DILI, 24 Juni 2025 (TATOLI)– Kiwa Initiative, melalui proyek regional RESTORE (Restoring Ecosystems for Sustainable, Transformative and Resilient Communities), terus mendukung upaya restorasi ekosistem mangrove di empat desa pesisir Timor-Leste. Proyek ini berlangsung selama tiga tahun yang telah dimulai pada 31 Juli 2024 hingga 31 Juli 2027, dengan target restorasi mangrove pada 86 hektar (ha).
Empat wilayah yang menjadi lokasi pelaksanaan proyek meliputi Desa Batugade (10 ha), Desa Sanirin (50 ha), Desa Aidabaleten (9 ha), dan Desa Ulmera (17 ha), yang tersebar di pesisir Timor-Leste.
Dalam Lokakarya Awal Nasional, Nikheel Sharma, Manajer Senior Kiwa Initiative, menjelaskan bahwa proyek RESTORE dirancang untuk menjawab tantangan nyata yang dihadapi komunitas pesisir akibat perubahan iklim, seperti kenaikan permukaan laut, banjir, dan penurunan hasil pertanian.
“Melalui Proyek Restore, kami ingin membantu meminimalkan dampak-dampak tersebut dan bukan hanya dalam jangka pendek, tetapi juga sebagai bagian dari strategi jangka panjang. Kami berharap dapat memberdayakan masyarakat agar memiliki kapasitas dalam mengelola sumber daya alam mereka sendiri secara berkelanjutan, untuk generasi sekarang dan masa depan,” ujarnya Nikheel di Hotel Novo Turismo Lecidere, senin, selasa ini.
Menurut Sharma, proyek ini juga bertujuan memperkuat mata pencaharian lokal, mendorong pengelolaan sumber daya berbasis komunitas, serta mentransfer pengetahuan dari negara-negara Pasifik lainnya seperti Fiji dan Samoa.
Kiwa Initiative sendiri merupakan kemitraan lima negara yaitu, Prancis, Selandia Baru, Australia, Kanada, dan Uni Eropa, yang dibentuk sejak 2020 untuk mendanai proyek adaptasi berbasis ekosistem di negara-negara Kepulauan Pasifik dan sekitarnya.
Proyek RESTORE adalah satu dari sembilan proyek regional Kiwa, selain 17 proyek kecil lainnya yang saat ini berjalan di berbagai lokasi.
Sementara, Country Director untuk Conservation International Timor-Leste (CI-TL), Manuel Mendes, menekankan bahwa proyek ini merupakan hasil kerja panjang yang dimulai sejak empat hingga lima tahun lalu.
“Tidak mudah membawa dana internasional ke negara kita. Tapi dengan dukungan para donor, kita bisa mulai proyek ini demi masa depan lingkungan Timor-Leste,” jelasnya.
Ia menekankan pentingnya kolaborasi masyarakat lokal, terutama dalam konservasi mangrove yang dinilai semakin terancam. Ia menyebut bahwa lembaga mitra seperti Alola Foundation akan membentuk kelompok perempuan untuk mendukung diversifikasi ekonomi lokal, sementara organisasi KFF (Konservasaun Flora Fauna) akan dilibatkan dalam upaya konservasi dan edukasi komunitas.
“Jika hanya mengandalkan proyek jangka pendek tanpa dukungan otoritas lokal, dampaknya tidak akan berkelanjutan. Para kepala desa juga harus tahu luas wilayah mangrove yang masuk kawasan lindung,” tambahnya.
Mewakili Pemerintah, Sekretaris Negara Kehutanan, Fernandino Vieira da Costa, menyampaikan penghargaan atas dimulainya proyek RESTORE dan menegaskan bahwa restorasi mangrove merupakan prioritas nasional di bawah Program Pemerintah Konstitusional IX.
“Kami sangat menghargai komitmen mitra pembangunan yang mendukung Solusi Berbasis Alam. Ini sangat penting untuk kesejahteraan masyarakat dan kesehatan ekosistem kita,” ungkapnya.
Ia berharap proyek RESTORE dapat menjadi contoh kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, LSM, mitra pembangunan, dan masyarakat local untuk menciptakan solusi yang praktis, inklusif, dan berkelanjutan.
Proyek RESTORE diharapkan tidak hanya menjadi program konservasi jangka pendek, tetapi juga menciptakan model pemberdayaan komunitas pesisir yang berdaya tahan iklim, yang bisa direplikasi di wilayah lain di Timor-Leste.
Untuk diketahui, Restorasi hutan bakau (restorasi Mangrove) adalah regenerasi ekosistem-ekosistem hutan bakau di daerah yang sebelumnya mereka pernah ada. Restorasi dapat didefinisikan sebagai “proses membantu pemulihan suatu ekosistem yang telah terdegradasi, rusak atau hancur”.
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz




