Top

INSP-TL waspadai peningkatan kasus ISPA akibat kabut asap dan El Niño

Pemandangan kabut asap yang terlihat di Dili. Foto TATOLI/Antonio Daciparu

DILI, 12 Oktober 2026 (TATOLI) – Ketua Institut Nasional Kesehatan Masyarakat Timor-Leste (INSP-TL), Nevio Sarmento, mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai risiko peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat paparan kabut asap dan kondisi cuaca kering yang dapat diperparah oleh fenomena El Niño.

Nevio mengatakan, kondisi lingkungan yang dipenuhi debu dan asap berpotensi menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, terutama penyakit pernapasan, sehingga masyarakat perlu meningkatkan langkah pencegahan dengan menggunakan masker dan pelindung mata saat beraktivitas di luar rumah.

“Fenomena El Niño dapat memberikan dampak besar terhadap kesehatan masyarakat, terutama meningkatnya risiko penyakit pernapasan seperti ISPA. Karena itu, kita perlu melakukan persiapan dan pencegahan. Dampaknya bukan hanya pada sistem pernapasan, tetapi juga kesehatan mata dan telinga,” kata Nevio Sarmento kepada wartawan di Palm Spring, Fatuhada, Dili, Senin ini.

Ia menjelaskan, kondisi udara yang dipenuhi partikel debu dan asap dapat memengaruhi kesehatan masyarakat karena partikel pencemar yang terhirup berpotensi masuk ke dalam saluran pernapasan hingga paru-paru.

Menurutnya, terdapat tiga faktor utama yang perlu diperhatikan terkait kondisi udara berkabut dan cuaca kering di Timor-Leste, yaitu aktivitas pembakaran lahan di dalam negeri, kabut asap dari kebakaran hutan di Indonesia, serta pengaruh fenomena El Niño terhadap kondisi iklim.

Nevio mengatakan, pada September hingga Oktober, sebagian masyarakat di Timor-Leste melakukan pembakaran lahan untuk mempersiapkan musim tanam jagung dan tanaman pangan lainnya. Selain itu, pembakaran rumput kering juga dilakukan untuk merangsang pertumbuhan rumput baru sebagai pakan ternak.

Aktivitas tersebut dapat menghasilkan asap dan partikel debu yang memengaruhi kualitas udara, terutama ketika kondisi cuaca kering dan pergerakan angin mendukung penyebaran asap.

Faktor kedua, lanjutnya, adalah kebakaran hutan dan lahan di Indonesia, termasuk Kalimantan, yang asapnya berpotensi terbawa angin menuju wilayah lain.

“Meskipun Timor-Leste berada jauh dari Kalimantan, asap dari kebakaran hutan dapat terbawa oleh angin dan memberikan dampak terhadap wilayah kita, terutama bagi kesehatan masyarakat,” jelasnya.

Sementara itu, faktor ketiga berkaitan dengan fenomena El Niño yang dapat menyebabkan musim kemarau berlangsung lebih panjang, meningkatkan suhu udara, serta mengurangi curah hujan di Timor-Leste.

Ia menjelaskan, El Niño bukan penyebab langsung kebakaran hutan, melainkan fenomena iklim global yang ditandai dengan meningkatnya suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. Fenomena tersebut dapat memengaruhi pola curah hujan dan suhu di berbagai wilayah dunia.

“Kondisi ini dapat membuat Timor-Leste mengalami musim kemarau yang lebih panjang, suhu yang lebih panas, serta curah hujan yang berkurang. Dampaknya sangat besar terhadap kesehatan masyarakat, terutama meningkatnya risiko gangguan pernapasan,” ujarnya.

Karena itu, Nevio mengimbau masyarakat untuk menggunakan masker saat meninggalkan rumah, khususnya ketika udara dipenuhi debu dan kabut asap.

Menurutnya, penggunaan masker tidak hanya bertujuan mengurangi paparan debu dan partikel asap, tetapi juga dapat membantu mengurangi risiko penularan sejumlah penyakit pernapasan dari satu orang ke orang lain.

“Walaupun kita masih dapat bernapas secara normal, bukan berarti tidak ada dampak terhadap kesehatan. Partikel yang masuk melalui pernapasan dapat memengaruhi paru-paru. Karena itu, kita semua harus memberikan perhatian serius terhadap langkah pencegahan,” tegasnya.

Selain menggunakan masker, INSP-TL juga menyarankan masyarakat memakai kacamata pelindung ketika beraktivitas di luar ruangan. Khusus bagi pengendara sepeda motor, masyarakat diminta menutup kaca helm guna mengurangi paparan debu dan asap pada mata.

Nevio menekankan bahwa upaya pencegahan sejak dini sangat penting untuk mengurangi risiko penyakit sekaligus mencegah peningkatan jumlah pasien yang membutuhkan pelayanan di fasilitas kesehatan.

“Jika kita dapat melakukan pencegahan, kita juga dapat mengurangi jumlah kunjungan masyarakat ke rumah sakit, klinik, dan pusat kesehatan di seluruh Timor-Leste,” katanya.

WHO ingatkan risiko penyakit akibat El Niño

Sementara itu, Perwakilan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Timor-Leste, Arvind Mathur, mengatakan fenomena El Niño juga dapat menimbulkan berbagai tantangan terhadap kesehatan masyarakat, termasuk keterbatasan air bersih, meningkatnya risiko penyakit menular, serta gangguan kesehatan mental.

Menurutnya, musim kemarau yang berkepanjangan dapat mengurangi ketersediaan air dan memengaruhi kualitas sumber air yang digunakan masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari.

Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko penyakit yang ditularkan melalui air dan makanan, terutama apabila masyarakat kesulitan mendapatkan air bersih dan menjaga kebersihan lingkungan.

Selain itu, perubahan pola suhu dan curah hujan juga dapat memengaruhi perkembangan dan penyebaran nyamuk pembawa penyakit seperti demam berdarah dengue dan malaria.

“Ketika pola iklim berubah, curah hujan berubah, dan suhu juga mengalami perubahan, kondisi tersebut dapat memengaruhi berbagai masalah kesehatan yang sudah ada dan berpotensi meningkatkan jumlah kasus penyakit,” kata Arvind Mathur.

Ia menjelaskan, dampak El Niño tidak hanya terbatas pada kesehatan fisik, tetapi juga dapat menimbulkan tekanan psikologis bagi masyarakat akibat perubahan kondisi lingkungan dan keterbatasan sumber daya, terutama air.

Menurutnya, persoalan tersebut menjadi tantangan bagi sektor kesehatan masyarakat, pelayanan kesehatan, serta berbagai pihak yang terlibat dalam upaya pencegahan penyakit.

Arvind menekankan pentingnya kesiapsiagaan dan langkah pencegahan untuk mengurangi risiko kesehatan akibat perubahan pola iklim, terutama bagi kelompok masyarakat yang rentan.

Sementara itu, INSP-TL kembali mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi udara dan menjaga kesehatan selama periode cuaca kering, terutama dengan menggunakan masker, melindungi mata, serta mengurangi paparan debu dan asap ketika beraktivitas di luar rumah.

Reporter : Felicidade Ximenes (Penerjemah: Cidalia Fátima)

Editor    :  Armandina Moniz

Publisidade

Leave a Reply

Latest Post

error: Content is protected !!