iklan

INTERNASIONAL, HEADLINE

Warisan Portugis di Thailand: Komunitas Kudichin hadirkan jejak sejarah dalam APCC 2025

Warisan Portugis di Thailand: Komunitas Kudichin hadirkan jejak sejarah dalam APCC 2025

Bendera negara Komunitas Portugis-Asia berkibar di tempat pergelaran Konferensi Komunitas Portugis-Asia (APCC) edisi keempat, di CCD, di hari pertama, Jumat (27/06/2025). Foto TATOLI/ Francisco Sony

DILI, 28 Juni 2025 (TATOLI)Dalam salah satu sesi bersejarah Konferensi Komunitas Portugis-Asia (APCC) edisi keempat, Sarayut Supsook sebagai seorang arsitek, profesor universitas, sekaligus anggota komunitas keturunan Portugis di Kudichin, Thailand mengangkat kisah mendalam tentang jejak panjang kehadiran Portugis di Siam, kini Thailand.

Dalam ceramahnya berjudul “Kehadiran Portugis di Siam”, Sarayut menelusuri akar kedatangan bangsa Portugis sejak era Kerajaan Ayutthaya sekitar 350 tahun lalu. Ia menggambarkan bagaimana komunitas Katolik Portugis pertama kali bermukim di luar benteng kota Ayutthaya, serta peran penting mereka dalam sejarah militer dan sosial Thailand.

“Awalnya mereka datang karena rempah-rempah, khususnya lada. Tapi yang ditinggalkan jauh lebih dalam: jejak budaya, arsitektur, hingga iman Katolik,” ujar Sarayut di di Pusat Konvensi Dili (CCD), Sabtu ini.

Berita terkait : APCC 2025: Karang Taruna Sikka promosikan peninggalan budaya Portugis di Pulau Flores

Setelah kejatuhan Ayutthaya, komunitas Portugis ikut menyelamatkan diri bersama Raja Thaksin, dan kemudian diberi tanah di tepi Sungai Chao Phraya di wilayah yang kini dikenal sebagai Kudichin. Di sinilah gereja Santa Cruz berdiri dan menjadi pusat kehidupan komunitas hingga kini.

Sarayut menjelaskan, meskipun komunitas ini telah lama menetap, mereka tidak memiliki hak atas tanah tersebut secara hukum.

Kami tinggal di sini, namun tanah itu milik Keuskupan Bangkok. Kami membayar sewa setiap bulan, tapi yang paling penting, kami melestarikan warisan,” ungkapnya.

Melalui proyek-proyek pelestarian seperti pendirian Museum Baan Kudichin, Sarayut dan keluarganya berjuang menyelamatkan narasi sejarah komunitas mereka. Museum ini berdiri di atas rumah keluarganya yang telah diperbaiki dan kini menjadi pusat dokumentasi budaya, kuliner, serta arsitektur masyarakat Luso-Thai.

Lebih dari sekadar tempat bersejarah, museum ini menjadi sarana edukasi, penelitian, dan penguatan identitas bagi generasi muda.

“Kami ingin anak-anak kami tahu siapa mereka. Bahwa ada jejak nenek moyang mereka di sini. Jika mereka tidak tahu, mereka akan pergi dan melupakan tempat ini,” tuturnya dengan suara bergetar.

Salah satu wujud budaya tak benda yang masih lestari hingga kini adalah kue kanom farang, kue khas komunitas Portugis-Kudichin yang dibuat dengan resep turun-temurun menggunakan bahan lokal seperti tepung beras dan telur. Tradisi seperti misa Jumat Agung dan prosesi penurunan Yesus Kristus dari salib pun tetap dijalankan setiap tahun.

Kisah komunitas ini telah menarik perhatian banyak pihak, termasuk pemerintah Thailand, peneliti internasional, hingga wisatawan asing. Kudichin kini tidak hanya dikenal sebagai salah satu kawasan tertua di Bangkok, tetapi juga sebagai lambang toleransi dan pertemuan lintas budaya antara Portugis, Thailand, Tionghoa, dan Islam.

“Warisan itu bukan hanya bangunan. Warisan adalah kehidupan yang berlanjut: musik, makanan, keyakinan, dan kisah yang diwariskan,” ujar Sarayut mengakhiri presentasinya, disambut tepuk tangan para peserta dari berbagai negara.

APCC 2025 membuktikan bahwa warisan Luso-Asia bukan sekadar masa lalu, tetapi sebuah kekuatan budaya yang terus hidup dan memberi makna lintas generasi.

Reporter     : Cidalia Fátima

Editor          : Julia Chatarina

iklan
iklan

Leave a Reply

iklan
error: Content is protected !!