iklan

EKONOMI, HEADLINE

Indonesia hadirkan ahli latih Penyuluh Pertanian hadapi serangan hama Ulat Grayak 

Indonesia hadirkan ahli latih Penyuluh Pertanian hadapi serangan hama Ulat Grayak 

Foto bersama disela-sela Pelatihan bertajuk “Training on Fall Armyworm Control for Agricultural Extension Officers of Timor-Leste” yang berlangsung selama lima hari di Institut Perikanan dan Akuakultur Nasional (INPA), Maubara, Liquiçá. Foto Tatoli/Cidalia Fatima

LIQUIÇÁ, 28 Juli 2025 (TATOLI)– Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertanian mengirimkan sembilan ahli untuk memberikan pelatihan intensif kepada sekitar 35 penyuluh pertanian dari seluruh wilayah Timor-Leste, guna memperkuat kapasitas dalam menghadapi serangan hama ulat grayak (Fall Armyworm) yang semakin meluas.

Pelatihan bertajuk “Training on Fall Armyworm Control for Agricultural Extension Officers of Timor-Leste” berlangsung selama lima hari di Institut Perikanan dan Akuakultur Nasional (INPA), Maubara, Liquiçá.

Program ini merupakan bagian dari kerja sama teknis antara kedua negara dan merupakan respons strategis atas permintaan Pemerintah Timor-Leste kepada Indonesia dalam mendukung pengendalian wabah hama yang telah memengaruhi ribuan hektar tanaman jagung.

Acara pembukaan dan penyerahan bantuan dilakukan secara resmi pada Senin, 28 Juli 2025. Dalam sambutannya, Konselor Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI), Banga Malewa, menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan wujud konkret dari komitmen Indonesia dalam mempererat hubungan bilateral serta membantu pembangunan sektor pertanian Timor-Leste.

“Kehadiran kita bersama pagi ini merupakan simbol kuat dari kolaborasi yang saling menguntungkan. Pelatihan ini menjadi awal dari berbagai bentuk dukungan berkelanjutan dari Indonesia bagi Timor-Leste,” kata Banga Malewa di Aula INPA Liquiçá, senin ini.

Selain pelatihan, Indonesia juga menyerahkan bantuan berupa alat pembasmi ulat grayak, pestisida, serta menyediakan beasiswa pendidikan pertanian bagi pelajar Timor-Leste untuk menempuh studi di politeknik pertanian Indonesia. Tahun ini, sembilan mahasiswa direncanakan akan diberangkatkan.

Pelatihan ini melibatkan sembilan ahli dari Indonesia, yakni :

  1. Hariwan Puja Wilapa, SS, M.AP – Deputi Direktur Kerja Sama Bilateral, Kementerian Luar Negeri RI
  1. Markwin Hasahatan, SE, M.Si – Kepala Divisi Kerja Sama Asia dan Pasifik
  1. Okta Prastowo Raharjo, ST, M.Sc – Deputi Direktur Perencanaan, Ditjen PSP
  1. Dr. Ir. Yohannes Andi Trisyono, M.Sc – Dosen Fakultas Pertanian UGM
  1. Gandi Purnama, SP, M.Si – Deputi Direktur Pengendalian Hama Serealia
  1. Shinta Andayani, SP, MP – Pelatih Senior BBPP Lembang
  1. Longginus Lengi, SP, MP – Pelatih Madya BBPP Kupang
  1. Fakih Zakaria, SP – Petugas Senior Pengendalian Hama Tanaman
  1. Reynold P. Sitompul, SP, MSc – Deputi Direktur Hukum dan Humas, Ditjen Pengairan Lahan dan Pertanian

Di lain pihak Sekretaris Negara Perikanan Timor-Leste, Domingos da Conceição, menegaskan pentingnya kerja sama ini untuk meningkatkan ketahanan pangan nasional. Ia menggarisbawahi bahwa ulat grayak, yang dikenal secara lokal sebagai Lakataru Makerek, telah menyebabkan kerusakan parah sejak pertama kali ditemukan di Timor-Leste pada akhir 2019.

“Jagung adalah makanan pokok rakyat kami. Ancaman dari ulat ini bukan hanya berdampak pada hasil panen, tapi juga mengancam gizi dan mata pencaharian keluarga di pedesaan,” ujarnya.

Domingos juga menyampaikan apresiasi khusus kepada Pemerintah Indonesia, Kedutaan RI di Dili, dan seluruh tim ahli yang terlibat dalam inisiatif ini.

Sementara itu, perwakilan dari tim ahli Indonesia, Hariwan Puja Wilapa, menekankan bahwa pelatihan ini adalah bagian dari komitmen jangka panjang Indonesia untuk mendukung ketahanan pangan regional. Ia juga mengajak seluruh peserta untuk berperan aktif dalam menyebarluaskan pengetahuan yang mereka peroleh kepada komunitas pertanian masing-masing.

“Kami hadir bukan hanya untuk mengajar, tapi untuk bertukar pengetahuan dan memperkuat sistem pertanian yang tangguh bersama-sama,” kata Hariwan.

Menurut data dari Kementerian Pertanian dan FAO, ulat grayak telah menyebar ke hampir seluruh kotamadya Timor-Leste dengan tingkat infestasi antara 50 hingga 100 persen. Wilayah terdampak termasuk Dili, Manatuto, Lautém, Manufahi, Covalima, Bobonaro, dan Aileu.

Untuk itu, pelatihan ini mencakup pengendalian biologis, penggunaan pestisida yang tepat, strategi pemantauan, serta teknik budidaya jagung yang tahan serangan hama. Salah satu pelatih utama, Prof. Yohannes Andi Trisyono, memberikan pelatihan teknis yang mendalam berdasarkan hasil penelitian terkini di bidang entomologi pertanian.

Selain FAO, kegiatan ini juga mendapat dukungan dari mitra pembangunan lain serta para anggota korps diplomatik dari Filipina, Thailand, Brunei Darussalam dan Malysia yang turut hadir dalam upacara pembukaan. 

Reporter : Cidalia Fátima

Editor     : Armandina Moniz

iklan
iklan

Leave a Reply

iklan
error: Content is protected !!