DILI, 18 November 2025 (TATOLI) — Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bersama para mitra pembangunan menyelenggarakan lokakarya nasional untuk merumuskan pendekatan perilaku dalam upaya menurunkan angka kematian ibu di Timor-Leste.
Perwakilan Dana Kependudukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNFPA) di Timor-Leste, Navchaa Suren, menjelaskan bahwa lokakarya ini merupakan bagian dari proses diseminasi hasil kajian mengenai intervensi perubahan perilaku berbasis komunitas.
“Kita mengetahui bahwa Timor-Leste telah mencatat kemajuan signifikan dalam peningkatan kesehatan seksual dan reproduksi, termasuk kesehatan ibu, sejak kemerdekaan. Namun angka kematian ibu masih berada pada 195 per 100.000 kelahiran hidup, sebuah angka yang masih sangat tinggi,” tegas Navchaa di Hotel Timor, Selasa ini.
Ia menekankan bahwa setiap kematian ibu merupakan kehilangan yang besar, tidak hanya bagi perempuan yang meninggal, tetapi juga bagi keluarga, komunititas, serta pembangunan nasional secara keseluruhan.
Navchaa Suren juga mengungkapkan bahwa hampir separuh persalinan di Timor-Leste masih terjadi di rumah, sementara 52% perempuan menghadapi berbagai hambatan untuk mengakses layanan kesehatan ibu yang esensial.
“Jarak ke fasilitas kesehatan, ketersediaan transportasi, dan kurangnya informasi menjadi beberapa kendala utama. Selain itu, norma sosial, budaya, dan gender, serta dinamika kekuasaan dalam keluarga turut memengaruhi keputusan perempuan untuk mencari bantuan medis,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa rekomendasi hasil penelitian akan memberikan dasar ilmiah bagi pemerintah dan mitra pembangunan dalam merancang intervensi perilaku yang dapat meningkatkan motivasi, kepercayaan diri, dan dukungan sosial bagi perempuan untuk mengakses layanan kesehatan.
Sementara itu, Direktur Jenderal Kebijakan, Perencanaan, Kerja Sama, dan Pembangunan Kesehatan, Florindo Gonzaga, menegaskan komitmen Kementerian Kesehatan terhadap peningkatan kesehatan ibu melalui penguatan layanan kesehatan primer dan pendekatan berbasis komunitas.
“Kita harus memanfaatkan sesi hari ini sebagai peluang untuk bergerak dari analisis ke tindakan nyata. Upaya kolektif kita harus mampu membawa perubahan signifikan bagi para ibu, keluarga, dan seluruh komunitas,” ujarnya.
Florindo juga menyampaikan apresiasi kepada Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia (DFAT) atas dukungan pendanaan, serta kemitraan teknis antara UNFPA dan Universitas Tasmania yang memungkinkan terlaksananya program ini.
Lokakarya tersebut dihadiri oleh tenaga kesehatan, pemimpin desa, dan relawan kesehatan masyarakat dari Dili, Ermera, dan Oé-Cusse.
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz




