DILI, 17 April 2026 (TATOLI)— Manajemen Pelican Paradise menyatakan tidak ingin berkomentar terkait instruksi pemerintah yang meminta perusahaan tersebut mengosongkan lokasi proyek dalam waktu 10 hari.
Project Manager Pelican Paradise, Osvaldo Boavida, dalam keterangan yang disampaikan secara daring kepada TATOLI menegaskan bahwa pihak perusahaan memilih tidak memberikan tanggapan atas keputusan tersebut.
“Selamat pagi! Konfirmasi sudah disampaikkan PM (Perdana Menteri). Dari pihak perusahaan maupun saya tidak akan memberikan komentar. Saat ini keputusan berada di tangan pimpinan (Pemerintah). Terima kasih,” demikian isi pesan yang disampaikan melalui aplikasi WhatsApp.
Berita terkait : Pemerintah beri waktu 10 hari bagi Pelican Paradise kosongkan lokasi
Sebelumnya, Perdana Menteri, Kay Rala Xanana Gusmão, mengatakan pemerintah telah mengambil keputusan tegas untuk memberikan waktu 10 hari kepada Pelican Paradise untuk mengosongkan lokasi proyek di kawasan Tibar.
Keputusan tersebut diambil melalui resolusi pemerintah yang menugaskan Wakil Perdana Menteri, Francisco Kalbuadi Lay, untuk berkomunikasi dengan pihak perusahaan guna menyepakati batas waktu tersebut.
Menurut Xanana Gusmão, langkah ini bertujuan membuka peluang bagi investor lain untuk memanfaatkan kawasan tersebut, terutama dalam mendukung persiapan Timor-Leste sebagai tuan rumah KTT ASEAN 2029.
Ia juga menegaskan bahwa pemerintah telah memenuhi berbagai permintaan perusahaan, termasuk penyediaan listrik dan air bersih di kawasan proyek.
Proyek Pelican Paradise merupakan investasi besar dengan nilai sekitar US$700 juta yang mencakup pembangunan resor bintang lima, lapangan golf, kawasan residensial, serta fasilitas komersial di wilayah Tasi-Tolu hingga Tibar.
Berita terkait : Pemerintah siap batalkan investasi Pelican Paradise di Tibar
Namun sejak disetujui pada 2018, proyek tersebut belum menunjukkan perkembangan signifikan, sehingga memicu pertimbangan pemerintah untuk mengambil langkah lebih lanjut terhadap kelanjutan proyek tersebut.
Reporter: Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz




