iklan

POLITIK, HEADLINE

INETL laksanakan Survei Standar Biaya Hidup 2024 di Timor-Leste

INETL laksanakan Survei Standar Biaya Hidup 2024 di Timor-Leste

Ketua Institut Statistik Nasional Timor-Leste, Elias dos Santos Fereira. Foto Tatoli/Francisco Sony

DILI, 15 juli 2024 (TATOLI)— Pemerintah Timor-Leste melalui Institut Statistik Nasional Timor-Leste (INETL) telah melaksanakan Survei Standar Biaya Hidup Timor-Leste  ke-IV (TLSLS-4). Survei tersebut merupakan  rangkaian dari survei nasional yang  representatif  dilakukan untuk mengukur standar hidup masyarakat Timor-Leste.

Ketua INETL, Elias dos Santos Fereira mengatakan, pemerintah dan pemangku kepentingan sejauh ini hanya menggunakan data dari TLSLS-3, yang dilaksanakan pada tahun 2014.

“Karena itu, TLSLS-4 yang telah dilaksanakan oleh INETL perlu dilaksanakan dan  20 peneliti resmi INETL, telah mengambil data taraf hidup masyarakat april hingga september 2024. Berdasarkan data tersebut terdapat 250.000 rumah tangga namun kami hanya mengambil 7.500 rumah tangga saja dan saat ini lebih dari 53 % data yang telah terkumpul,” kata Ketua INETL, Elias dos Santos Fereira pada Tatoli, di Kantornya Caicoli Dili, senin ini.

Disebutkan, setelah mengumpulkan data, akan disusun dan dianalisis dan segera diluncurkan pada tahun 2025. “Semoga TLSLS-4, akan menurunkan jumlah standar biaya hidup di Timor – Leste.” Katanya.

Menurutnya, hasil TLSLS akan digunakan untuk mendukung pengentasan kemiskinan, mengembangkan sistem pemantauan kemiskinan, mendukung pemetaan kemiskinan, menimbang ulang Indeks Harga Konsumen (IHK) dan menginformasikan Sistem Neraca Nasional tentang pengeluaran konsumsi rumah tangga.

“TLSLS-4 akan sangat penting untuk mengukur kemiskinan di negara ini, yang akan membantu pemerintah dan mitra pembangunan untuk merancang kebijakan dan program yang tepat untuk pengentasan kemiskinan di negara ini,” ujarnya.

Dikatakan, tiga langkah mendasar yang akan digunakan dalam TLSLS-4 untuk mengukur kemiskinan di Timor-Leste yaitu :

  1. Total pengeluaran konsumsi per kapita yang digunakan untuk mengukur kesejahteraan
  1. Indeks angka kemiskinan dihitung sebagai proporsi total penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan
  1. Jumlah penduduk masyarakat kurang mampu yang berada di bawah garis kemiskinan juga dinyatakan dalam pengeluaran konsumsi per kapita, ditentukan sebagai nilai moneter dari pola makan 2.100 kalori per hari
  1. Tinggal di rumah dengan dua kamar
  1. Sanitasi yang layak dan akses terhadap listrik
  1. Tingkat konsumsi barang dan jasa non-makanan yang sesuai

Menurut TLSLS-3 yang dilakukan pada tahun 2014, mengenai garis kemiskinan nasional, proporsi masyarakat Timor yang hidup dalam garis kemiskinan telah menurun dari 50% pada tahun 2007 menjadi sekitar 42,8% pada tahun 2014.

Garis Kemiskinan Mempunyai Tiga Komponen yaitu Garis Kemiskinan Makanan/pangan, Garis Kemiskinan Sewa, Garis Kemiskinan Non Makanan dan Garis Kemiskinan Non Sewa.

Garis kemiskinan pangan mencerminkan biaya makanan sebesar 2.100 kalori per orang. Garis kemiskinan sewa didasarkan pada berapa biaya untuk menyewa rumah dasar yang memiliki dua kamar, dinding luar yang bagus, sanitasi yang layak, dan akses listrik. Sementara, Garis kemiskinan non-makanan dan non-sewa adalah jumlah minimal pengeluaran yang diperlukan untuk membeli kebutuhan pokok lainnya.

Perkiraan kemiskinan ini memberikan ukuran yang paling akurat di Timor-Leste berdasarkan kondisi setempat, namun tidak dapat dibandingkan secara langsung dengan tingkat kemiskinan di negara-negara lain.

TLSLS-3 menggambarkan bahwa pada tahun 2014, hanya kurang dari 42% penduduk yang hidup dalam garis kemiskinan di Timor-Leste. Walaupun jumlah ini masih cukup besar dalam jumlah penduduk, namun hal ini menunjukkan kemajuan yang relatif baik. Angka kemiskinan telah berkurang hampir 9 poin persentase dari 50,4% pada tahun 2007.

Reporter : Mirandolina Barros Soares

Editor     : Armandina Moniz

iklan
iklan

Leave a Reply

iklan
error: Content is protected !!