DILI, 24 November 2025 (TATOLI) — Dana Kependudukan Perserikatan Bangsa-Bangsa di Timor-Leste (UNFPA), bersama Kementerian Kesehatan, memberikan pelatihan kepada Tenaga kesehatan (Nakes) profesional tentang pemeriksaan forensik untuk memberikan perawatan kepada korban Kekerasan Berbasis Gender (KBG).
“Ini merupakan pencapaian yang menunjukkan dedikasi Pemerintah untuk memastikan bahwa para penyintas KBG menerima layanan medis dan forensik berkualitas tinggi,” kata Perwakilan UNFPA di Timor-Leste, Umbelina Rodrigue, di INSPTL Comoro Dili, Senin ini.
Ia menjelaskan bahwa UNFPA di Timor-Leste juga meminta Institut Kesehatan Masyarakat Nasional Timor-Leste (INSPTL) untuk memimpin proses koordinasi dan standardisasi yang harus dijalankan dengan baik.
“Saya meminta INSPTL untuk memimpin proses koordinasi dan standardisasi serta menyelenggarakan pelatihan penting ini dengan baik. Pemeriksaan medis forensik memainkan peran penting, tidak hanya dalam menanggapi kebutuhan kesehatan langsung para korban, tetapi juga dalam mendukung keadilan, akuntabilitas, dan martabat mereka,” ujarnya.
Dikatakan, penyedia layanan kesehatan harus memiliki keterampilan, pengetahuan, dan kepercayaan diri untuk melakukan pemeriksaan medis forensik yang berkualitas tinggi, terstandarisasi, dan berpusat pada korban, karena hal ini sangat penting bagi sistem respons KBG nasional.
“Institut Kesehatan Masyarakat Nasional Timor-Leste (INSPTL), dengan dukungan teknis dan finansial dari Kemitraan Pembangunan Manusia (PHD) dan UNFPA, serta fasilitasi oleh HAMNASA, telah memimpin inisiatif ini. Pertama-tama, saya ingin menyampaikan penghargaan tulus kepada PHD atas dukungan berkelanjutan mereka untuk memperkuat layanan tanggap darurat di Timor-Leste, termasuk pelatihan KBG. Saya juga ingin menyampaikan rasa terima kasih sebesar-besarnya kepada Dr. Margaret yang telah memimpin pengembangan modul pelatihan baru tentang pemeriksaan medis forensik,” jelasnya.
UNFPA meminta semua pihak untuk berkontribusi guna memastikan bahwa paket pelatihan akhir ini berkualitas, praktis, berkelanjutan, dan dapat digunakan di seluruh negeri.
Di tempat yang sama, Pelatih Mário Sarmento menyampaikan bahwa pelatihan ini sangat penting untuk meningkatkan pengetahuan tenaga kesehatan tentang cara berkomunikasi dan memberikan perawatan yang baik kepada pasien korban Kekerasan Berbasis Gender.
“Tujuan pelatihan hari ini adalah untuk menstandardisasi protokol pemeriksaan forensik bagi tenaga kesehatan dan penerapannya di semua fasilitas kesehatan, termasuk dokter, bidan, dan mitra pembangunan yang terlibat dalam penanganan kekerasan berbasis gender. Pelatihan ini sangat penting untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mereka agar dapat berkomunikasi dan memberikan bantuan yang efektif kepada pasien,” ujar Mário Sarmento.
Pelatihan berlangsung selama lima hari, dari Senin hingga Jumat, dengan 15 peserta, dan pelatihnya berasal dari Australia.
Reporter : Mirandolina Barros Soares
Editor : Armandina Moniz.




