iklan

KESEHATAN, HEADLINE

Sejak 2024 hingga Juni 2025, lima orang meninggal dunia terkonfirmasi terjangkit rabies

Sejak 2024 hingga Juni 2025, lima orang meninggal dunia terkonfirmasi terjangkit rabies

Kementerian Kesehatan melalui Institut Kesehatan Masyarakat Nasional Timor-Leste dan Direktorat Veteriner Nasional di Kementerian Pertanian dan Peternakan, menggelar konferensi pers terkait kasus rabies. Foto Tatoli

DILI, 16 Juni 2025 (TATOLI)— Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melalui Institut Kesehatan Masyarakat Nasional Timor-Leste (INSP-TL) dan Direktorat Veteriner Nasional di Kementerian Pertanian dan Peternakan, mengumumkan bahwa, sejak tahun 2024 hingga saat ini, lima orang telah meninggal dunia akibat terjangkit penyakit rabies di kotamadya Ermera, Bobonaro dan RAEOA.

“Sejak tahun 2024 hingga 15 Juni tahun ini, lima orang meninggal dunia, akibat gigitan anjing, yaitu satu di Kotamadya Ermera, satu di Bobonaro satu dan tiga di RAEOA (Daerah Administratif Khusus Oe-Cusse Ambeno),” kata Direktur Jenderal INSP-TL, Nevio Sarmento dalam konferensi pers di Kementerian Kesehatan, Caicoli Dili, senin ini.

Ia menegaskan bahwa saat ini Timor-Leste tengah dilanda wabah penyakit rabies yang telah menewaskan lima orang dan satu orang masih dirawat di Rumah Sakit Nasional Guido Valadares (HNGV). Peristiwa tragis ini menunjukkan bahwa penyakit rabies bukan lagi masalah kesehatan hewan, tetapi juga kedaruratan kesehatan masyarakat.

“Sampai dengan tahun 2024 sistem penelitian kesehatan nasional telah mencatat 1.445 kasus gigitan anjing, yang mana 96 ekor anjing terkonfirmasi positif rabies, dan lima orang meninggal dunia dimana terkonfirmasi positif rabies,” tuturnya.

Dijelaskan, hal ini menunjukkan bahwa penularan rabies antara hewan dan manusia masih tinggi, dimana terdapat 1.445 kasus gigitan anjing, dan diantaranya 41% kasus gigitan anjing, yang mana tergolong kasus gigitan anjing paling berbahaya dan perlu mendapat penanganan atau antibodi sebagai pencegahan yang mendesak, namun hingga saat ini dari jumlah tersebut hanya 18% yang mendapatkan vaksin.

“Sampai saat ini kita baru 18% yang sudah menerima vaksin. Soal vaksin anti rabies dari 1.445 kasus yang berjumlah 66% orang yang digigit anjing sudah menerima vaksin,  sebagian besar belum menyelesaikan lima (5) dosis vaksin. Jadi, anjuran ini sangat penting untuk memberikan perlindungan yang lengkap,” katanya.

Ia juga mengatakan berdasarakan data Direksi Nasional INSPTL melihat bahwa adanya kasus kematian dikarenakan banyak orang yang tidak menerima vaksin lengkap. Dan kita memprediksi bahwa akan ada lagi kasus kematian rabies sekitar 80 orang hingga 120 orang ke depannya,” ungkapnya.

Ia mengimbau bahwa, jika adanya masyarakat yang di gigit oleh anjing maka mulai muncul beberapa gejala, sehingga harus dilakukan penanganan serius. Seperti saat ini ada satu orang yang positif rabies dan di rawat di HNGV dengan kondisi kritis.

Dijelaskan, rabies 100% akan menyebabkan kematian, namun jika digigit anjing rabies dan sebelum 24 jam langsung segera ditangani di pusat kesehatan maka 100% dapat dicegah.

“Kami minta kepada seluruh masyarakat untuk serius menangani kasus gigitan anjing karena sudah menjadi wabah. Jika, ada saudara atau seseorang yang mengalami gigitan anjing segera laporkan ke puskesmas terdekat agar segera mendapatkan pertolongan dan penanganan. Termasuk melakukan vaksinasi pada anjing,” tegasnya.

Di tempat yang sama, Direktur Veteriner MAP, Joanita Bendita João, menginformasikan bahwa terkait kasus yang terjadi di Rai-robo, Kecamatan Atabae, Bobonaro, ada enam orang yang digigit  anjing, maka dari pihak teknis veteriner dan peternakan sudah mengambil sampel, dan  menunjukkan bahwa anjing tersebut positif rabies.

“Kasus yang terjadi di Desa Rai-robo, ada enam orang yang digigit anjing, dan tim teknisi peternakan dan dokter hewan sudah mengambil sampel hasil uji, dan hari ini dilaporkan positif rabies,” kata Joanita Bendita João.

Dijelaskannya, tim sudah mengambil sampel dan hasilnya menunjukkan positif rabies, maka dari itu mereka juga akan melakukan vaksinasi lebih banyak lagi kepada anjing-anjing di sekitar lokasi kejadian. Karena, sesuai standar biasanya semua anjing di sekitar lokasi kejadian harus divaksin.

Sementara itu, stok vaksin anti rabies, saat ini yang tersedia Gudang INFPM sebanyak 870. Dan stok tersebut akan ditambah dan dijamin selama satu bulan, sehingga Pemerintah juga berencana untuk membeli lebih banyak vaksin rabies.

Perlu diketahui, tanda-tanda anjing rabies bisa meliputi perubahan perilaku seperti :

  • Peningkatan agresif
  • Air liur berlebihan
  • Kesulitan menelan
  • Kejang-kejang
  • Kelumpuhan
  • Anjing juga mungkin menjadi lebih sensitif terhadap cahaya dan suara
  • Serta menunjukkan ketakutan terhadap air

Berikut adalah langkah-langkah detail yang perlu dilakukan, jika seseorang digigit anjing yang diduga rabies yaitu :

  • Cuci Luka : Segera cuci luka gigitan dengan air mengalir dan sabun selama 10-15 menit. Tekan perlahan luka untuk membantu mengeluarkan kotoran dan air liur anjing
  • Hentikan Perdarahan : Jika luka berdarah, hentikan perdarahan dengan menekan luka menggunakan kain bersih atau perban
  • Perawatan Medis : Segera bawa korban ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan perawatan medis lebih lanjut
  • Vaksinasi Anti Rabies (VAR) dan Serum Anti Rabies (SAR) : Dokter akan menentukan apakah korban memerlukan VAR dan SAR berdasarkan kondisi luka dan risiko rabies
  • Pantau Kondisi Anjing (Jika Memungkinkan) : Jika memungkinkan, amati perilaku anjing yang menggigit selama 10 hari ke depan. Jika anjing menunjukkan gejala rabies (seperti agresivitas, air liur berlebihan, dll.), segera laporkan ke petugas kesehatan dan dinas terkait
  • Hindari Pengobatan Sendiri : Jangan mencoba mengobati luka gigitan sendiri dengan obat-obatan tradisional atau herbal tanpa konsultasi dokter
  • Laporkan Kejadian : Laporkan kejadian gigitan anjing ke pihak berwenang (dinas kesehatan, dinas peternakan, dll.) untuk penanganan lebih lanjut.

Penting untuk diingat bahwa rabies adalah penyakit yang sangat serius dan dapat berakibat fatal jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat.

Reporter : Mirandolina Barros Soares

Editor     : Armandina Moniz

iklan
iklan

Leave a Reply

iklan
error: Content is protected !!