DILI, 05 Juni 2025 (TATOLI)—Institut Nasional Kesehatan Masyarakat Timor – Leste (INSPTL), bersama Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), hari ini menyerahkan sertifikat kepada 40 tenaga medis yang telah menyelesaikan program Pelatihan Epidemiologi Lapangan (FETP) selama tiga bulan.
“Kami menyaksikan kelulusan tenaga kesehatan pertama dari Program Pelatihan Epidemiologi Lapangan. Tonggak sejarah ini tidak akan mungkin terjadi tanpa dukungan dan kolaborasi yang tidak ternilai dari mitra terpercaya kita,” kata Ketua Institut Kesehatan Masyarakat Nasional Timor-Leste, Merita Moon dalam sambutannya dalam acara penyerahan sertifikat yang diadakan di Hotel Timor Dili, Kamis ini.
Ketua INSPTL itu mengucapkan terima kasih kepada KOICA (Badan Kerjasama Internasional Korea) dan Organisasi Kesehatan Dunia atas kemitraan dan komitmen mereka yang kuat untuk memperkuat kesehatan masyarakat di Timor-Leste.
“Bimbingan teknis, dukungan yang dermawan, dan visi bersama anda telah memainkan peran penting dalam membentuk program ini dan memberdayakan petugas kesehatan garis depan dengan keterampilan yang dibutuhkan untuk mendeteksi, menanggapi, dan mencegah ancaman kesehatan masyarakat,” tuturnya.
Ia menekankan, penyerahan sertifikat bukan sekadar acara, melainkan bukti dari apa yang dapat dicapai bersama melalui kolaborasi yang bermakna dan tujuan bersama.
Merita Moon pun berharap INSP – TL dapat bekerjasama dengan KOICA, WHO dan mitra lainnya untuk memperluas kesempatan pelatihan dalam memperkuat sistem kesehatan di negara ini.
Di tempat yang sama, Perwakilan Organisasi Kesehatan Dunia di Timor-Leste, Arvind Mathur mengatakan, hari ini menandai langkah penting sebagai kelulusan pertama di negara ini untuk Program Pelatihan Epidemiologi Lapangan Garis Depan (FETP).
“Saya memuji Kementerian Kesehatan dan Institut Kesehatan Masyarakat Nasional karena memimpin inisiatif penting ini untuk memperkuat tenaga kesehatan masyarakat Timor-Leste. Kepemimpinan anda mencerminkan komitmen yang mendalam untuk membangun sistem kesehatan yang lebih kuat dan lebih tangguh bagi masyarakat Timor-Leste dengan melangkah ke peranan yang lebih menonjol dari sebelumnya,” ujar Arvind Mathur.
Dijelaskan, wabah infeksi pernapasan, demam berdarah, chikungunya, dan munculnya ancaman seperti Zika dan rabies baru-baru ini telah menggarisbawahi sebuah kebenaran bahwa Timor-Leste harus siap. Dan kesiapsiagaan dimulai dengan para profesional yang terlatih.
“Secara global, Program Pelatihan Epidemiologi Lapangan telah memperlengkapi ribuan orang untuk menghadapi tantangan kesehatan masyarakat yang kompleks. Pandemi COVID-19 telah mengingatkan dunia akan peran Anda (tenaga medis) sebagai orang pertama jika muncul krisis kesehatan. Banyak yang akan mengingat Penilaian Eksternal Bersama 2024 yang menyerukan untuk meningkatkan kapasitas epidemiologi di lapangan. Hari ini, Anda telah menyampaikan seruan itu,” jelasnya.
Ia mengatakan, dengan dukungan WHO Timor-Leste, dua pemegang beasiswa sudah menjalankan FETP Lanjutan di Universitas Gadjah Mada Jogja Indonesia, dan empat lagi akan masuk pada bulan Agustus mendatang. Investasi ini penting dan harus terus berlanjut.
WHO juga menyampaikan terima kasih kepada KOICA atas kemitraan ini dalam mendukung finansial, teknis, dan strategis untuk memperkuat kemampuan kolektif dalam mempersiapkan dan menanggapi keadaan darurat penyakit menular.
Selain itu, Direktur Eksekutif KOICA, Young Hwa Kang, mengatakan hari ini merupakan sebuah tonggak penting, dalam menyelesaikan keberhasilan gelombang pertama Program Pelatihan Epidemiologi Lapangan Garis Depan (FETP).
“Saya ingin menggunakan kesempatan ini untuk mengucapkan terima kasih kepada WHO, INSPTL, Kementerian Kesehatan, dan para peserta,” ucapnya.
Ia menjelaskan, sebagai hasilnya, keahlian mereka akan memainkan peran penting dalam menjaga kesehatan masyarakat dan memastikan intervensi tepat waktu saat dibutuhkan di tingkat kota.
Dikatakan, tenaga kesehatan yang kuat membentuk fondasi sistem pengawasan dan respons penyakit yang efektif. Oleh karena itu, program ini dirancang tidak hanya untuk memperkuat kapasitas epidemiologi di tingkat kotamadya tetapi juga untuk memberikan pengalaman praktis dalam mengatasi tantangan kesehatan masyarakat.
Reporter : Mirandolina Barros Soares
Editor : Armandina Moniz




