DILI, 15 April 2026 (TATOLI) – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengungkapkan, putaran kedua perundingan damai dengan Iran kemungkinan akan segera digelar di Pakistan dalam dua hari ke depan.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump dalam sesi wawancara virtual dengan jurnalis The New York Post yang berada di Islamabad, Pakistan, pada Selasa (14/4/2026) waktu setempat. Diperkirakan, putaran kedua perundingan damai antara AS dan Iran akan digelar pada Kamis (16/4/2026) ,setelah kedua pihak menemui kebuntuan dalam pertemuan pertama pada Sabtu (11/4/2026) hingga Minggu (12/4/2026).
“Sebaiknya kalian tetap di sana karena sesuatu mungkin akan terjadi dalam dua hari ke depan, dan kami lebih cenderung untuk pergi ke sana,” kata Trump. Dia menambahkan bahwa Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan Marsekal Lapangan Asim Munir melakukan pekerjaan hebat dalam mengatur pembicaraan tersebut.
“Dia fantastis, dan karena itu kemungkinan besar kita akan kembali ke sana,” kata Trump. Meski memberikan sinyal hijau terkait kelanjutan diplomasi, Trump memastikan bahwa dirinya tidak akan terlibat secara langsung dalam pertemuan tersebut.
Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi mengenai siapa yang akan mewakili delegasi AS, sebagaimana dilansir The New York Times.
Rencana perundingan baru ini muncul setelah perundingan tertutup selama 16 jam yang dipimpin oleh Wakil Presiden AS JD Vance di Pakistan pada akhir pekan lalu berakhir tanpa kesepakatan.
Presiden AS JD Vance meninggalkan lokasi pada Minggu pagi lebih awal dari jadwal semula. Dilansir dari Reuters, pihak AS bersikeras pada sejumlah poin krusial, yakni penghentian seluruh pengayaan uranium Iran dan pembongkaran fasilitas nuklir utama. Washington juga menuntut Teheran untuk membuka penuh Selat Hormuz tanpa pungutan biaya biaya, serta menghentikan pendanaan untuk kelompok proksi regional.
Sebaliknya, Iran mengajukan tuntutan yang mencakup gencatan senjata permanen yang terjamin, serta pencabutan sanksi primer dan sekunder. Iran juga mendesak pencairan aset-aset yang dibekukan serta pengakuan hak pengayaan uranium, dan kendali atas Selat Hormuz.
Sebelumnya, pada 07 April, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan gencatan senjata dengan Iran, yang akan berlangsung dari kedua pihak, selama dua minggu.
“Berdasarkan percakapan dengan Perdana Menteri Shehbaz Sharif dan Marsekal Lapangan Asim Munir, dari Pakistan, dan di mana mereka meminta agar saya menahan kekuatan penghancur yang dikirim malam ini ke Iran, dan dengan syarat Republik Islam Iran menyetujui PEMBUKAAN SELAT Hormuz SECARA LENGKAP, SEGERA, dan AMAN, saya setuju untuk menangguhkan pemboman dan serangan terhadap Iran selama dua minggu,” tulis Trump di media sosialnya.
“Ini akan menjadi gencatan senjata dua arah,” kata Trump.
Gencatan senjata dua arah itu dihentikan untuk menuju ke pertemuan dua negara yang diakan difasilitasi oleh Pakistan.
Sehingga pertemuan yang difasilitasi oleh Mediator dari Pakistan untuk pertemuan antara Amerika Serikat dan Republik Islam Iran itu dilakukan di Islamabad, pada Sabtu (11/04) waktu setempat. Namun, pertemuan tersebut belum mencapai kesepakatan.
Untuk diketahui, Perang Iran dimulai ketika AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari. Teheran membalas dengan serangan balasan terhadap Israel dan negara-negara Teluk yang memiliki pangkalan AS. Perang ini telah mengguncang pasar global dan menaikkan harga minyak.
TATOLI kutip dari New York Times, Reuters, Xinhua




