DILI, 28 Juni 2026 (TATOLI) – Paus Leo XIV menutup Konsistori Luar Biasa yang berlangsung di Vatikan pada 26–27 Juni 2026 dengan mengajak seluruh Gereja Katolik membangun budaya dialog, memperkuat semangat sinodalitas, serta menjadi pembawa harapan di tengah dunia yang masih dilanda perang, kemiskinan, ketidakadilan, dan krisis hubungan antarmanusia.
Dalam pidato penutupan yang disampaikan di Aula Sinode Baru, Sabtu (27/06), Paus Leo XIV terlebih dahulu menyampaikan solidaritas kepada rakyat Venezuela yang terdampak gempa bumi dahsyat beberapa hari terakhir.
“Kami menjamin doa bagi para korban, keluarga mereka, dan semua yang menderita akibat tragedi ini. Kami juga mempercayakan kepada Tuhan semua yang terlibat dalam operasi penyelamatan dan berharap solidaritas masyarakat internasional terhadap bangsa yang kami kasihi itu tidak pernah surut,” ujar Paus.
Mengakhiri dua hari Konsistori, Paus menyampaikan rasa syukur atas suasana persaudaraan dan semangat gerejawi yang ditunjukkan para kardinal selama pertemuan.
“Kami bersama-sama mencari kehendak Tuhan dengan keyakinan bahwa Kristus terus berkarya di dalam Gereja-Nya. Dialah yang berjalan di depan kita, mempersatukan kita, berbicara melalui saudara-saudara kita, dan menuntun kita dalam misi,” katanya.
Menurut Paus, kehadiran para kardinal dari berbagai Gereja lokal, budaya, dan latar belakang yang berbeda menjadi sumber penghiburan dan harapan karena seluruh peserta mampu saling mendengarkan untuk mencari apa yang paling baik bagi pewartaan Injil.
Paus Leo XIV menegaskan bahwa sinodalitas tidak boleh dipahami hanya sebagai metode organisasi atau sekadar rangkaian pertemuan.
“Pertanyaan utama sinodalitas bukanlah siapa yang memiliki kuasa untuk mengambil keputusan, melainkan bagaimana kita bersama-sama menjaga anugerah yang Tuhan percayakan kepada Gereja,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa perjalanan sinodal lahir dari perjumpaan, berkembang melalui sikap saling mendengarkan, dan mencapai kedewasaan melalui proses penegasan yang dipimpin Roh Kudus. Karena itu, ia meminta para kardinal terus mendorong penerapan semangat sinodal di Gereja-Gereja lokal.
Selain menyoroti perang, kemiskinan, ketidakadilan, dan kekerasan yang terjadi di berbagai belahan dunia, Paus mengatakan bahwa akar persoalan yang lebih mendalam adalah krisis relasi antarmanusia.
“Krisis itu berupa kesepian, hilangnya harapan, rusaknya hubungan antarmanusia, dan semakin sulitnya melihat satu sama lain sebagai saudara dan saudari,” ujarnya.
Ia secara khusus menyoroti kondisi generasi muda yang sedang mencari makna hidup dan keaslian diri, namun dalam beberapa kasus mengalami penderitaan yang bahkan berujung pada tindakan mengakhiri hidup.
Paus juga kembali menegaskan pentingnya keluarga sebagai tempat pertama membangun relasi, solidaritas, dan harapan. Dalam kaitan itu, ia mengumumkan akan mengadakan pertemuan pada Oktober mendatang bersama para pemimpin Gereja Timur dan para ketua konferensi uskup untuk mengevaluasi penerimaan dokumen Amoris Laetitia, dengan melibatkan keluarga-keluarga Katolik.
Dalam bagian lain pidatonya, Paus menekankan bahwa perang tidak hanya lahir dari konflik antarnegara, tetapi juga dari budaya kekuasaan yang merasuki hubungan antarmanusia, ekonomi, politik, teknologi, bahkan kehidupan beragama.
Sebagai tanggapan, ia mengajak Gereja membangun budaya kerja sama dan dialog, memperkuat multilateralisme, serta mendorong keterlibatan umat awam dalam kehidupan publik berdasarkan ajaran sosial Gereja.
Paus juga menegaskan bahwa pilihan tanpa kekerasan merupakan sikap yang sungguh-sungguh Injili. Menurutnya, sikap tersebut bukan berarti pasif, melainkan menghadapi konflik tanpa mengulangi lingkaran kebencian.
Ia mengungkapkan bahwa sejumlah kelompok kerja selama Konsistori juga meminta adanya pendalaman teologis dan pastoral mengenai konsep pembelaan diri yang sah, mengingat perubahan karakter konflik pada masa kini.
Mengenai pembaruan Gereja, Paus Leo XIV mengatakan bahwa reformasi tidak hanya bergantung pada perubahan struktur kelembagaan, tetapi terutama pada kesaksian nyata komunitas Kristiani yang hidup sesuai Injil.
“Gereja dipanggil untuk semakin menjadi seperti apa yang diberitakannya,” katanya.
Paus menambahkan bahwa setiap pembaruan institusional hanya akan menghasilkan buah apabila berakar pada perjumpaan dengan Kristus dan kehidupan sakramental.
Ia juga mengumumkan rencana untuk menyelenggarakan Konsistori serupa setiap tahun mulai 2027, meskipun jadwal pelaksanaannya masih akan diumumkan pada akhir tahun ini.
Menutup pidatonya, Paus mengajak seluruh Gereja di dunia untuk meneruskan seruan perdamaian yang telah menjadi kesepakatan bersama para kardinal.
“Tuhan terus membuka jalan rekonsiliasi dan perdamaian dalam sejarah. Kita memiliki tanggung jawab untuk berjalan di jalan itu dengan berani dan membantu dunia mengenalinya,” ujar Paus.
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz




