iklan

HEADLINE, SOSIAL INKLUSIF

Kolaborasi UNESCO – AJTL perkuat jurnalisme lingkungan di Timor-Leste  

Kolaborasi UNESCO – AJTL perkuat jurnalisme lingkungan di Timor-Leste   

Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, AJTL bersama UNESCO menggelar lokakarya bertajuk “Enhancing Climate Reporting in Timor-Leste”. Foto Tatoli/Cidalia Fátima

DILI, 20 Juni 2025 (TATOLI)– Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Asosiasi Jurnalis Timor Lorosa’e (AJTL) bersama Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) menggelar lokakarya bertajuk “Enhancing Climate Reporting in Timor-Leste”.

Lokakarya ini dihadiri oleh 19 jurnalis dari berbagai platform media, radio, televisi, cetak, dan daring dengan tujuan meningkatkan kapasitas peliputan isu perubahan iklim di Timor-Leste, salah satu negara yang paling terdampak meski memiliki kontribusi rendah terhadap emisi karbon global.

Ketua AJTL, Zevonia Vieira, menekankan bahwa kolaborasi ini merupakan langkah konkret untuk memperkuat peran jurnalis dalam menghadirkan liputan mendalam mengenai isu-isu lingkungan, terutama perubahan iklim.

“Bulan Juni ini dunia merayakan Hari Lingkungan Sedunia. Untuk itu, UNESCO berkolaborasi dengan AJTL agar para jurnalis mampu membuat liputan yang tajam dan bermakna tentang perubahan iklim, khususnya di wilayah-wilayah kecil seperti Timor-Leste yang terkena dampak besar,” ujar Zevonia di kantor HAK, Farol, Jumat ini.

Zevonia juga menyoroti pentingnya melibatkan kelompok rentan seperti perempuan, anak-anak, dan masyarakat pedesaan dalam narasi media. Menurutnya, UNESCO telah mencatat minimnya peliputan lingkungan di negara ini dan siap mendukung AJTL untuk memperbaiki keadaan tersebut.

“Melalui lokakarya ini, 19 jurnalis akan menyusun rencana peliputan bersama. Mereka akan mendapat dukungan dana dari UNESCO dan memiliki waktu hingga tiga bulan untuk menyelesaikan liputan mereka,” tambah Zevonia.

Ana Lomtadze, Kepala Unit Komunikasi dan Informasi UNESCO Jakarta, menggarisbawahi bahwa perubahan iklim merupakan isu eksistensial dunia yang belum cukup terangkat karena kendala biaya, kompleksitas materi ilmiah, serta kesulitan dalam menyajikan narasi yang konstruktif.

“Banyak media, termasuk di Timor-Leste, tidak memiliki sumber daya untuk memiliki desk lingkungan. Padahal, walau kontribusi emisinya kecil, negara ini sangat terdampak oleh cuaca ekstrem, curah hujan berlebihan, hingga siklon,” jelas Ana.

Ia menekankan pentingnya menggunakan pendekatan jurnalisme solusi dalam peliputan iklim. “Kita harus bisa menyampaikan cerita yang memberi konteks dan juga harapan. Dan bagaimana konten-konten seperti ini juga bisa dimonetisasi agar media bisa tetap bertahan,” tuturnya.

Harry Suryadi, pelatih dalam lokakarya ini sekaligus jurnalis senior dengan lebih dari 25 tahun pengalaman di bidang peliputan lingkungan, memaparkan pentingnya jurnalisme berkualitas dalam isu lingkungan yang semakin mendesak.

“Persoalan terbesar dunia saat ini adalah lingkungan. Di dalam pelatihan ini saya akan berbagi mengenai bagaimana jurnalis berpikir ketika saya harus meliput lingkungan apa yang harus saya tanyakan, apa yang harus saya cari, apa yang harus saya ketahui, dan apa yang harus saya laporkan, dan bagaimana saya melaporkannya supaya liputan-liputannya ketika sudah ditayangkan itu bisa memberi dampak dan menyelesaikan persoalan-persoalan yang ada. Itu target saya untuk dua hari ini. Mudah-mudahan bisa tercapai,” ungkapnya.

Harry menyoroti pentingnya berpikir kritis dan skeptis dalam peliputan agar informasi yang disampaikan valid dan berdampak.

Melalui pelatihan ini, diharapkan muncul jurnalis-jurnalis muda yang tidak hanya mampu melaporkan fakta secara akurat, tetapi juga berkontribusi dalam membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan.

Reporter : Cidalia Fátima

Editor : Armandina Moniz

iklan
iklan

Leave a Reply

iklan
error: Content is protected !!