DILI, 26 Juni 2025 (TATOLI)– Dua organisasi masyarakat sipil, Luta Hamutuk dan Asia Justice and Rights (AJAR), menyampaikan keprihatinan mendalam terkait dampak perang antara Iran dan Israel terhadap kondisi ekonomi dan keamanan nasional Timor-Leste.
Kedua lembaga tersebut menilai bahwa meskipun Timor-Leste tidak terlibat langsung dalam konflik, dampak tidak langsung, khususnya dalam aspek ekonomi berpotensi besar mengguncang kehidupan masyarakat.
Direktur Eksekutif Luta Hamutuk, José da Costa Alves, menegaskan bahwa konflik ini bisa memicu ketegangan global yang luas, bahkan berisiko mengarah ke Perang Dunia Ketiga. Ia menyampaikan kekhawatirannya bahwa Timor-Leste akan sangat menderita, terutama secara ekonomi.
“Jika perang ini berlangsung hingga Perang Dunia Ketiga, TL akan lebih menderita, bahkan secara ekonomi kita akan lebih terdampak. Saya tidak tahu bagaimana keadaannya nanti. Dari masyarakat sipil, kami dorong atau tantang Menteri Ekonomi kita untuk membuka diskusi publik tentang bagaimana mengumpulkan ide, untuk mencegah atau mengantisipasi masalah yang akan mempengaruhi kita,” ujar José Alves usia menghadiri peluncuran Survei Nasional TATOLI 2025 di Museum Nasional, kamis ini.
José menyoroti ketidaksiapan negara dalam menghadapi potensi krisis pangan. Ia mempertanyakan kesiapan pemerintah yang menyebutkan bahwa negara siap seperti tahun 2008, dengan mempertanyakan parameter kesiapannya.
“Kita bilang siap, tapi siap dalam aspek apa? Produksi pertanian kita saat ini tidak mencukupi, hanya cukup makan di rumah selama tiga bulan. Lebih dari itu, tidak ada. Produksi lain juga hampir tidak terlihat. Saya yakin kita akan menghadapi masalah besar yang bisa mempengaruhi keamanan nasional,” katanya.
Ia memperingatkan bahwa kekurangan pangan bisa memicu kerusuhan sosial, termasuk penjarahan toko-toko oleh masyarakat yang kelaparan. Selain itu, José juga mengkritisi penggunaan dana tanggap darurat yang menurutnya sering kali dialihkan ke proyek-proyek kementerian lain.
Sementara itu, peneliti dari Asia Justice and Rights (AJAR), Inocêncio de Jesus Xavier, juga menekankan bahwa dampak ekonomi dari perang Iran-Israel tidak bisa diabaikan, meskipun Timor-Leste tidak terlibat secara langsung.
“Sebagai negara merdeka, kita pasti akan terkena dampaknya. Kita tidak terkena bomnya, tapi kita merasakan asap bomnya melalui ekonomi. Ini adalah isu keamanan yang berhubungan dengan pergerakan transportasi laut. Jika jalur ekonomi maritim terganggu, negara kecil seperti kita akan sangat terdampak, terutama dalam sektor ekonomi,” katanya.
Inocêncio menyatakan bahwa jika Iran memblokade jalur laut utama, maka potensi kelaparan di Timor-Leste sangat mungkin terjadi karena ketergantungan negara terhadap impor.
Ia juga mengkritik kebijakan pertanian yang dinilai tidak memberikan investasi yang cukup, serta ekonomi yang belum menunjukkan arah yang jelas.
“Proyeksi pertumbuhan ekonomi sebesar 4% belum tercapai. Kita tidak tahu kapan perang akan berakhir, karena itu penting untuk mengalihkan investasi ke sektor prioritas, terutama pertanian. Sumber minyak kita juga sudah mulai mengering,” tegasnya.
Sebagai solusi jangka panjang, AJAR mendorong diversifikasi ekonomi dan peningkatan kualitas pendidikan.
“Kita harus diversifikasi ekonomi, termasuk pertanian dan pendidikan. Anak-anak muda yang dikirim ke luar negeri harus memiliki keterampilan, bukan hanya sekadar pergi,” tambah Inocêncio.
Kedua lembaga tersebut mendesak pemerintah untuk mengambil langkah strategis dan inklusif dalam menghadapi tantangan global ini, serta melibatkan masyarakat dalam proses perumusan kebijakan yang responsif terhadap krisis internasional yang berdampak lokal.
Dikutip Tatoli dari Associated Press (AP News), meskipun situasi konflik telah menunjukkan tanda-tanda mereda, dengan diumumkannya gencatan senjata sementara antara Israel dan Iran pada 23 Juni 2025 melalui mediasi Amerika Serikat dan Qatar, kondisi tetap dinilai rapuh. Kedua pihak masih saling tuding atas pelanggaran gencatan, dan belum ada perjanjian damai jangka panjang yang resmi. Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa pembicaraan lanjutan antara Iran dan Amerika akan digelar dalam waktu dekat, termasuk isu seputar nuklir dan stabilitas kawasan.
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz




