DILI, 6 Januari 2022 (TATOLI) – Sekretariat Negara urusan Lingkungan Hidup (SEA), melalui Direktorat Keanekaragaman Hayati Nasional dan Perusahaan Jepang, Nimura Genetic Solutions, menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk melakukan penelitian Sumber Daya Keanekaragaman Hayati (SDKH) di TL.
Sekretaris Negara urusan Lingkungan Hidup, Demétrio do Amaral de Carvalho, mengatakan, penandatanganan ini berkaitan dengan TL sebagai negara yang kaya akan keanekaragaman hayati, tetapi masih belum memasarkan sumber daya yang ada dengan baik.
“Kerja sama dengan Perusahaan Nimura Genetic Solutions akan memberikan kondisi bagi TL untuk memperkuat kerjasama dalam eksploitasi keanekaragaman hayati. Kerjasama juga akan membantu melakukan penelitian tentang potensi sumber daya genetik dan mempromosikan keanekaragaman hayati TL di pasar bioprospecting”, katanya.
Dikatakan, tujuan lain dari perjanjian merupakan kelanjutan dari proyek. Karena, sebelumnya, Direktorat Nasional Keanekaragaman Hayati telah menerima anggaran dari Dana Global untuk Lingkungan, dalam lingkup proyek Shared Access of Benefit (ABS).
“Anggarannya berasal dari Global Fund for the Environment, sebesar $1,3. Dana itu diterima bagian Direktorat Nasional Keanekaragaman Hayati sejak tahun lalu, dan proyek ini akan berlanjut hingga 2024. Saya berharap, dalam empat tahun, kita bisa mengkapitalisasi industri ini di pasar bioprospecting”, tambahnya.
Anggota pemerintah itu juga menginformasikan bahwa, sejak TL meratifikasi konvensi keanekaragaman hayati pada 2006, Pemerintah belum mengkapitalisasi sumber dayanya dengan baik.
Sementara itu, Ketua Perusahaan Nimura Genetic Solutions, Sathosi Nimura, menyampaikan kepuasannya atas penandatanganan yang dilakukan. Dia menilai TL adalah negara dengan potensi besar dalam keanekaragaman hayati dan sumber daya genetik.
“Tanda tangan ini akan memperkuat kerja sama untuk membantu TL lakukan penelitian sumber daya genetik dan mendokumentasikan kekayaan keanekaragaman hayati. Ini juga akan membantu TL memastikan tidak adanya orang asing mencuri sumber daya keanekaragaman hayatinya”, ungkapnya.
Reporter : Afonso do Rosario
Editor : Maria Auxiliadora (penerjemah : Armandina Moniz)




