iklan

KEAMANAN

China apresiasi langkah cepat Timor-Leste berantas jaringan Online Scam

China apresiasi langkah cepat Timor-Leste berantas jaringan Online Scam

Duta Besar China di Timor-Leste, Wang Wenli. Foto Tatoli/Francisco Sony

DILI, 14 Juli 2026 (TATOLI) – Pemerintah China memberikan apresiasi atas langkah cepat Pemerintah Timor-Leste dan Kepolisian Nasional Timor-Leste (PNTL) dalam mengungkap jaringan online scam yang belakangan marak beroperasi di negara ini.

Duta Besar China untuk Timor-Leste, Wang Wenli, mengatakan persoalan penipuan daring menjadi salah satu agenda pembahasan dalam pertemuannya dengan Presiden Republik, José Ramos-Horta, di Istana Kepresidenan, Dili, Selasa ini.

“Kami juga membahas persoalan penipuan daring (online scam). Dalam pertemuan ini saya telah menjelaskan secara jelas posisi Pemerintah China mengenai masalah tersebut,” kata Wang kepada wartawan usai pertemuan.

Menurut Wang, Pemerintah China memiliki sikap yang sangat tegas terhadap segala bentuk kejahatan penipuan daring dan telah memperingatkan Pemerintah Timor-Leste mengenai potensi ancaman tersebut sejak Mei tahun lalu.

“Pemerintah China memiliki sikap yang sangat tegas dalam memberantas kejahatan penipuan daring. Sejak Mei tahun lalu kami telah menyampaikan kepada Pemerintah Timor-Leste mengenai potensi risiko kejahatan online scam. Operasi penindakan yang sedang berlangsung saat ini merupakan kelanjutan dari operasi bersama yang sebelumnya telah dilakukan antara China dan sejumlah negara di Asia Tenggara,” ujarnya.

Ia menilai operasi yang dilakukan aparat keamanan Timor-Leste berlangsung cepat dan efektif serta mencerminkan komitmen kedua negara dalam memerangi kejahatan lintas negara.

“Kami memberikan apresiasi atas operasi Pemerintah Timor-Leste dan Kepolisian Nasional Timor-Leste (PNTL) yang berlangsung cepat dan efektif. Pemerintah China juga terus memperkuat kerja sama pemberantasan penipuan dengan negara-negara Asia Tenggara, termasuk Timor-Leste,” katanya.

Wang menjelaskan, Pemerintah China telah membagikan berbagai informasi kepada aparat penegak hukum Timor-Leste mengenai para pelaku kejahatan serta mengusulkan pembentukan organisasi global anti-penipuan.

Selain itu, China juga telah menyelenggarakan berbagai pelatihan mengenai pemberantasan penipuan daring bagi aparat Timor-Leste dan sejumlah negara Asia Tenggara lainnya.

“Saya ingin menegaskan kembali bahwa melalui upaya bersama Pemerintah China dan Pemerintah Timor-Leste, kami akan terus bekerja sama untuk menjadikan Timor-Leste sebagai negara yang aman dan kondusif bagi para pekerja serta pengusaha yang mematuhi hukum untuk tinggal, berusaha, dan berkembang,” ujarnya.

Menanggapi pertanyaan mengenai jumlah warga negara China yang diduga terlibat dalam kasus online scam di Timor-Leste, Wang mengatakan Kedutaan Besar China tidak memiliki data rinci dan meminta media merujuk informasi resmi kepada PNTL.

“Saya tidak memiliki informasi rinci mengenai jumlah tersebut. Untuk data spesifik, silakan mengacu kepada PNTL. Setiap warga negara asing yang memasuki wilayah Timor-Leste tercatat oleh otoritas imigrasi. Apabila ditemukan adanya indikasi keterlibatan dalam tindak pidana, maka PNTL bersama lembaga intelijen akan melakukan tindakan sesuai prosedur,” katanya.

Ia menambahkan, Kedutaan Besar China hanya bertugas melindungi hak dan kepentingan warga negaranya yang mematuhi hukum selama berada di Timor-Leste.

“Dalam pemberantasan kejahatan penipuan daring, Pemerintah China dan Pemerintah Timor-Leste memiliki posisi yang sama dan menjalin kerja sama yang sangat baik,” katanya.

Sementara itu, ketika ditanya mengenai kemungkinan deportasi warga negara China yang menjadi tersangka untuk diproses di negaranya, Wang mengatakan hal tersebut bergantung pada kerja sama aparat penegak hukum kedua negara.

“Hal tersebut memerlukan kerja sama antara aparat penegak hukum kedua negara. Apabila aparat penegak hukum Timor-Leste mengajukan permintaan tersebut, maka mitra mereka di China akan memberikan pertimbangan secara positif,” ujarnya.

Fenomena online scamming (penipuan daring) di Timor-Leste dalam setahun terakhir berkembang menjadi ancaman serius terhadap keamanan nasional di negara ini.

Sejak Agustus 2025, aparat keamanan terus mengungkap sejumlah kasus, dimulai dari penangkapan 10 tersangka di Hotel Oeupun, Oecusse, disusul pengungkapan kasus Dragon Lottery yang melibatkan tujuh warga negara China, serta penangkapan 11 tersangka di Jita Plaza dan Colmera.

Memasuki 2026, operasi semakin intensif. Pada 26 Juni, PNTL membongkar pusat scam call center di Tibar dan mengamankan 61 warga negara Indonesia yang diduga memiliki keterkaitan dengan jaringan di Kamboja.

Selanjutnya, pada 8 Juli, aparat mengamankan 29 warga negara asing (27 dari China dan 2 dari Kamboja) di Manleuana, 27 warga negara asing di Metiaut, serta 110 warga negara asing dalam operasi gabungan di Bebonuk, Dili, dengan menyita 88 unit komputer, 13 laptop, dan sejumlah telepon genggam yang diduga digunakan untuk menjalankan aktivitas penipuan daring.

Dari hasil identifikasi terhadap kelompok Bebonuk, Pengadilan Tingkat Pertama Dili pada 13 Juli menetapkan 96 tersangka dikenai uang jaminan sebesar US$3.000 per orang, larangan meninggalkan wilayah Timor-Leste, serta penyitaan paspor selama proses penyidikan atas dugaan tindak pidana perjudian ilegal, asosiasi kriminal, pencucian uang, dan penipuan berbasis teknologi informasi.

Pada hari yang sama, Direktorat Dinas Investigasi Kriminal (DSIK) PNTL kembali menggelar operasi di Ulmera, Kotamadya Liquiçá, dan Kampung Baru, Dili, dengan mengamankan 90 warga negara asing, terdiri atas 75 warga negara Indonesia dan 15 warga negara China, yang diduga terlibat dalam aktivitas online scam.

Secara keseluruhan, hingga pertengahan Juli 2026, aparat keamanan telah mengamankan 342 orang dalam berbagai operasi pemberantasan jaringan online scam di Timor-Leste.

Reporter : Cidalia Fátima

Editor  : Armandina Moniz

iklan
iklan

Leave a Reply

iklan
error: Content is protected !!