iklan

SOSIAL INKLUSIF

24 tahun Restorasi Kemerdekaan, Gereja serukan pemimpin layani rakyat dengan rendah hati

24 tahun Restorasi Kemerdekaan, Gereja serukan pemimpin layani rakyat dengan rendah hati

Misa Syukur memperingati 24 tahun Restorasi Kemerdekaan Timor-Leste yang berlangsung di Gereja Katedral Dili, Selasa (19/05), dipimpin Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Dili, Pastor Graciano Santos Barros. Foto TATOLI/Antonio Daciparu

DILI, 19 Mei 2026 (TATOLI) — Gereja Katolik melalui Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Dili, Pastor Graciano Santos Barros, menyerukan kepada para pemimpin nasional agar menjalankan tanggung jawab kepemimpinan dengan rendah hati, adil, dan mengutamakan kepentingan rakyat demi memperkuat persatuan dan masa depan Timor-Leste.

Seruan tersebut disampaikan dalam Misa Syukur memperingati 24 tahun Restorasi Kemerdekaan Timor-Leste yang berlangsung di Gereja Katedral Dili, Selasa (19/05), dan dihadiri Perdana Menteri, Kay Rala Xanana Gusmão, anggota Pemerintah, otoritas sipil dan militer, serta umat Katolik.

Dalam homilinya yang mengacu pada Injil Yohanes 15:9-17, Pastor Graciano mengatakan bahwa kemerdekaan Timor-Leste lahir dari semangat persatuan, pengorbanan, dan kasih antar sesama rakyat Timor-Leste.

“Tidak ada bangsa yang dapat hidup sejahtera jika rakyatnya saling terpecah. Ketika Yesus mengajak kita tinggal dalam kasih-Nya, Ia memanggil kita untuk hidup dalam persatuan, saling menghormati dan menghargai keberagaman,” ujar Pastor Graciano.

Menurutnya, persatuan nasional yang telah dibangun sejak perjuangan kemerdekaan harus terus diperkuat di antara institusi negara, para pemimpin politik, kekuatan sipil dan militer, serta seluruh masyarakat. Ia menegaskan bahwa keberagaman budaya dan bahasa di Timor-Leste harus menjadi kekuatan dalam membangun bangsa, bukan sumber perpecahan.

Pastor Graciano juga mengingatkan para pejabat publik bahwa kekuasaan bukanlah hak istimewa, melainkan bentuk pelayanan kepada rakyat.

Perdana Menteri, Xanana Gusmão didampingi oleh anggota pemerintah dan Pastor Graciano Santos Barros dan para umat meletakkan bunga di area pantai Farol Dili dalam rangka memperingati HUT Restorasi kemerdekaan ke – 24 pada 20 Mei 2026. Foto TATOLI/Antonio Daciparu

“Kekuasaan bukan privilese, tetapi pelayanan. Kekuasaan bukan tempat untuk mencari keuntungan pribadi, melainkan sebuah tanggung jawab di hadapan Tuhan dan rakyat,” tegasnya.

Ia turut menyerukan pentingnya melanjutkan semangat pengorbanan para pahlawan nasional melalui perjuangan melawan korupsi, mengutamakan kepentingan bangsa, dan bekerja dengan dedikasi demi masa depan negara.

Selain itu, Gereja juga menekankan pentingnya keadilan sosial sebagai dasar terciptanya perdamaian dan kepercayaan masyarakat terhadap negara.

“Tanpa keadilan tidak akan ada perdamaian sejati. Keadilan adalah fondasi bagi kredibilitas negara dan kepercayaan rakyat,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Pastor Graciano turut mendorong Pemerintah agar terus berinvestasi secara serius di sektor pendidikan dan kesehatan publik untuk menjamin masa depan rakyat Timor-Leste.

Ia menilai pendidikan menjadi jalan penting untuk membebaskan masyarakat dari kebodohan dan ketergantungan, sekaligus membangun martabat manusia dan masa depan bangsa.

Menutup homilinya, Gereja mengajak seluruh rakyat Timor-Leste untuk memperbarui komitmen terhadap tanah air dengan memperkuat persatuan, saling menghormati, serta bekerja bersama demi menciptakan negara yang adil, kuat, dan inklusif.

Usai misa, Pastor Graciano bersama anggota Pemerintah melakukan penghormatan kepada para pahlawan nasional dengan meletakkan karangan bunga di Bundaran Nicolau Lobato, Farol Dili, serta di Taman Makam Santa Cruz.

Reporter : Cidalia Fátima

Editor    : Armandina Moniz

 

iklan
iklan

Leave a Reply

iklan
error: Content is protected !!