DILI, 29 Mei 2026 (TATOLI) — Pemerintah Jepang bersama Kementerian Pertanian, Peternakan, Perikanan dan Kehutanan (MAPPF) menggelar Mini Expo Florikultura selama dua hari di Timor Plaza, Dili, guna mempromosikan sekaligus melestarikan tanaman bunga asli Timor-Leste yang dipamerkan oleh 30 kelompok petani lokal.
Menteri Pertanian, Marcos da Cruz, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari persiapan Timor-Leste untuk mengikuti Green Expo 2027 yang akan berlangsung di Yokohama, Jepang. Melalui Mini Expo itu, pemerintah mulai melakukan seleksi terhadap produk florikultura dan hortikultura asli yang akan dipamerkan dalam ajang internasional tersebut.
“Pagi ini kita mengadakan Mini Expo Florikultura dan Hortikultura selama dua hari sebagai persiapan menuju event besar di Yokohama. Timor-Leste mendapat undangan dari Pemerintah Jepang untuk menampilkan produk florikultura dan hortikultura kita di Green Expo 2027,” kata Marcos da Cruz.
Menurutnya, Pemerintah Jepang akan membantu memfasilitasi berbagai kebutuhan persiapan, sementara Timor-Leste fokus melakukan seleksi terhadap tanaman bunga dan produk hortikultura asli yang dinilai memiliki potensi untuk dipromosikan di tingkat internasional.
Selama expo berlangsung, tim teknis juga melakukan evaluasi terhadap berbagai jenis tanaman guna menentukan produk terbaik yang akan dipersiapkan lebih lanjut sebelum dibawa ke Yokohama pada Maret tahun depan.
Duta Besar Jepang untuk Timor-Leste, Yamamoto Yasushi, mengatakan Green Expo 2027 akan berlangsung dari Maret hingga September tahun depan di Yokohama dengan menampilkan sekitar 10 juta tanaman dan bunga dari berbagai negara kepada para pengunjung.
Menurut Yamamoto, tema Green Expo 2027 adalah “Menciptakan Masyarakat Berkelanjutan dan Bahagia yang Hidup Harmonis dengan Alam”, yang mendorong hubungan harmonis antara manusia dan lingkungan melalui bunga dan penghijauan.
“Dukungan Jepang terhadap pengembangan florikultura di Timor-Leste melalui program budidaya bunga di Maubisse, Aileu dan Ermera guna menggantikan bunga impor dengan produk lokal. Saat ini, bunga lokal tersebut telah tersedia di 10 toko bunga di Dili,” ucapnya.
Yamamoto turut mengapresiasi keputusan Presiden Republik, José Ramos-Horta, yang memilih menggunakan bunga hasil produksi lokal Timor-Leste dalam kegiatan resmi kenegaraan.

Perwakilan kelompok Beautiful Dili and Rose Hera, Gil Alexandrinho, mengaku kegiatan tersebut membantu meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai keberagaman tanaman asli Timor-Leste sekaligus membuka peluang ekonomi bagi petani bunga lokal.
“Kami membawa berbagai jenis tanaman seperti Ekor Tupai, Asparagus, Lohansung dan Sikas. Kami sudah menjalankan usaha bunga selama lima tahun dan setiap bulan bisa memperoleh pendapatan hingga US$500,” katanya.
Sementara itu, perwakilan kelompok Fo Moris Dare, Amelia da Silva Barreto, mengatakan Mini Expo tersebut turut membantu melestarikan sejumlah tanaman yang sebelumnya mulai jarang ditemukan.
“Kini kita bisa melihat kembali tanaman seperti aikasih, anggrek tanah, anggrek pohon dan bunga kertas yang penting untuk dilestarikan,” ujarnya.
Duta Besar Niat Baik untuk Lingkungan Hidup dan Budaya, Ego Lemos, menilai Mini Expo Florikultura menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap konservasi hutan, air dan tanah karena tanaman asli memiliki hubungan erat dengan pelestarian lingkungan.
“Selain memiliki nilai estetika, sejumlah tanaman juga dapat dimanfaatkan untuk kuliner dan pengobatan herbal yang berpotensi mendukung kesehatan masyarakat sekaligus menjadi peluang ekonomi baru,” ucapnya.
Mini Expo Florikultura tersebut tidak hanya menjadi ajang untuk menampilkan keindahan tanaman asli Timor-Leste, tetapi juga memperkuat kerja sama antara Timor-Leste dan Jepang di bidang pertanian, konservasi lingkungan dan promosi budaya.
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz




