Top

Presiden Republik dukung adopsi global visi dunia tentang gerakan ‘Tiga Nol’

Presiden Republik, Jose Ramos-Horta, berpidato di markas besar PBB di New York, dalam sebuah panel yang didedikasikan untuk Bisnis Sosial, Pemuda, dan Teknologi. Dalam pidatonya, Kepala Negara Timor-Leste. Presiden Republik berpidato didampingi Profesor Muhammad Yunus. Foto Media Kepresidenan

DILI, 23 September 2026 (TATOLI) –  Presiden Republik, Jose Ramos-Horta,  berpidato di  markas besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, dalam sebuah panel yang didedikasikan untuk Bisnis Sosial, Pemuda, dan Teknologi. Dalam pidatonya itu, Kepala Negara Timor-Leste mendukung adopsi global atas visi dunia dengan gerakan “Tiga Nol”, yang digagas oleh Profesor Muhammad Yunus  yaitu, nol kemiskinan, nol pengangguran, dan nol emisi karbon bersih.

Kepala Negara yang berpidato dalam sebuah panel yang didedikasikan untuk Bisnis Sosial, Pemuda, dan Teknologi, dengan  tema sentral “2026: 50 Tahun Kredit Mikro” itu digelar disela-sela kegiatan Sidang Majelis Umum PBB ke-81, pada Senin (21/09) di New York.

Melansir Laman Kepresidenan Republik, disebutkan bahwa partisipasi Kepala Negara dalam panel yang didedikasikan untuk Bisnis Sosial, Pemuda, dan Teknologi itu atas undangan dari peraih Hadiah Nobel Perdamaian yang juga merupakan teman pribadinya, Profesor Muhammad Yunus, dalam sebuah pertemuan yang mempertemukan Presiden Majelis Umum PBB, Dr. Khalilur Rahman, serta para pemuda dan aktivis dari seluruh dunia.

Dalam pidatonya, Ramos-Horta memberikan penghormatan yang mendalam kepada Muhammad Yunus, dengan mengenang kunjungan bersejarah peraih Nobel tersebut ke Timor-Leste pada tahun 2004. Pada saat itu, di sebuah negara yang baru merdeka dan masih menyembuhkan luka akibat kehancuran dan masa pendudukan, Yunus memperkenalkan konsep kredit mikro.

Presiden Ramos-Horta menekankan bahwa pelajaran besar yang ditinggalkan oleh peraih Nobel tersebut adalah bahwa orang-orang yang hidup dalam kemiskinan bukanlah korban yang menunggu belas kasihan, melainkan wirausahawan yang bermartabat, yang hanya membutuhkan satu kesempatan untuk membebaskan diri mereka sendiri.

Kepala Negara mendukung adopsi global atas visi dunia dengan “Tiga Nol”, yang digagas oleh Yunus : nol kemiskinan, nol pengangguran, dan nol emisi karbon bersih.

Bagi Ramos-Horta, dirinya mendukung adopsi global atas visi dunia dengan “Tiga Nol”, yang digagas oleh Yunus : nol kemiskinan, nol pengangguran, dan nol emisi karbon bersih, yang menurut Kepala Negara “Tiga Nol” lebih dari sekadar slogan, ini adalah peta jalan dan keharusan moral untuk kelangsungan hidup negara-negara kecil seperti Timor-Leste.

Presiden Republik memastikan bahwa Timor-Leste  sedang melakukan perannya, mendiversifikasi ekonomi di luar minyak, berinvestasi di bidang pariwisata dan energi terbarukan, serta mengkonsolidasikan integrasinya sebagai anggota ke-11 ASEAN, dengan senantiasa memprioritaskan kesejahteraan umat manusia.

Sebuah panel yang didedikasikan untuk Bisnis Sosial, Pemuda, dan Teknologi dengan tema sentral “2026: 50 Tahun Kredit Mikro” digelar disela-sela kegiatan Sidang Majelis Umum PBB ke-81, di New York. Foto Media Kepresidenan

Menghadapi skenario internasional yang ditandai dengan fragmentasi geopolitik, keadaan darurat iklim, dan ketidaksetaraan ekonomi yang semakin tajam di Negara-negara Berkembang (Global South), Ramos-Horta juga mengeluarkan peringatan tentang dampak revolusi teknologi.

Mengklasifikasikan Kecerdasan Buatan (AI) sebagai “pedang bermata dua”, Presiden Republik berpendapat bahwa kemajuan teknologi harus secara utama melayani umat manusia, mendorong inklusi di bidang pendidikan dan kesehatan, tanpa memperburuk kesenjangan digital atau memperdalam jurang pemisah antara negara kaya dan negara berkembang.

Pemuda menempati posisi sentral dalam pidato Presiden, mengingat bahwa hampir separuh populasi Timor-Leste berusia di bawah 25 tahun, Ramos-Horta menyatakan bahwa generasi muda bukan hanya masa depan, tetapi juga masa kini negara tersebut.

Terinspirasi oleh “Gerakan NOL” yang didorong oleh Yunus dalam skala global, Presiden Republik mendorong kaum muda Timor-Leste dan di seluruh dunia untuk tidak menunggu izin untuk memimpin perubahan yang diperlukan, melainkan tampil sebagai arsitek dan pembangun solusi.

Menutup pidatonya, Ramos-Horta menyampaikan seruan mendesak untuk perdamaian dan tindakan global. Kepala Negara mengungkapkan bahwa ia membawa pesan-pesan kecil tulisan tangan dari kaum muda Timor-Leste ke dalam ruang sidang Majelis Umum PBB, yang menyerukan diakhirinya konflik di Gaza, Ukraina, Sudan, dan Myanmar.

Mengenang teladan hidup Muhammad Yunus dalam menyuarakan mereka yang tak bersuara, Presiden Republik meminta komunitas internasional untuk tidak meninggalkan ruangan tersebut hanya dengan niat baik, tetapi dengan komitmen nyata untuk membangun dunia yang adil, seperti yang berani dibayangkan oleh peraih Nobel Perdamaian tersebut.

Tim TATOLI

Publisidade

Leave a Reply

Latest Post

error: Content is protected !!