DILI, 07 April 2026 (TATOLI) – Menandai Hari Kesehatan Dunia, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyerukan tindakan berbasis sains yang mendesak serta penguatan pendekatan One Health untuk menghadapi risiko kesehatan yang semakin kompleks dan saling terkait.
“Ilmu pengetahuan merupakan salah satu alat terkuat umat manusia untuk melindungi dan meningkatkan kesehatan,” ujar Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO dalam siaran pers yang diakses TATOLI.
“Orang-orang di setiap negara kini hidup lebih lama dan lebih sehat dibandingkan leluhur mereka, berkat kekuatan ilmu pengetahuan. Vaksin, penisilin, teori kuman, mesin MRI, dan pemetaan genom manusia hanyalah sebagian dari pencapaian sains yang telah menyelamatkan nyawa dan mentransformasi kesehatan bagi miliaran orang,” katanya.
Hari Kesehatan Dunia, yang diperingati setiap 7 April, menandai berdirinya WHO pada 1948. Tema tahun ini, ‘Together for Health. Stand with Science’. Dimana tema tersebut menekankan pentingnya sains sebagai panduan kebijakan, kesiapsiagaan, dan aksi kesehatan masyarakat.
“Di seluruh wilayah, risiko kesehatan semakin dipengaruhi oleh variabilitas iklim, perubahan lingkungan, dan pola penyakit yang berkembang. Respon efektif memerlukan pendekatan lintas sektor berbasis sains yang kuat dengan perspektif One Health,” kata Dr. Catharina Boehme, Petugas Penanggung Jawab WHO Wilayah Asia Tengara.
Sementara itu, Arvind Mathur, Perwakilan WHO di Timor-Leste, menambahkan, “Kini kita lebih memahami bahwa kesehatan manusia terkait erat dengan kesehatan hewan, tumbuhan, dan lingkungan di sekitar kita. Melindungi kesehatan masyarakat berarti melindungi seluruh ekosistem yang kita andalkan.”
Di Timor-Leste, pendekatan One Health telah memperkuat upaya nasional untuk menangani ancaman bersama di persimpangan manusia-hewan-lingkungan.
Contoh nyata adalah respons nasional terhadap rabies, yang menyatukan Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pertanian, Peternakan, Perikanan, dan Kehutanan melalui satu gugus tugas dan menghasilkan rencana eliminasi rabies nasional.
WHO dan Kementerian Kesehatan memobilisasi lebih dari 20.000 dosis vaksin rabies manusia dan imunoglobulin rabies, sementara Pemerintah Australia mendukung pengadaan lebih dari 200.000 dosis vaksin rabies hewan.
Selain itu, Timor-Leste memperkuat respons terhadap resistensi antimikroba (AMR) melalui lensa One Health. Tinjauan tengah periode Rencana Aksi Nasional AMR telah memperbarui momentum koordinasi multisektoral, menyatukan mitra dari sektor kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.
Baru-baru ini, para pakar dari ketiga sektor menetapkan tujuan dan prioritas aksi bersama, semakin menegaskan One Health di Timor-Leste.
Menegaskan kekuatan sains, Dr. Mathur menyebutkan bahwa Timor-Leste telah mencatat serangkaian eliminasi penyakit yang luar biasa, termasuk malaria pada 2025, filariasis limfatik pada 2024, dan rubella pada 2023, sebagai kelanjutan dari keberhasilan sebelumnya terhadap campak, tetanus maternal dan neonatal, serta polio.
Hari Kesehatan Dunia tahun ini juga menjadi panggilan untuk aksi kolektif, bagi pemerintah dan institusi untuk berinvestasi dalam kebijakan berbasis sains dan pendekatan One Health, ilmuwan dan peneliti untuk menghasilkan bukti yang dapat ditindaklanjuti, tenaga kesehatan untuk memimpin praktik berbasis bukti, dan masyarakat untuk mencari informasi yang terpercaya.
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz




