi di lokasi konstruksi di Provinsi Gansu, di mana tanah longsor menewaskan sedikitnya dua orang.
Perubahan iklim disebut sebagai salah satu faktor utama yang memperparah intensitas bencana, dengan kerugian material diperkirakan mencapai $,8 triliun, termasuk dampak besar terhadap sektor pertanian dan pemukiman penduduk.
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz




