Top

Polusi udara di Dili berpotensi meningkat, warga diimbau gunakan masker

Foto DNMG

DILI, 13 Oktober 2026 (TATOLI) – Direktorat Nasional Meteorologi dan Geofisika (DNMG) Timor-Leste memperingatkan bahwa kualitas udara di Kota Dili berpotensi kembali memburuk pada 16 hingga 17 Oktober 2026 akibat penyebaran asap kebakaran hutan dan lahan dari wilayah Papua, Indonesia, serta aktivitas pembakaran lahan di dalam negeri.

Berdasarkan buletin resmi DNMG yang diterbitkan pada 12 Oktober 2026, kualitas udara di Dili tercatat berada dalam kategori tidak sehat selama tujuh hari berturut-turut, sejak 06 hingga 12 Oktober 2026.

Kondisi tersebut terpantau melalui stasiun pemantauan otomatis yang dipasang di Bandara Internasional Presiden Nicolau Lobato, Comoro, serta di Kementerian Transportasi dan Komunikasi di Caicoli, Dili.

Data pemantauan menunjukkan Indeks Kualitas Udara (AQI) di kawasan Bandara Internasional Presiden Nicolau Lobato mencapai 165, sementara di kawasan Kementerian Transportasi dan Komunikasi tercatat sebesar 174. Kedua angka tersebut termasuk dalam kategori tidak sehat.

DNMG menjelaskan bahwa penurunan kualitas udara tersebut berkaitan dengan asap kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah, khususnya Papua bagian barat, Indonesia, yang terbawa angin muson Australia menuju Pulau Timor.

Selain asap dari luar negeri, aktivitas pembakaran lahan di Timor-Leste juga turut berpotensi memperburuk kualitas udara.

Menurut DNMG, salah satu polutan yang menjadi perhatian adalah partikel halus PM2.5 yang dapat masuk ke dalam paru-paru dan menimbulkan risiko kesehatan, terutama bagi anak-anak, lanjut usia, serta masyarakat yang memiliki penyakit pernapasan.

Paparan polutan tersebut dapat menyebabkan iritasi mata, batuk, gangguan saluran pernapasan, kesulitan bernapas, serta memperburuk penyakit pernapasan dan kardiovaskular.

DNMG memperkirakan kualitas udara mulai membaik pada 13 Oktober 2026. Namun, kondisi tersebut diperkirakan hanya berlangsung sementara karena aktivitas pembakaran lahan di wilayah Papua masih berlanjut.

Pada 16 hingga 17 Oktober 2026, arah angin diperkirakan kembali membawa asap dari Indonesia menuju Pulau Timor sehingga berpotensi meningkatkan konsentrasi polutan di udara.

Sementara itu, berdasarkan buletin prakiraan cuaca DNMG untuk periode 13 hingga 16 Oktober 2026, Timor-Leste saat ini telah memasuki masa peralihan menuju musim hujan, seiring dengan aktifnya angin muson Australia.

Kondisi cuaca juga dipengaruhi sejumlah fenomena meteorologi, termasuk El Niño kuat, Indian Ocean Dipole (IOD) positif, perbedaan tekanan udara antara daratan dan lautan, serta faktor lokal lainnya.

DNMG memperkirakan hujan dengan intensitas ringan hingga sedang berpotensi terjadi di hampir seluruh wilayah Timor-Leste, terutama pada sore hingga malam hari.

Berdasarkan peta prakiraan, sejumlah wilayah seperti Ermera, Bobonaro, Liquiçá, Manufahi, Ainaro, Aileu, dan Dili diperkirakan mengalami kondisi berawan atau hujan ringan pada hari-hari tertentu sepanjang periode tersebut.

DNMG juga mengingatkan masyarakat terhadap potensi bencana hidrometeorologi, seperti banjir, tanah longsor, dan sambaran petir, terutama di wilayah yang mengalami peningkatan curah hujan.

Selain prakiraan hujan, DNMG mengeluarkan peringatan terkait peningkatan kecepatan angin di sejumlah wilayah pesisir Timor-Leste selama periode 13 hingga 16 Oktober 2026.

Berdasarkan buletin prakiraan maritim, wilayah pesisir Manatuto diperkirakan mengalami angin dengan kecepatan lebih dari 25 kilometer per jam selama empat hari berturut-turut, sehingga masuk dalam kategori peringatan tertinggi.

Sementara itu, Pulau Atauro diperkirakan mengalami kondisi serupa pada 13 Oktober, sebelum kecepatan angin menurun pada hari-hari berikutnya.

Wilayah pesisir Baucau juga diperkirakan mengalami angin kencang dengan kecepatan sekitar 20 hingga 25 kilometer per jam, sedangkan wilayah lainnya, termasuk Dili, Liquiçá, Bobonaro, dan Covalima, umumnya berada dalam kategori waspada dengan kecepatan angin sekitar 15 hingga 20 kilometer per jam.

DNMG menjelaskan bahwa tinggi gelombang laut selama periode tersebut diperkirakan tetap berada dalam kondisi normal, berkisar antara 0,2 hingga 1,0 meter di wilayah pesisir utara maupun selatan Timor-Leste.

Meskipun demikian, masyarakat, khususnya nelayan dan pengguna transportasi laut, diimbau tetap memperhatikan perkembangan kondisi angin dan informasi cuaca terbaru.

Menghadapi potensi peningkatan polusi udara, DNMG mengimbau masyarakat untuk menggunakan masker yang sesuai, terutama ketika melakukan aktivitas di luar ruangan saat konsentrasi asap meningkat.

Anak-anak, lanjut usia, dan kelompok rentan lainnya disarankan mengurangi aktivitas fisik di luar rumah untuk menghindari paparan polutan yang dapat membahayakan kesehatan.

Masyarakat juga diminta menutup jendela ketika terjadi peningkatan debu atau asap, serta menghindari pembakaran sampah dan lahan di sekitar permukiman.

Bagi warga yang mengalami gangguan pernapasan atau kesulitan bernapas akibat paparan asap, DNMG menyarankan agar segera mencari bantuan medis.

DNMG menegaskan akan terus memantau perkembangan kualitas udara, arah angin, dan kondisi cuaca melalui stasiun pemantauan yang tersedia, termasuk perkembangan kebakaran hutan dan lahan di wilayah sekitar Pulau Timor.

Lembaga tersebut juga mengimbau masyarakat untuk terus mengikuti pembaruan informasi resmi mengenai kualitas udara, prakiraan cuaca, dan peringatan dini melalui DNMG Timor-Leste.

Reporter : Cidalia Fátima

Editor    : Armandina Moniz

Publisidade

Leave a Reply

Latest Post

error: Content is protected !!