DILI, 29 Juni 2025 (TATOLI)— Musik Krontjong atau lebih dikenal Keroncong, yang telah menjadi simbol kuat identitas budaya masyarakat Kampung Tugu, Jakarta Utara, dipaparkan sebagai warisan budaya Portugis yang bertahan hingga kini, dalam Konferensi Komunitas Portugis-Asia (APCC) edisi keempat.
Dosen Senior dari Departemen Sejarah Universitas Negeri Malang, Profesor Daya Negri Wijaya, dalam presentasinya bertajuk ‘Kampung Tugu di Persimpangan Budaya Global (Abad ke-17–20)’, menjelaskan bagaimana musik dan bahasa menjadi unsur utama dalam membentuk identitas sosial masyarakat keturunan Portugis di Kampung Tugu.
“Bahasa Portugis yang digunakan dalam percakapan harian hingga ibadah, serta musik krontjong yang berkembang dari musik fado urban Portugis, merupakan manifestasi nyata hubungan emosional dan historis masyarakat Tugu dengan leluhur mereka,” ujar Profesor Daya di di Pusat Konvensi Dili (CCD), Minggu ini.
Perbedaan antara ‘Krontjong’ dan ‘Keroncong’ terletak pada ejaan dan konteks penggunaannya. Krontjong adalah ejaan Belanda untuk musik keroncong, sementara Keroncong adalah ejaan Indonesia untuk jenis musik yang sama. Musik krontjong di Kampung Tugu berasal dari musik fado, yang dibawa oleh pelaut Portugis dalam pelayaran mereka ke Asia sejak abad ke-16.
Masyarakat Tugu mengadaptasi gaya musik tersebut dengan alat musik lokal seperti rebana dan gitar, menciptakan gaya khas krontjong yang kini menjadi ikon budaya mereka. Alat musik kecil bersenar empat yang disebut cavaquinho menjadi instrumen utama dalam memainkan melodi-melodi romantis dan puitis khas krontjong.
“Kata ‘krontjong’ sendiri berasal dari bunyi ‘crong’ yang dihasilkan saat memainkan gitar,” jelas Profesor Daya.
Berita terkait : Kampung Tugu : warisan budaya Portugis yang bertahan di tengah arus globalisasi
Musik krontjong menjadi elemen penting dalam tradisi masyarakat Kampung Tugu. Salah satunya adalah tradisi rabo-rabo, yang berasal dari kata Portugis ‘rabo’ (mengikuti), di mana warga desa berkeliling menyanyikan lagu-lagu krontjong untuk mengucapkan selamat tahun baru dari rumah ke rumah.
Kegiatan ini digelar setiap 1 Januari dan biasanya diikuti oleh tradisi mandi-mandi, sebuah upacara maaf-maafan yang diawali dengan doa dan pidato tetua adat.
Melodi-melodi yang terkenal di antaranya adalah Moresco, Nina Bobo, Kafrinyu, dan Prounga. Lagu-lagu tersebut mencerminkan jejak multikultural dari musik Tugu—menggabungkan unsur Portugis, Afrika, Arab, dan Melayu dalam satu harmoni.
Setelah meninggalnya Jacob Quiko, penutur terakhir bahasa Portugis di Kampung Tugu pada tahun 1978, penggunaan bahasa Portugis hanya bertahan dalam bentuk lirik lagu-lagu krontjong. Namun, masyarakat tetap berusaha menjaga warisan tersebut melalui penampilan musik, pertunjukan tari Noni Tugu, serta lagu-lagu yang mencampurkan lirik Melayu, Belanda, dan Portugis.
Bahkan bentuk musik terbuka seperti tanjidor, yang berakar dari istilah Portugis tanger (memainkan alat musik), turut berkembang sebagai bagian dari ekspresi budaya masyarakat Tugu.
“Musik dan bahasa bukan sekadar hiburan atau alat komunikasi, tetapi merupakan medium untuk merawat ingatan kolektif dan memperkuat identitas sosial,” tutur Profesor Daya.
Kehadiran nama-nama Portugis seperti de Silva, da Costa, dan Caldero dalam keluarga Mardika (sebutan bagi keturunan Portugis di Tugu), serta pengaruh bahasa Portugis dalam kosakata Belanda dan Melayu, menunjukkan bagaimana kuatnya akar budaya ini tertanam.
Musik krontjong pun diwariskan melalui proses enkulturasi lintas generasi, menjadikannya tidak hanya sebagai hiburan tetapi juga sebagai pengingat sejarah dan warisan leluhur yang masih hidup hingga hari ini di tengah modernitas Indonesia.
Dari makanan hingga mode : cerminan identitas sosial Tugu
Di Kampung Tugu, makanan dan mode menjadi sarana penting dalam mengekspresikan identitas sosial dan budaya. Hidangan khas seperti ketan unti, kue pisang udang, apem kinca, dan pindang serani menggambarkan perpaduan kuliner Portugis, lokal, dan Betawi. Tak hanya itu, masakan Eropa seperti spaghetti, rolade, dan egg tart juga menjadi bagian dari tradisi kuliner dalam perayaan keluarga, terutama saat Natal.
Pakaian tradisional juga mencerminkan warisan budaya hybrid masyarakat Tugu. Pada masa kolonial, gaya berpakaian mereka menggabungkan elemen Portugis, Belanda, dan local, seperti blus berlengan lebar, saya (rok panjang), serta cabaia putih dengan pengaruh Eropa yang kuat. Mode ini tak hanya menunjukkan pengaruh sejarah, tapi juga menjadi identitas visual komunitas Mardika yang multikultural.
Budaya material : Gereja dan batu nisan sebagai penanda warisan
Gereja Tugu dan batu nisan di sekitarnya merupakan simbol kuat dari identitas dan memori kolektif masyarakat Tugu. Dibangun sejak abad ke-17, gereja ini menjadi pusat keagamaan dan pendidikan yang mempertahankan bahasa serta budaya Portugis, meskipun kemudian berganti menjadi bagian dari Gereja Protestan Indonesia.
Batu nisan dengan nama-nama Portugis memperlihatkan jejak sejarah leluhur dan warisan hibrida Tuguese. Tradisi menyalakan lilin di malam Natal menunjukkan kesinambungan antara iman Protestan dan akar Katolik mereka. Kompleks gereja kini juga menjadi tempat aktivitas budaya dan sosial masyarakat Tugu masa kini.
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Julia Chatarina




