iklan

INTERNASIONAL, HEADLINE

Deklarasi Dili resmikan pembentukan Asosiasi Komunitas Portugis-Asia di APCC 2025

Deklarasi Dili resmikan pembentukan Asosiasi Komunitas Portugis-Asia di APCC 2025

Perdana Menteri, Kay Rala Xanana Gusmão dan Perwakilan delegasi dari Komunitas Portugis-Asia melakukan sesi foto bersama setelah menandatangani Deklarasi Dili disela penutupan APCC edisi keempat, yang digelar di CDD, Minggu (29/06/2025). Foto TATOLI/António Daciparu

DILI, 29 Juni 2025 (TATOLI)Konferensi Komunitas Portugis-Asia (APCC) edisi keempat yang digelar di Pusat Konvensi Dili (CCD), Timor-Leste, mencatat momen bersejarah dengan diresmikannya Deklarasi Dili, yang menjadi dasar pembentukan Asosiasi Komunitas Portugis-Asia (APCA).

Deklarasi ini lahir dari semangat solidaritas dan kerja sama antar komunitas Portugis-Asia yang selama berabad-abad telah membentuk jaringan budaya dan etnis yang unik, untuk melindungi dan mempromosikan warisan mereka di tengah tantangan zaman.

APCA diharapkan menjadi badan permanen yang dapat mengoordinasikan inisiatif, memperkuat identitas budaya, serta menghubungkan komunitas-komunitas tersebut dengan lembaga, peneliti, dan mitra internasional.

Dalam pembukaan deklarasi, para penandatangan menegaskan bahwa pembentukan asosiasi ini didasarkan pada budaya bersama, dialog, serta rasa saling menghormati, sembari mengakui kekhasan setiap komunitas.

“Kami menyatakan komitmen kami untuk mencari solusi yang membawa manfaat nyata bagi setiap komunitas, sambil menghargai karakteristik unik mereka,” bunyi kutipan deklarasi tersebut.

Berita terkait : CPLP dorong pelestarian warisan Portugis-Asia sebagai strategi budaya global

Deklarasi Dili menekankan dua misi utama APCA, yakni Keberadaan dan Identitas. Misi Keberadaan fokus pada keberlangsungan komunitas sebagai entitas budaya dan etnis, sementara Identitas menekankan pada pelestarian warisan takbenda dan ekspresi budaya mereka.

Dalam aspek Keberadaan, APCA akan mengembangkan repositori pengetahuan tentang komunitas Portugis-Asia, memonitor tantangan dan peluang komunitas, mendorong advokasi hak dan martabat mereka, serta mendukung keberlanjutan ekonomi komunitas.

Sedangkan dalam aspek Identitas, asosiasi akan mendukung penelitian ilmiah tentang sejarah dan budaya komunitas, membangun bank memori digital, memanfaatkan teknologi digital untuk konektivitas dan promosi warisan, dan menyelenggarakan konferensi internasional secara reguler.

Adapaun rencana aksi yang telah disusun sangat komprehensif, mulai dari pendirian repositori digital, pemantauan data komunitas, hingga pelatihan kewirausahaan serta kampanye advokasi budaya.

Sebanyak sembilan komunitas Portugis-Asia menandatangani deklarasi ini, terdiri dari Joseph de Sta. Maria – Malaka, Malaysia; Aloysio Thurein – Bayingyi, Myanmar; Guido Quiko – Tugu, Jakarta, Indonesia; Earl Bathelot – Burgher, Sri Lanka; Sarayut Supsook – Kudichin, Bangkok, Thailand.

Honorarius Quintus Ebang – Sikka, Flores, Indonesia; Carolina Fernandes e Pó – Goa, India; Miguel de Senna Fernandes – Macanese, Makau China; António da Costa – Topasse, Oecusse, Timor-Leste serta Perdana Menteri Timor-Leste, Kay Rala Xanana Gusmão sebagai saksi dalam penandatanagan Deklarasi Dili.

Sekretaris Eksekutif Komunitas Negara-Negara Berbahasa Portugis (CPLP), Zacarias Albano da Costa dalam pidato penutupan APCC 2025 menegaskan pentingnya peran APCA sebagai bentuk konsolidasi hubungan antara komunitas Portugis-Asia dengan CPLP.

“Setelah asosiasi ini terbentuk, komunitas Portugis-Asia akan memiliki sebuah struktur permanen dengan status hukum dan dukungan sumber daya yang memungkinkan mereka bekerja sama dengan berbagai mitra dan pemangku kepentingan dari negara-negara asal anggotanya,” ungkap Zacarias Albano.

Menurutnya APCA akan menjadi wadah pertemuan bagi para pemangku kepentingan yang terlibat dan berkomitmen dalam upaya melindungi serta melestarikan warisan budaya, seni, dan nilai-nilai kemanusiaan yang dimiliki komunitas-komunitas tersebut.

Ia juga menyampaikan bahwa pusat asosiasi di Dili akan membuka peluang kerja sama yang lebih luas, baik antarnegara anggota CPLP maupun mitra internasional.

CPLP sendiri telah menjalin kemitraan dengan lebih dari 120 organisasi masyarakat sipil, termasuk dalam bentuk komite tematik dan status pengamat asosiasi bagi negara atau organisasi internasional.

Pembentukan APCA menandai langkah konkret dalam upaya pelestarian warisan budaya Portugis-Asia yang telah berusia berabad-abad. Dengan kantor pusat di Dili, asosiasi ini diharapkan menjadi jembatan kerja sama lintas batas dan lintas generasi, sekaligus menjadi suara kolektif komunitas Portugis-Asia dalam forum regional maupun internasional.

Reporter     : Cidalia Fátima

Editor          : Julia Chatarina

iklan
iklan

Leave a Reply

iklan
error: Content is protected !!