iklan

POLITIK, INTERNASIONAL, DILI, HEADLINE

CN12 minta abu Max Stahl ditaburkan di Santa Cruz

CN12 minta abu Max Stahl ditaburkan di Santa Cruz

Max Stahl. Foto google

DILI, 08 november 2021 (TATOLI)– Ketua Komite Nasional 12 November (CN12 – Comité Nacional 12 de Novembro), Gregorio Saldanha meminta kepada pemerintah Timor-Leste (TL) agar bisa menaburkan abu mendiang Max Stahl di Pemakaman Santa Cruz. Karena, peringatan 12 november tahun ini tanpa kehadiran  Max Stahl yang telah wafat pada 28 oktober 2021 lalu.

“Dia adalah pahlawan yang sesungguhnya. Tahun ini kita peringati 12 November tanpa Max Stahl. Jadi, kita ingin agar abunya ditaburkan di Santa Cruz,” ungkap Gregorio Saldanha usai menghadiri Seminar Nasional tentang Tragedi 12 November yang diselenggarakan   Yayasan Aquito Tanque da Guerra di Aimutin, senin ini.

Berita  terkait : Max Stahl tutup usia, PR Lú Olo sampaikan belasungkawa

Menurutnya, Max adalah bagian dari sejarah TL yang harus dihargai perjuangannya dan sebagai salah satu yang ikut berpartisipasi. CN12 sangat merasa kehilangan karena beliau adalah bagian dari Tragedi Santa Cruz.

Pejuang TL dan Wartawan Ingris Max Sthal, telah menghembuskan nafas terakhirnya pada kamis, 28 oktober sekitar pukul 4:30   di Rumah Sakit Princess Alexandra di Brisbane – Australia setelah berperang melawan penyakit kanker.

Pada 12 Nopember tahun 1991 Max Stahl memotret prosesi pemakaman Dili yang berubah menjadi demonstrasi damai menentang pendudukan Indonesia di Timor-Timur. Tentara Indonesia akhirnya menggunakan kekerasan terhadap pengunjuk rasa di pemakaman Santa Cruz.

Berita  terkait : PM Taur konfirmasi keluarga ingin abu Max Stahl dibawa ke TL

Sedikitnya 271 orang tewas dan 270 lainnya menghilang.  Max Stahl memfilmkan insiden itu. Salah satu fotonya, yang memperlihatkan Leví Bucar Côrte-Real yang terluka dalam pelukan pria lain, menjadi model untuk tugu peringatan pembantaian Santa Cruz di Dili.

Laporan Max Stahl membuat publik dunia sadar akan perang yang terlupakan di Timor Timur. Publikasi tersebut menyebabkan kemarahan besar di seluruh dunia.

Pada tahun 1999 Max Stahl kembali bekerja di TL  ketika negara tersebut memilih untuk merdeka dari Indonesia dalam sebuah referendum dan gelombang kekerasan terakhir melanda negara tersebut.

Laporan Max Stahl tentang pembunuhan dan pengusiran adalah salah satu alasan PBB mengirim pasukan intervensi internasional INTERFET dan mengambil alih Timor Timur. Max Stahl masih dikenal sampai sekarang dengan nama Max Stahl di TL.

Max Stahl telah tinggal di TL sejak tahun 2003, di mana ia  memiliki perusahaan produksinya sendiri, Centro Audiovisual Max Stahl Timor-Leste (CAMSTL), dan terus bekerja sebagai jurnalis. Dengan materi film 3500 jam, CAMSTL juga berfungsi sebagai arsip sejarah TL dan pusat pelatihan pembuat film TL. Dokumen arsip kemerdekaan TL dimasukkan oleh UNESCO pada tahun 2013 sebagai warisan dokumen dunia.

Pada 22 November 2019 Max Sthal menerima penghargaan tertinggi  ‘Grande Colar da Ordem Timor-Leste’ dari Presiden Republik TL, Francisco Guterres Lú Olo. Pada 9 Desember 2019, Parlemen Nasional TL juga memberikan kewarganegaraan pada Max Sthal.

Reporter : Cidalia Fátima

Editor     : Armandina Moniz

 

 

iklan
iklan

Leave a Reply

iklan
error: Content is protected !!