DILI, 03 Desember 2025 (TATOLI)— Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bersama Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Timor-Leste meningkatkan manajemen terpadu Demam Berdarah Dengue (DBD) dan penyakit menular vektor lainnya dengan menyelenggarakan pelatihan bagi tenaga kesehatan profesional.
“Sesi nasional ini bertujuan untuk persiapan dan peningkatan kapasitas yang didedikasikan bagi manajemen terpadu demam berdarah dan penyakit menular vektor lainnya, serta untuk memperkuat kompetensi klinis yang penting bagi respons cepat dan efektif terhadap wabah,” kata Wakil Menteri Kesehatan untuk Promosi Kesehatan, Jose Magno, dalam lokakarya di Hotel Novo Turismo, Dili, Rabu ini.
Ia mengatakan lokakarya yang diselenggarakan selama tiga hari, mulai hari ini hingga 05 Desember, dan merupakan momen strategis untuk mengonsolidasikan kemajuan yang telah dicapai Timor-Leste di sektor kesehatan, sekaligus mempersiapkan sistem nasional menghadapi tantangan yang muncul terkait penyakit menular.
“Kita sekarang berada pada tahap yang menentukan dalam pembangunan kesehatan kita. Berantasnya malaria merupakan tonggak bersejarah bagi negara kita dan seluruh kawasan. Namun, eliminasi ini bukan berarti berakhirnya ancaman. Ancaman ini diperparah oleh faktor-faktor seperti perubahan iklim, percepatan urbanisasi, dan meluasnya tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa penguatan kapasitas teknis, surveilans epidemiologi, dan kapasitas respons bukan hanya rekomendasi teknis, tetapi juga merupakan komitmen yang kuat.
“Hari ini Pemerintah Timor-Leste, melalui Kementerian Kesehatan, menegaskan kembali komitmennya untuk memperkuat surveilans pasca-eliminasi malaria secara ilmiah. Pelatihan tim kota yang kompeten, yang mampu mendeteksi, menyelidiki, dan melakukan intervensi secara cepat dan efektif dalam menghadapi setiap ancaman epidemiologi, menjadi prioritas kami,” lapornya.
Wamenkes itu menegaskan bahwa komitmen ini akan mencapai hasil maksimal jika ada keterlibatan aktif dari semua pihak, termasuk dokter, teknisi surveilans, agen masyarakat, pengelola, mitra, dan pengambil keputusan politik.
Ditempat yang sama, Perwakilan WHO di Timor-Leste, Arvind Mathur, mengatakan bahwa lokakarya ini mencakup Manajemen Klinis Demam Berdarah dan fase kedua kesadaran nasional mengenai Strategi Pengendalian Penyakit yang Ditularkan Melalui Vektor Terpadu, atau Konferensi Penyakit yang Ditularkan Melalui Vektor Internasional (IVBDC).
“Pertama-tama, saya ingin menyampaikan penghargaan kepada Kemenkes atas kehadirannya bersama kita hari ini. Kepemimpinan dan komitmen Anda terus mendorong kita semua untuk bekerja memperkuat kapasitas Timor-Leste dalam mencegah, mendeteksi, dan merespons penyakit yang ditularkan melalui vektor,” jelas Arvind.
Menurutnya, demam berdarah tetap menjadi ancaman utama secara global, didorong oleh perubahan iklim, meningkatnya urbanisasi, dan perpindahan penduduk yang cepat. Timor-Leste juga mengalami peningkatan berulang dalam wabah demam berdarah, chikungunya, dan kasus Zika pertama yang terkonfirmasi.
“Realitas ini dengan jelas menunjukkan mengapa kita harus berfokus pada manajemen klinis berkualitas tinggi, diagnosis dini dan akurat, serta tindakan kesehatan masyarakat yang cepat dan tegas,” tuturnya.
Lokakarya ini merupakan bagian dari visi Timor-Leste yang lebih luas untuk mempertahankan status bebas malaria dan bergerak menuju Pengendalian Penyakit yang Ditularkan Vektor Terpadu Penuh (PPVB).
Setelah sertifikasi bebas malaria bersejarah dari WHO pada Juli 2025, langkah selanjutnya adalah mencegah kembalinya malaria dan mengadopsi pendekatan terpadu, efisien, dan multisektoral melalui strategi PPVB, yang dikembangkan bersama Kementerian Kesehatan dengan dukungan teknis WHO.
Untuk diketahui bahwa, Manajemen terpadu DBD mencakup pencegahan penyakit melalui program PSN 3M Plus (menguras, menutup, memanfaatkan kembali + plus), penanggulangan kasus secara terpadu dengan penekanan pada penanganan klinis dan pengendalian faktor risiko di lingkungan, serta keterlibatan masyarakat dan lintas sektor.
Reporter: Mirandolina Barros Soares
Editor: Armandina Moniz




