iklan

INTERNASIONAL

John Martinkus tutup usia, Ramos-Horta: “Jurnalis paling berani yang pernah ada”

John Martinkus tutup usia, Ramos-Horta: “Jurnalis paling berani yang pernah ada”

John Martinkus. Foto The Mercury

DILI, 15 September 2025 (TATOLI)– John Martinkus, jurnalis asal Australia yang dikenal karena pelaporan berani dari zona konflik, termasuk Timor-Leste, meninggal dunia di rumahnya di Melbourne pada 14  September 2025. Berita ini pertama kali dikonfirmasi oleh keluarga mendiang.

Mendengar kabar tersebut Presiden Republik Demokratik Timor-Leste, José Ramos-Horta, dalam laman resminya menyampaikan duka mendalam atas wafatnya salah satu Jurnalis terkemuka tersebut.

“John Martinkus telah meninggal dunia. Tahun lalu saya menganugerahkan penghargaan Ordem de Timor-Leste kepadanya atas keberaniannya melaporkan situasi di Timor-Leste pada 1999. Salah satu jurnalis paling berani yang pernah ada. Sungguh sebuah kehilangan,” ujar Ramos-Horta.

Kehilangan John Martinkus menjadi duka mendalam bagi komunitas jurnalis internasional dan sahabat-sahabatnya di Timor-Leste, yang mengenang dedikasi dan keberaniannya dalam melaporkan kebenaran dari wilayah konflik.

Dalam wawancara dengan TATOLI, jurnalis senior dan sahabat John Martinkus, José Belo, mengenang mendiang sebagai sosok yang berani dan berdedikasi.

“John meninggal dalam kondisi tertidur. Dia sakit dan telah menjadi jurnalis selama bertahun-tahun, menempuh banyak zona konflik. Sebelum berada di Timor-Leste antara 1995 hingga 1999, satu-satunya jurnalis yang tinggal di Timor hanyalah dia dan Max Stahl. Akhirnya, dia dievakuasi ke Australia bersama para pengungsi,” kata José Belo secara daring pada TATOLI, Senin ini.

Ia menambahkan bahwa Martinkus dikenal dekat dengan masyarakat Timor-Leste. “Saya mengenalnya sejak Desember 1996 ketika dia mewawancarai Pejuang Kemerdekaan David Alex. Dia tinggal bersama kami hampir seminggu, bersembunyi di Wailili, dan merayakan Tahun Baru bersama. Setelah perang, dia juga meliput di Aceh, Papua Barat, Afghanistan, dan Irak. Pernah diculik di Irak, dia berhasil lolos. Kami merencanakan menulis buku kedua tentang Timor, tapi sayangnya rencana itu tak kesampaian,” ujarnya.

Jurnalis senior Rosa Garcia juga menyampaikan kesedihannya melalui media sosial. “Terkejut rasanya melihat kabar duka ini. John Martinkus bukan hanya sahabat, tetapi juga seperti keluarga. Dia mendukung perjuangan kemerdekaan kami melalui liputannya dan selalu hadir saat dibutuhkan,” tulisnya.

Martinkus dikenal luas karena liputannya di Timor-Leste yang saat itu diduduki Indonesia pada tahun 1995 hingga 2000. Laporan-laporannya untuk Associated Press turut memengaruhi keputusan komunitas internasional mengirim pasukan penjaga perdamaian PBB pada akhir 1999 setelah kekerasan militer Indonesia pasca-referendum kemerdekaan.

Selain Timor-Leste, Martinkus melaporkan konflik di Papua dan Aceh, Afghanistan, Irak, serta Palestina. Pada Oktober 2004, ia diculik di Baghdad oleh kelompok pemberontak Sunni dan dibebaskan 24 jam kemudian setelah statusnya sebagai jurnalis diverifikasi melalui internet.

Martinkus juga menulis sejumlah buku penting, di antaranya A Dirty Little War (2001), Paradise Betrayed: West Papua’s Struggle for Independence (2002), Indonesia’s Secret War in Aceh (2004), Travels in American Iraq (2004), Lost Copy: The Endless Wars: Iraq and Afghanistan (2017), dan The Road: Uprising in West Papua (2020).

Lahir di Melbourne pada 1969, Martinkus menempuh studi hubungan internasional di Universitas La Trobe dan sempat belajar bahasa Rusia di Moskow sebelum menekuni jurnalisme konflik.

Reporter : Cidalia Fátima

Editor     : Armandina Moniz

iklan
iklan

Leave a Reply

iklan
error: Content is protected !!