Top

SEKOMS perkuat kampanye literasi digital, cegah hoaks dan disinformasi

Penasihat Media SEKOMS, Amito Araújo, berbicara dalam Forum Nasional Editorial bertema “Jornalizmu iha Era Algoritmu: Dezafiu no Oportunidade husi AI” atau “Jurnalisme di Era Algoritma: Tantangan dan Peluang AI”, yang diselenggarakan di Pusat Konvensi Dili. Foto TATOLI

DILI, 16 Oktober 2026 (TATOLI) – Pemerintah Timor-Leste melalui Sekretariat Negara Urusan Komunikasi Sosial (SEKOMS) terus memperkuat kampanye literasi digital hingga tingkat komunitas untuk mencegah penyebaran berita bohong atau hoaks, disinformasi, dan penyalahgunaan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam penyebaran informasi kepada masyarakat.

Upaya tersebut disampaikan Penasihat Media SEKOMS, Amito Araújo, dalam Forum Nasional Editorial bertema “Jornalizmu iha Era Algoritmu: Dezafiu no Oportunidade husi AI” atau “Jurnalisme di Era Algoritma: Tantangan dan Peluang AI”, yang diselenggarakan di Pusat Konvensi Dili (CCD) sebagai bagian dari peringatan Hari Kebebasan Pers Nasional Timor-Leste keempat.

Amito Araújo, yang hadir mewakili Sekretaris Negara Urusan Komunikasi Sosial, Expedito Dias Ximenes, menjelaskan bahwa perkembangan AI telah memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam memperoleh dan menghasilkan informasi. Namun, teknologi tersebut juga berpotensi mempercepat penyebaran informasi yang belum diverifikasi.

Menurutnya, perkembangan tersebut menuntut pemerintah untuk terus meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya memeriksa kebenaran setiap informasi sebelum mempercayai atau menyebarluaskannya.

“Melalui kebijakan SEKOMS, kami terus melakukan sosialisasi hingga tingkat komunitas untuk menjelaskan bahwa setiap informasi yang diterima harus diperiksa dan diperiksa kembali, dikonfirmasi serta diverifikasi agar masyarakat mengetahui kebenarannya,” kata Amito dalam forum tersebut.

Ia menegaskan bahwa penggunaan AI harus tetap disertai kemampuan manusia dalam melakukan penilaian kritis terhadap informasi, terutama karena teknologi tersebut dapat menghasilkan konten yang terlihat meyakinkan meskipun tidak didukung fakta yang benar.

Amito menjelaskan bahwa SEKOMS selama ini terus menjalankan kampanye melawan informasi palsu, termasuk melalui program literasi digital dan penggunaan internet secara sehat.

Menurutnya, salah satu perhatian utama pemerintah adalah meningkatkan pemahaman masyarakat agar mampu membedakan informasi yang berasal dari media profesional dengan berbagai konten yang beredar melalui media sosial seperti Facebook, TikTok, dan platform digital lainnya.

Ia menilai kemampuan tersebut penting karena tidak semua informasi yang tersebar melalui platform digital telah melalui proses penelitian, konfirmasi, dan verifikasi sebagaimana yang seharusnya dilakukan dalam pekerjaan jurnalistik.

Karena itu, SEKOMS terus mendorong masyarakat untuk membandingkan informasi dari berbagai sumber dan tidak langsung mempercayai konten yang ditemukan melalui internet maupun aplikasi AI.

Radio komunitas jadi sarana penguatan literasi informasi

Selain memperkuat kampanye literasi digital, Amito menjelaskan bahwa SEKOMS juga memberikan perhatian terhadap pengembangan radio komunitas sebagai salah satu sarana penyampaian informasi kepada masyarakat.

Menurutnya, keberadaan radio komunitas dapat membantu masyarakat memperoleh informasi dari berbagai saluran komunikasi sekaligus membandingkan kebenaran informasi yang beredar melalui media sosial.

Ia menjelaskan bahwa akses terhadap informasi dari radio, televisi, dan lembaga media lainnya dapat menjadi bahan pembanding bagi masyarakat sebelum mempercayai suatu informasi.

“SEKOMS terus melaksanakan kampanye literasi digital untuk melawan informasi palsu, hoaks, dan disinformasi yang tersebar melalui media maupun media sosial,” ujarnya.

Amito juga mengingatkan para pekerja media agar tetap menjalankan prinsip pemeriksaan dan verifikasi informasi meskipun menggunakan bantuan teknologi AI dalam kegiatan penelitian atau proses produksi berita.

Ia menegaskan bahwa hasil akhir sebuah pemberitaan harus tetap berdasarkan fakta, kenyataan di lapangan, serta pengetahuan dan kemampuan profesional jurnalis, bukan semata-mata bergantung pada keluaran mesin.

Menurutnya, kampanye pemberantasan hoaks, disinformasi, dan penggunaan internet yang sehat masih menjadi bagian dari program prioritas SEKOMS.

Dewan Pers dorong pelatihan jurnalisme investigasi

Sementara itu, anggota Dewan Pers Timor-Leste, Joaquim Fátima, menekankan pentingnya peningkatan kapasitas dan profesionalisme jurnalis dalam menghadapi perkembangan teknologi AI.

Menurutnya, Dewan Pers memiliki peran penting dalam mengembangkan mekanisme dan mencari dukungan untuk menyelenggarakan pelatihan bagi para jurnalis, khususnya dalam bidang jurnalisme investigasi.

Ia menjelaskan bahwa perkembangan kecerdasan buatan menuntut jurnalis untuk terus meningkatkan keterampilan agar dapat menghasilkan informasi yang benar, berkualitas, dan kredibel bagi masyarakat.

“Peran penting Dewan Pers adalah mencari mekanisme dan dukungan agar dapat memfasilitasi pelatihan khusus bagi jurnalis, sehingga kualitas berita yang dihasilkan tetap baik, benar, dan dapat dipercaya,” jelas Joaquim.

Ia menegaskan bahwa pemanfaatan AI tidak boleh membuat jurnalis sepenuhnya menyerahkan proses pengolahan informasi kepada teknologi, melainkan harus tetap mengandalkan kemampuan intelektual dan profesional dalam mencari serta memverifikasi fakta.

Menurutnya, pengembangan teknologi harus diimbangi dengan peningkatan kapasitas jurnalis dalam melakukan peliputan, menulis berita, dan menyampaikan informasi yang akurat kepada masyarakat.

Reporter: Cidalia Fátima

Editor    : Armandina Moniz

Publisidade

Leave a Reply

Latest Post

error: Content is protected !!