BOBONARO, 16 Oktober 2025 (TATOLI) – Evan Shackleton, putra mendiang jurnalis Greg Shackleton, salah satu korban Tragedi Balibo, berbicara dari lubuk hatinya tentang duka, cinta, dan pencarian kebenaran yang telah mengiringi hidupnya selama puluhan tahun.
“Namun, saya tidak bisa berbicara mewakili mereka atau mewakili siapa pun. Kita semua berbeda, dan kita semua punya suara masing-masing. Saya hanya bisa mengungkapkan perasaan saya,” kata Evan, mengenang hari kelam 16 Oktober yang selalu terasa berat baginya.
Dalam peringatan 50 tahun Balibo Five di Bobonaro, Kamis ini ia mengatakan “Saya tidak pernah tahu bagaimana perasaan saya ketika bangun tidur, dan saya tidak pernah benar-benar tahu apa yang akan saya lakukan”.
Dalam kesedihannya, Evan sering mencoba menghadirkan kenangan manis bersama ayahnya.
“Kadang-kadang, saya mendengarkan musik yang dulu kami nikmati bersama. Saya masih menyimpan beberapa piringan hitamnya. Kadang-kadang, saya menonton film yang ia ajak saya tonton di bioskop. Dan, sayangnya, kadang-kadang saya hanya minum-minum sampai tertidur”.
Namun, di tengah kesedihan itu, Evan juga menyampaikan penghormatan kepada keluarga Balibo Five dan rakyat Timor-Leste.
“Rasa duka yang kita rasakan bersama terasa di antara kita semua. Kisah saya mungkin lebih kecil daripada kisah rakyat Timor-Leste, tetapi saya ingin menyampaikan rasa terima kasih saya yang sebesar-besarnya kepada rakyat Timor-Leste, khususnya rakyat Balibó, yang telah bersusah payah memperingati momen ini. Saya sungguh terharu,” jelasnya.
Evan menegaskan pentingnya peran masyarakat Timor-Leste dalam menjaga ingatan dan martabat ayahnya.
“Saya harap jenazah ayah saya berada di suatu tempat di Balibó. Rakyat Timor-Leste, khususnya rakyat Balibó, adalah satu-satunya yang saya percayai untuk menjaga jenazahnya dengan aman. Anda adalah penjaga jenazah ayah saya yang sempurna, dan saya sangat berterima kasih,” ucapnya dengan haru.
Perasaan Evan kini bercampur antara kesedihan dan penghargaan.
“Rambut saya sudah mulai beruban sejak saat itu. Namun, hari ini sungguh luar biasa dan istimewa. Di Australia, saya tidak pernah benar-benar tahu bagaimana perasaan saya nanti. Terkadang saya merasa sangat sedih, kadang saya mencoba merayakan kehidupan ayah saya. Hari ini, saya merasakan cinta kasih rakyat Timor-Leste,” katanya.
Dalam wawancara terakhir, Evan menyampaikan pesan penting bagi pemerintah Timor-Leste dan Australia.
“Sudah saatnya kita mulai mengatakan kebenaran tentang peristiwa ini, dan sudah saatnya kita mulai melakukan apa yang adil bagi masyarakat yang terdampak. Sangat disayangkan saya harus merasa sangat malu dengan pemerintah saya. Dan saya tidak merasa malu untuk hal lain,” pungkasnya
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz




