PM Xanana tekankan pentingnya pengelolaan Dana Perminyakan yang bijaksana

DILI, 07 Oktober 2026 (TATOLI) – Perdana Menteri (PM) Kay Rala Xanana Gusmão ikut menghadiri seminar tentang pengelolaan Dana Perminyakan secara bijaksana dan berkelanjutan yang diselenggarakan oleh Kementerian Keuangan bersama Bank Sentral Timor-Leste (BCTL) di Bangkok, Thailand, pada Selasa (06/10).
Seminar tersebut melibatkan para ahli internasional maupun dari Timor-Leste di bidang keuangan dan investasi untuk membahas strategi serta pendekatan bagi pengelolaan Dana Perminyakan Timor-Leste yang berkelanjutan.
Berdasarkan Laman Pemerintah yang diakses, disebutkan bahwa dalam sambutan pada pembukaan seminar, PM Xanana menegaskan pentingnya kegiatan ini, mengingat pembangunan infrastruktur Timor-Leste sangat bergantung pada Dana Perminyakan (Petroleum Fund), yang sejak masa kemerdekaan telah digunakan untuk membiayai infrastruktur dasar dan pembangunan di berbagai sektor.
“Saat ini, kita berada dalam situasi yang mengkhawatirkan, karena kita dihadapkan pada ketidakpastian kondisi dunia terkini. Terima kasih telah bersama-sama mencurahkan pemikiran, pengetahuan, dan pengalaman Anda untuk membantu mengelola Dana Perminyakan kita secara bijaksana,” ujar PM Xanana.
Kepala Pemerintah juga menyampaikan harapan agar seminar ini menghasilkan diskusi yang produktif, khususnya mengenai keberlanjutan Dana tersebut, dampak proyek terhadap tujuan Dana, serta strategi fiskal.
Pada sesi pertama, para peserta membahas topik-topik seputar keberlanjutan Dana, proyek-proyek yang dibiayai oleh Dana, dampak terhadap tujuan Dana, dan strategi fiskal.
Menteri Keuangan, Santina José Rodrigues F. Viegas Cardoso, menyampaikan apresiasinya atas kehadiran PM Xanana Gusmão, yang memandang penting untuk memberikan arahan mengenai isu-isu fiskal dan keuangan yang signifikan bagi masa depan Dana Perminyakan (Petroleum Fund).
“Kita semua mengetahui bahwa Dana Perminyakan memegang peranan sentral dalam membiayai pembangunan Timor-Leste, serta masih mendanai sebagian besar Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Oleh karena itu, keberlanjutannya bukan sekadar masalah investasi, melainkan juga persoalan fiskal dan pembangunan bagi Pemerintah,” ujar Menteri Santina.
Kerangka awal Dana Perminyakan dibentuk untuk menyeimbangkan kebutuhan generasi saat ini dan generasi mendatang, dengan menggunakan Estimated Sustainable Income (ESI) sebagai acuan bagi keberlanjutan fiskal.

Menteri Santina menyatakan bahwa strategi investasi harus berorientasi pada upaya menjaga daya beli Dana tersebut dalam jangka panjang. Namun, situasi saat ini berbeda karena penarikan dana telah melampaui CSR selama bertahun-tahun, sementara pendapatan minyak bumi turun tajam.
“Kondisi dana ini lebih baik daripada yang diproyeksikan. Pendapatan minyak bumi dan hasil investasi lebih tinggi dari perkiraan, sedangkan jumlah penarikan lebih rendah,” ujarnya.
Sejalan dengan prioritas kebijakan Pemerintah mengenai pengelolaan Dana Perminyakan secara hati-hati, Pemerintah sedang mengkaji berbagai opsi untuk transisi fiskal secara bertahap, dengan berpedoman pada aturan dan prinsip pengelolaan Dana yang berkelanjutan.
Selain itu, Gubernur BCTL, Helder Lopes, menjelaskan bahwa Undang-Undang Dana Perminyakan menetapkan pembentukan Dewan Investasi, yang berperan memberikan saran kepada Menteri Keuangan mengenai pengelolaan dan investasi Dana Perminyakan.
Menurut Helder Lopes, Dewan Investasi mengadakan lokakarya setiap tahun, dan kegiatan tahun ini diselenggarakan di Bangkok, bertepatan dengan kunjungan resmi PM Xanana Gusmão ke Thailand.
Anggota Dewan Investasi terdiri dari tiga ahli dari BCTL, sementara Kementerian Keuangan juga menyampaikan paparan mengenai kondisi terkini Dana Perminyakan, termasuk pendapatan dari produksi minyak dan gas, imbal hasil investasi, serta penarikan dana dari dana tersebut.
Menurut Helder, informasi ini penting untuk menentukan strategi investasi yang tepat guna memastikan bahwa Dana tersebut dapat terus memenuhi tujuannya bagi generasi saat ini maupun mendatang.
“Perdana Menteri Xanana memaparkan visinya mengenai pengelolaan Dana kita, kemudian menyimak presentasi dari Bank Sentral serta memberikan arahan untuk membantu kami melakukan analisis yang lebih baik, guna menyiapkan materi bagi Menteri Keuangan dan Perdana Menteri sendiri untuk digunakan dalam perumusan kebijakan,” tegas Helder Lopes.
Saldo Dana Perminyakan saat ini mencapai hampir U$$19 miliar, dan pengelolaan aset ini memerlukan strategi investasi yang bijaksana serta didasarkan pada analisis profesional.
Dalam seminar tersebut, para ahli internasional—termasuk Profesor Drew—menyampaikan presentasi mengenai prioritas nasional untuk proyek-proyek yang layak investasi serta mobilisasi modal bagi pembangunan jangka panjang di Timor-Leste.
Para ahli dari Australia dan Norwegia juga berbagi pengalaman internasional terkait pengelolaan dana kekayaan negara (sovereign wealth), investasi, dan keberlanjutan keuangan.
Seminar internasional akan diselenggarakan selama dua hari, mulai tanggal 06 hingga 07 Oktober 2026, di Bangkok, Thailand.
Dalam kegiatan ini, Perdana Menteri didampingi oleh Duta Besar Timor-Leste untuk Thailand, Francisco Tilman Cepeda, dan Kepala Kantor Perdana Menteri (GPM), Elizabeth Exposto.
Tim TATOLI

