DILI, 23 Mei 2025 (TATOLI)— Perdana Menteri Timor-Leste, Kay Rala Xanana Gusmão, menyerukan kepada komunitas internasional untuk menjadikan dekolonisasi sebagai agenda global yang mendesak.
Seruan ini disampaikan dalam pidato penutupan Seminar Regional Pasifik tentang Dekolonisasi yang berlangsung selama di Palm Springs Hotel, jumat ini. Seminar Regional Pasifik tentang Dekolonisasi sendiri telah berlangsung selama tiga hari di Dili.
Dalam sambutannya, Xanana Gusmão menekankan bahwa perjuangan rakyat Timor-Leste menjadi bukti bahwa hak untuk menentukan nasib sendiri bukan hanya prinsip moral, tetapi juga kewajiban hukum internasional yang harus ditegakkan secara kolektif.
“Keberhasilan Timor-Leste adalah kemenangan sistem internasional. Hukum internasional adalah senjata paling kuat yang dimiliki oleh bangsa-bangsa kecil dan rentan dalam menghadapi penindasan serta penjajahan,” tegas Xanana dalam pidatonya di Palm Spring Hotel, jumat ini.
Seminar yang mengusung tema “Pathways to a Sustainable Future – Advancing Socioeconomic and Cultural Development of the Non-Self-Governing Territories” dihadiri oleh anggota Komite Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Dekolonisasi (C24), serta delegasi dari berbagai wilayah yang masih berstatus non-pemerintahan sendiri.
Xanana juga mengungkapkan solidaritasnya terhadap perjuangan rakyat Sahara Barat, Palestina, dan wilayah-wilayah lain yang hingga kini belum menikmati kemerdekaan penuh.
Ia mengenang bahwa pengalaman rakyat Timor-Leste yang melewati 24 tahun pendudukan dan diplomasi keras di PBB, kini menjadi pelajaran berharga bagi bangsa-bangsa lain.
“Kami tahu rasanya ketika hak tak dapat dinegosiasikan, dirampas dari tangan kami. Namun kami memilih jalan damai, strategi, dan pengorganisasian rakyat,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa kemerdekaan hanya dapat dicapai jika ada kemauan dan keberanian rakyat untuk bersuara.
Menyinggung peran Indonesia dalam masa lalu, Xanana secara terbuka membedakan antara rezim dan rakyat Indonesia. Ia menyebut banyak kelompok masyarakat sipil Indonesia yang turut mendukung perjuangan Timor-Leste.
Ia juga mengkritik kepentingan ekonomi global yang kerap menjadi hambatan dalam proses dekolonisasi. “Kami adalah korban keserakahan, di mana sumber daya lebih dihargai daripada martabat manusia,” katanya.
Mengakhiri pidatonya, Xanana menyampaikan harapan agar hasil dari seminar ini mampu mendorong tindakan nyata dalam memperkuat identitas budaya serta keberlanjutan sosial-ekonomi wilayah-wilayah yang belum merdeka.
“Kita harus menghapus warisan kolonialisme, dan semua kepentingan ekonomi yang menyangkal hak rakyat atas penentuan nasib sendiri. Sampai kedaulatan dijamin sebagai hak berdasarkan hukum internasional, tidak ada satu pun bangsa yang boleh dibungkam,” pungkasnya.
Reporter: Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz




