DILI, 16 Juni 2026 (TATOLI) – Presiden Republik Timor-Leste sekaligus Peraih Nobel Perdamaian, José Ramos-Horta, menyampaikan belasungkawa yang mendalam kepada Raja Thailand, Yang Mulia Raja Maha Vajiralongkorn Phra Vajiraklaochaoyuhua, Keluarga Kerajaan, dan seluruh rakyat Thailand atas wafatnya Yang Mulia Putri Bajrakitiyabha Mahidol.
Biro Rumah Tangga Kerajaan Thailand mengumumkan sang putri Bajrakitiyabha Mahidol meninggal dunia pada Kamis (11/6/2026) malam di Rumah Sakit Chulalongkorn, Bangkok.
Dalam pesan resmi yang dikirimkan kepada Raja Thailand pada 12 Juni 2026, Presiden Ramos-Horta memberikan penghormatan atas dedikasi Putri Bajrakitiyabha sepanjang hidupnya dalam pelayanan publik serta komitmennya terhadap kesejahteraan kelompok rentan.
“Saya menyampaikan belasungkawa yang tulus dan simpati yang mendalam kepada Yang Mulia, Keluarga Kerajaan, dan rakyat Kerajaan Thailand pada masa berkabung ini. Yang Mulia Putri akan dikenang atas pengabdiannya yang luar biasa kepada negaranya serta komitmennya dalam pelayanan publik, khususnya di bidang keadilan, hak asasi manusia, dan pembangunan sosial, termasuk dukungannya terhadap kelompok-kelompok rentan,” ujar Ramos-Horta dalam pesannya.
Presiden Ramos-Horta juga menegaskan bahwa rakyat Timor-Leste berdiri bersama rakyat Thailand dalam menghadapi kehilangan besar tersebut.
Putri berusia 47 tahun itu meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif selama lebih dari tiga tahun akibat koma yang dideritanya sejak Desember 2022.
Menurut keterangan Istana Kerajaan yang dikutip BBC News, Putri Bajrakitiyabha pingsan saat sedang melatih anjing peliharaannya pada Desember 2022. Tim medis menyatakan kondisi tersebut dipicu oleh gangguan irama jantung yang sangat serius akibat infeksi mycoplasma pada jantung.
“Tim medis telah memberikan perawatan yang paling dekat dan intensif, namun kondisinya terus memburuk secara progresif,” demikian pernyataan Istana Kerajaan Thailand.
Putri Bajrakitiyabha lahir pada 7 Desember 1978 dan merupakan anak sulung dari tujuh anak Raja Vajiralongkorn. Ia dikenal sebagai salah satu anggota keluarga kerajaan Thailand yang paling berprestasi dan berpengaruh.
Memiliki latar belakang pendidikan hukum, Putri Bajrakitiyabha meraih dua gelar pascasarjana dari Cornell University di Amerika Serikat. Ia pernah bertugas di Misi Tetap Thailand untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York sebelum bekerja di Kantor Jaksa Agung Thailand.
Antara 2012 hingga 2014, ia menjabat sebagai Duta Besar Thailand untuk Austria dan membangun kerja sama erat dengan Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Narkoba dan Kejahatan (UNODC). Dalam berbagai kesempatan, ia dikenal sebagai pendukung reformasi sistem pemasyarakatan, terutama bagi perempuan rentan yang menjalani hukuman penjara.
Setelah kembali ke Thailand, Putri Bajrakitiyabha ditunjuk sebagai Duta UNODC untuk Penegakan Hukum di Asia Tenggara dan terus memperjuangkan reformasi sistem peradilan pidana, termasuk peninjauan terhadap hukuman berat bagi pelanggaran narkotika dalam jumlah kecil.
Selain aktif di bidang hukum dan hak asasi manusia, Putri Bajrakitiyabha juga dikenal sebagai pecinta olahraga dan sering mengikuti lomba lari jarak jauh. Pada 2021, Raja Vajiralongkorn mengangkatnya sebagai Kepala Staf Pengawal Pribadi Kerajaan dengan pangkat jenderal.
Kepergian Putri Bajrakitiyabha juga kembali memunculkan perhatian terhadap isu suksesi Kerajaan Thailand. Sebagai putri tertua Raja Vajiralongkorn, ia selama ini dipandang banyak kalangan sebagai salah satu figur paling menonjol dalam keluarga kerajaan dan dianggap memiliki kapasitas untuk memainkan peran penting dalam masa depan monarki Thailand.
Hingga kini Raja Vajiralongkorn yang berusia 73 tahun belum secara resmi menunjuk pewaris takhta. Meskipun tradisi kerajaan Thailand mengutamakan pewaris laki-laki, amendemen konstitusi tahun 1974 memungkinkan seorang perempuan untuk menduduki takhta kerajaan.
Dengan wafatnya Putri Bajrakitiyabha, Thailand kehilangan salah satu tokoh kerajaan yang paling aktif dalam pelayanan publik, sementara pertanyaan mengenai suksesi kerajaan masih belum terjawab.
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz




