DILI, 20 Mei 2026 (TATOLI) — Presiden Republik Timor-Leste, José Ramos-Horta, mengungkapkan bahwa angka harapan hidup masyarakat Timor-Leste meningkat signifikan dari kurang dari 60 tahun pada 2000 menjadi 70 tahun pada 2026, sebagai hasil dari kemajuan sektor kesehatan nasional sejak restorasi kemerdekaan pada 2002.
Pernyataan tersebut disampaikan Presiden Ramos-Horta dalam pidato peringatan ke-24 HUT Restorasi Kemerdekaan Timor-Leste, Selasa (20/05) di Tasi tolu, Dili.
Menurut Kepala Negara, peningkatan harapan hidup bukan sekadar pencapaian statistik, melainkan cerminan dari membaiknya kualitas hidup masyarakat melalui peningkatan nutrisi, penghapusan sejumlah penyakit menular, serta akses layanan kesehatan yang semakin luas.
“Harapan hidup telah meningkat secara signifikan, dari kurang dari 60 tahun pada tahun 2000 menjadi 70 tahun pada tahun 2026. Ini mencerminkan peningkatan kondisi hidup secara keseluruhan,” kata Ramos-Horta.
Presiden Republik menjelaskan bahwa pada 1974 Timor-Leste tidak memiliki dokter lokal, sementara pada 2002 hanya terdapat 19 dokter. Namun kini negara telah berhasil memperkuat sistem kesehatan nasional dengan memiliki 1.025 dokter, termasuk 113 dokter spesialis, 1.774 perawat, serta 915 bidan.
Selain itu, pemerintah juga telah membangun jaringan layanan kesehatan yang terdiri dari enam rumah sakit, 76 pusat kesehatan masyarakat, dan 345 pos kesehatan yang secara bertahap menjangkau seluruh wilayah nasional.
Ramos-Horta menambahkan, sejumlah penyakit yang sebelumnya menjadi ancaman serius bagi masyarakat kini telah berhasil dieliminasi sebagai masalah kesehatan masyarakat, seperti polio, campak, rubella, tetanus ibu dan bayi baru lahir, serta filariasis limfatik.
Bahkan, Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) pada 2024 menyatakan malaria telah berhasil diberantas di Timor-Leste.
Presiden Ramos-Horta menilai pencapaian tersebut merupakan hasil kerja sama nasional dengan dukungan solidaritas komunitas internasional, khususnya WHO dan berbagai mitra pembangunan bilateral maupun multilateral.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada GX Foundation yang berbasis di Hong Kong, dan Republik Rakyat China, atas dukungannya dalam penyediaan ratusan alat pemurnian air minum dan pemberantasan nyamuk penyebab demam berdarah.
Menurut Ramos-Horta, kemajuan sektor kesehatan juga terlihat melalui pembentukan unit perawatan intensif di beberapa rumah sakit, pemasangan unit produksi oksigen nasional pertama, serta pelatihan lebih dari seribu tenaga kesehatan dalam penanganan darurat medis.
Presiden Republik juga turut menyoroti keberadaan Klinik Rakyat yang dibentuk pada 2024 di lingkungan Kepresidenan Republik sebagai bentuk implementasi prinsip konstitusional bahwa layanan kesehatan merupakan hak dasar masyarakat.
Sejak berdiri, klinik tersebut telah memberikan lebih dari 6.421 konsultasi medis, mendistribusikan ribuan obat-obatan dan vitamin, melakukan ratusan pemeriksaan kesehatan termasuk USG dan rontgen, serta menangani berbagai kasus darurat melalui koordinasi dengan sistem kesehatan publik dan Pusat Kesehatan Bairro Pité.
Meski demikian, Ramos-Horta mengakui tantangan di sektor kesehatan masih cukup besar. Ia menyebut indeks cakupan kesehatan universal Timor-Leste masih berada di kisaran 52 poin, yang menunjukkan masih adanya kesenjangan akses dan kualitas layanan, terutama di daerah pedesaan tempat sekitar 63 persen penduduk tinggal.
“Kita telah meninggalkan tahap rekonstruksi dasar sistem kesehatan, tetapi masih harus mengkonsolidasikan model yang benar-benar universal, adil, dan berkelanjutan,” tegas Presiden Republik.
Ia menambahkan bahwa penguatan sistem kesehatan nasional akan menjadi salah satu tantangan terbesar Timor-Leste dalam dekade mendatang.
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz




