Rilijanto raih penghargaan tertinggi Balibo Five, Jurnalis TATOLI menangkan penghargaan Greg Shackleton

DILI, 16 Oktober 2026 (TATOLI) — Jurnalis media daring Diligente, Rilijanto Fátima Viana, berhasil meraih penghargaan tertinggi The Best of The Best Balibo Five Media Awards 2026 melalui karya jurnalistik yang mengangkat kehidupan dan berbagai tantangan yang dihadapi warga Timor-Leste yang bermigrasi ke Portugal. Sementara jurnalis Kantor Berita TATOLI, Cidalia Fátima, berhasil meraih Penghargaan Greg Shackleton untuk kategori laporan isu sosial terbaik radio dan televisi.
Penghargaan tersebut diserahkan dalam acara penganugerahan Penghargaan Jurnalistik Balibo Five 2026, yang berlangsung bersamaan dengan peringatan Hari Kebebasan Pers Nasional ke-4 dan peringatan 51 tahun Tragedi Balibo Five di Pusat Konvensi Dili, Jumat (16/10).
Karya Rilijanto berjudul “Entre o sonho e a precariedade: a vida dos timorenses que emigraram para Portugal” atau “Antara Impian dan Ketidakpastian: Kehidupan Warga Timor-Leste yang Bermigrasi ke Portugal” dinobatkan sebagai penerima penghargaan tertinggi dalam ajang tersebut.
Selain meraih penghargaan utama, Rilijanto juga memenangkan Penghargaan Adelino Gomes untuk kategori laporan jurnalistik terbaik berbahasa Portugis.
Dengan demikian, jurnalis Diligente tersebut berhasil membawa pulang dua penghargaan dalam penyelenggaraan Balibo Five Media Awards tahun ini dengan membawa pulang uang sebesar $4.000.
Dalam wawancara dengan TATOLI, Rilijanto mengaku tidak menyangka akan memperoleh dua penghargaan sekaligus. Ia menyampaikan rasa bahagia dan bangga atas pengakuan terhadap karya jurnalistik yang telah dihasilkannya.
“Saya tidak menyangka akan menerima kedua penghargaan ini. Karena itu, ketika mendengar bahwa saya memenangkan Penghargaan Adelino Gomes dan The Best of The Balibo Five, saya merasa sangat senang dan bangga,” ungkap Rilijanto kepada TATOLI.
Menurutnya, penghargaan tersebut bukan hanya menjadi bentuk pengakuan terhadap pekerjaan yang telah dilakukannya, tetapi juga memberikan motivasi untuk terus menjalankan profesi jurnalistik dengan komitmen dan tanggung jawab.
“Bagi saya, kedua penghargaan ini bukan sekadar pengakuan terhadap pekerjaan saya, melainkan juga motivasi untuk terus menjalankan tugas sebagai jurnalis dengan komitmen dan tanggung jawab,” katanya.
Rilijanto menegaskan bahwa tujuan utama seorang jurnalis dalam menulis artikel atau menghasilkan laporan bukanlah untuk memperoleh penghargaan, melainkan mengungkap kenyataan, menyoroti persoalan sosial, dan memberikan ruang bagi kisah masyarakat yang sering kali luput dari perhatian publik.
“Saya percaya bahwa tujuan menulis artikel atau membuat laporan bukan untuk mencari penghargaan, tetapi untuk menunjukkan kenyataan, mengungkap persoalan sosial, dan memberikan ruang bagi kisah-kisah yang penting bagi masyarakat, terutama kenyataan yang sering kali kurang mendapat perhatian,” jelasnya.
Ia mengatakan, keberhasilan memperoleh penghargaan justru semakin mendorongnya untuk mempertahankan keberanian, profesionalisme, dan tanggung jawab dalam menghasilkan karya jurnalistik.
Menurutnya, seorang jurnalis perlu terus belajar, meningkatkan kemampuan, dan memperkuat independensi agar dapat menghasilkan pemberitaan yang benar serta bermanfaat bagi kepentingan masyarakat.
“Penghargaan ini memberikan motivasi besar bagi saya untuk terus bekerja sebagai jurnalis dengan keberanian, profesionalisme, dan tanggung jawab. Saya akan terus belajar dan memperkuat independensi dalam pekerjaan,” ujarnya.
Rilijanto juga mengajak rekan-rekan jurnalis di Timor-Leste agar tidak kehilangan semangat meskipun menghadapi berbagai kesulitan dalam menjalankan tugas.
Ia menilai solidaritas antarsesama jurnalis, peningkatan kemampuan profesional, dan komitmen terhadap kebenaran merupakan hal penting untuk mempertahankan kualitas jurnalisme.
“Saya ingin menyampaikan pesan kepada seluruh rekan jurnalis agar tidak kehilangan harapan meskipun menghadapi banyak tantangan. Kita harus terus belajar bersama, memperkuat solidaritas, dan mempertahankan komitmen untuk mencari serta menyampaikan informasi yang benar, independen, dan bertanggung jawab,” katanya.

Lebih lanjut, Rilijanto mengingatkan bahwa jurnalis tidak boleh mengabaikan berbagai kenyataan dan persoalan sosial yang terjadi di tengah masyarakat.
Menurutnya, tugas jurnalis bukan hanya menyampaikan peristiwa, tetapi juga mencari informasi, melakukan investigasi, dan menceritakan pengalaman masyarakat secara benar serta penuh penghormatan, khususnya mereka yang suaranya jarang didengar.
“Tugas kita adalah mencari tahu, menyelidiki, dan menceritakan kisah masyarakat dengan benar dan penuh rasa hormat, terutama mereka yang suaranya sering kali tidak mendapat perhatian,” ujarnya.
Ia menambahkan, laporan jurnalistik yang mengangkat persoalan sosial dapat membuka ruang diskusi publik, meningkatkan kesadaran masyarakat, serta mendorong lembaga berwenang untuk memberikan tanggapan terhadap masalah yang dihadapi warga.
“Melalui laporan-laporan tersebut, kita dapat mendorong diskusi publik, meningkatkan kesadaran masyarakat, dan meminta lembaga-lembaga yang bertanggung jawab untuk merespons persoalan yang dihadapi rakyat,” tegasnya.
TATOLI dan sejumlah media turut meraih penghargaan
Selain Rilijanto, Dewan Pers Timor-Leste juga memberikan penghargaan kepada sejumlah jurnalis dan lembaga media yang dinilai menghasilkan karya terbaik dalam berbagai kategori.
Untuk kategori Penghargaan Francisco Borja da Costa, yaitu laporan isu sosial terbaik media cetak dan daring, penghargaan diberikan kepada jurnalis Diligente, Lurdes Durego.
Ia memenangkan kategori tersebut melalui karya berjudul “Entre o sucesso e o perigo: quem protege as crianças no espaço digital em Timor-Leste”, yang mengangkat persoalan perlindungan anak dalam ruang digital di Timor-Leste.
Sementara itu, jurnalis Kantor Berita TATOLI, Cidalia Fátima, berhasil meraih Penghargaan Greg Shackleton untuk kategori laporan isu sosial terbaik radio dan televisi.
Cidalia memperoleh penghargaan melalui karya berjudul “Tinan hitu hein justisa, Maria nia luta atu kontinua estudu” atau “Tujuh Tahun Menanti Keadilan, Perjuangan Maria untuk Melanjutkan Pendidikan”.
Dalam kategori tersebut, Cidalia bersaing dengan sejumlah karya jurnalistik dari Grupo Média Nacional (GMN).
Untuk kategori foto jurnalistik terbaik, Penghargaan Bernardino Guterres diberikan kepada Juvenal Cabral dos Santos dari media daring Hatutan.com.
Sementara itu, penghargaan Dewan Pers untuk kategori lembaga komunikasi sosial terbaik yang memperhatikan kesejahteraan jurnalis diberikan kepada ETO TELCO.
Lembaga tersebut terpilih dari 12 institusi media yang masuk dalam nominasi, termasuk Timor Post, Jornal Independente, GMN Group, STL Group, Dili Post, Hatutan.com, Diligente, Lafaek News, Média Mudansa, Televizaun Edukasaun, dan SAP News.
Sebanyak 34 kandidat mengikuti proses seleksi
Berdasarkan Deliberasi Dewan Pers Nomor 10/2026 tertanggal 8 Oktober 2026, penyelenggaraan Penghargaan Jurnalistik Balibo Five tahun ini diawali dengan proses evaluasi terhadap karya-karya jurnalistik yang diajukan peserta.
Setelah melalui pemeriksaan dan evaluasi awal, sebanyak 34 kandidat direkomendasikan kepada dewan juri untuk menjalani proses penilaian.
Proses penilaian karya berlangsung pada 16 hingga 29 September 2026, sebelum hasilnya disahkan melalui sidang pleno Dewan Pers.
Dewan juri dipimpin Benevides Correia Barros, dengan Sixto Viana sebagai sekretaris, serta Alberico da Costa Junior, Constâncio S. B. de Jesus, António Dias, dan Nuno Rodrigues sebagai anggota.
Penghargaan diberikan berdasarkan Undang-Undang Komunikasi Sosial Nomor 5/2014 dan ketentuan peraturan Dewan Pers mengenai penghargaan jurnalistik.
Para pemenang memperoleh penghargaan berupa hadiah uang tunai dan sertifikat sebagai bentuk pengakuan atas kontribusi mereka terhadap perkembangan jurnalisme di Timor-Leste.
Penghargaan Balibo Five pertama kali diperkenalkan pada 2008, bertepatan dengan periode produksi film Balibo. Setelah sempat terhenti akibat keterbatasan pendanaan, penyelenggaraannya dilanjutkan di bawah Dewan Pers Timor-Leste.
Penghargaan tersebut bertujuan mengapresiasi karya jurnalistik berkualitas sekaligus menjaga ingatan terhadap pengorbanan lima jurnalis yang tewas di Balibo pada 1975.
Melalui penghargaan tahunan ini, Dewan Pers berharap para jurnalis terus menghasilkan pemberitaan yang independen, kredibel, berlandaskan fakta, dan menghormati etika profesi.
Tim TATOLI

