iklan

EKONOMI, HEADLINE

Presiden Horta dan Gubernur BCTL bahas isu penting terkait ekonomi Timor-Leste

Presiden Horta dan Gubernur BCTL bahas isu penting terkait ekonomi Timor-Leste

Gubernur Bank Sentral Timor-Leste (BCTL), Helder Lopes bertemu Presiden Republik, José Ramos Horta di Istana Kepresidenan Nicolau Lobato, Bairru Pite, Dili, selasa (13/05). Foto Media Kepresidenan

DILI, 13 Mei 2025 (TATOLI)— Gubernur Bank Sentral Timor-Leste (BCTL), Helder Lopes bertemu Presiden Republik, José Ramos Horta. Dalam pertemuan itu, Gubernur BCTL  membahas tiga isu penting terkait perekonomian Timor-Leste dengan Kepala Negara.

“BCTL datang untuk menyampaikan informasi kepada Presiden Republik, dan membahas serta menerima arahan mengenai tiga isu penting yang berkaitan dengan perekonomian kita,” kata Helder kepada wartawan pertemuan dengan Kepala Negara di Istana Kepresidenan Nicolau Lobato, Bairru Pite, Dili, selasa ini. 

Gubernur BCTL menjelaskan isu pertama yang dibahas yaitu soal pengunaan mata uang terutama dolar AS di Timor-Leste.

“Dalam pertemuan teersebut, kami membahas dan memberi tahu Presiden Republik tentang persiapan yang sekarang BCTL lakukan tentang efek dari penggunaan mata uang pada ekonomi kita dan bagaimana prosesnya. Dalam hal ini, kami bekerja sama dengan IMF (Dana Monitarian Internasional) untuk menyimpulkan sebuah studi tentang penggunaan mata uangnya sendiri. BCTL juga bekerja sama dengan lembaga yang relevan, dengan penelitian yang telah kita lakukan. Jadi, kita harus menyiapkan peta jalan untuk melihat ke depan dan masih menggunakan dolar AS atau menggunakan mata uang kita sendiri,” kata Gubernur  BCTL Helder.

Dikatakan, Roadmap yang Timor-Leste persiapkan dalam jangka waktu yang Panjang dan Timor-Leste belum mempunyai espektasi untuk membuat perubahan pada rezim mata uang dalam jangka waktu pendek.

“Namun kita tetap mempersiapkan Roadmap sehingga dalam waktu dekat atau jangka panjang  kita dapat memenuhi persyaratan tersebut dengan mempunyai mata uang sendiri, berdasarkan studi dan kerja sama yang kami lakukan dengan lembaga internasional terutama IMF dalam konteks ini. Dimana, BCTL sampai pada kesimpulan bahwa ada lima syarat mendasar yang perlu diperhatikan Timor-Leste jika ingin memiliki mata uang sendiri kedepannya ini mengacu pada jangka waktu menengah hingga jangka panjang,” ungkapnya.

Menurut Helder jika memiliki mata uang sendiri harus memiliki konsensus nasional dalam arti bahwa para pemimpin harus datang dengan gagasan bahwa Timor-Leste harus memiliki mata uang sendiri. Karena, BCTL tidak dapat memutuskan tetapi tergantung pada para pemimpin nasional.

Timor-Leste harus memiliki cadangan mata uang sendiri di masa depan, sehingga dapat melakukan intervensi dalam kondisi pasar ketika memiliki mata uang sendiri.

“Kita juga harus memastikan bahwa dalam jangka menengah dan dalam waktu jangka panjang, kita harus mengurangi ketidakseimbangan dalam perdagangan eksternal, impor harus kita kurangi, melainkan mempromosikan ekspor sehingga mata uang yang kita perkenalkan dalam perdagangan eksternal. Harus mempertahankan aktivitas komersial kita, salah satu caranya yaitu membuat kebijakan moneter,” tuturnya.

Selain itu, di isu kedua yang dibahas tentang tugas yang ditetapkan oleh Amerika Serikat (AS) untuk ekonomi Timor-Leste. Selama diskusi, Kepala Negara juga berbagi pengalamannya dan BCTL menyajikan pengaruhnya terhadap Timor-Leste.

“Transmisi tugas yang diberikan AS kepada kita melalui tiga cara mendasar adalah transmisi yang mempengaruhi perdagangan eksternal, kita membayar 10% pajak yang berlaku untuk ekspor kita ke pasar Amerika,” jelasnya.

Menurut data dari BCTL bahwa, dalam pendapatan ekspor kopi Timor-Leste dan yang lainnya pada tahun 2024 senilai $5 juta, tetapi Timor-Leste juga harus meningkatkan ekspor ke pasar Amerika dan  harus membayar pajak sebesar 10%, karena dengan ekspor kecil ke Amerika dapat mempengaruhi perdagangan eksternal Timor-Leste.

Dilain pihak, isu ketiga yang dibahas tentang nilai dolar AS yang menurun ketika dihadapkan dengan mata uang besar, seperti Ponsterlin dan Euro.

“BCTL terus memantau dampak nilai dolar AS, kalau menghadapi Ponsterlin dan Euro implikasinya ke kita bagaimana. Tetapi, aktivitas perdagangan luar negeri kita dengan Indonesia tetap berjalan, jadi nilai dolar sekarang kuat terhadap rupiah (mata uang Indonesia) dan kita akan diuntungkan dari ini, namun kita tetap memantau untuk mengetahui dampaknya ke depan dengan peluang positifnya,” ujarnya.

Dalam pertemuan tersebut dibahas juga mengenai kinerja dana perminyakan pada kuartal pertama Januari hingga 31 Maret 2025, dimana anggaran Timor-Leste dari saldo dana perminyakan senilai $18,25 miliar dan pendapatan yang didapatkan dalam tiga bulan terakhir berjumlah $226 juta.

Reporter : Mirandolina Barros Soares

Editor    : Armandina Moniz

iklan
iklan

Leave a Reply

iklan
error: Content is protected !!