DILI, 09 April 2026 (TATOLI) – Perdana Menteri, Kay Rala Xanana Gusmão mengatakan Timor-Leste tidak dapat menggunakan mata uangnya sendiri karena tidak ada dasar untuk memberikan nilai pada mata uang tersebut.
“Banyak orang bertanya mengapa kita tidak menggunakan uang kita sendiri. Ya, kita bisa memiliki uang sendiri, tetapi tidak ada dasar untuk memberikan nilai padanya, nilainya bisa naik turun, satu dolar bisa menjadi 10 ribu, 15 ribu. Jadi, kita merasa tidak enak,” kata PM Xanana kepada wartawan di Istana Kepresidenan Nicoloto Lobato, usai bertemu Presiden Republik, Jose Ramos Horta, Kamis ini.
Menurut Xanana, tanpa basis ekonomi yang stabil dan berkualitas, nilai mata uang bisa berfluktuasi ekstrem, bahkan satu dolar bisa setara dengan seribu hingga tiga juta unit lokal.
“Kita tidak memiliki basis yang kuat, lebih baik saat ini kita menggunakan dolar AS karena saat ini nilainya sangat tinggi,” katanya.
Meski tidak memiliki uang kertas nasional, Timor-Leste mencetak koin sen sendiri (centavos) yang beredar bersamaan dengan dolar AS. Koin ini mempermudah transaksi sehari-hari di pasar dan toko. Jenis koin yang diterbitkan oleh Bank Sentral Timor-Leste (BCTL) antara lain: 1, 5, 10, 25, 50, 100, dan 200 centavos. Koin 100 centavos setara dengan US$1.
Timor-Leste menggunakan dolar Amerika Serikat (US$) sebagai mata uang resmi sejak restorasi kemerdekaannya pada 2002, dan hingga kini belum memiliki mata uang kertas nasional sendiri.
BCTL juga memproduksi koin numismatik atau koin koleksi khusus yang dicetak oleh INCM Portugal, yang dijual sebagai barang koleksi dan tidak digunakan dalam transaksi sehari-hari.
Selain itu, Artikel dari Mises Institute (2023) oleh ekonom Ryan McMaken menyoroti dengan menjelaskan bahwa hampir setiap negara memiliki mata uang sendiri bukan karena kebutuhan ekonomi yang alami, melainkan karena keinginan dan keputusan politik pemerintah.
Secara historis, uang awalnya dicetak dan digunakan oleh pihak swasta atau lokal, seperti bank dan bangsawan, sebelum pemerintah mengambil alih monopoli pencetakan uang. Pemerintah mendorong penggunaan mata uang nasional untuk memperkuat kekuasaan negara, mengontrol ekonomi domestik, mempermudah perdagangan dalam negeri, dan melemahkan pesaing asing.
Mata uang nasional juga memberi pemerintah kemampuan untuk mengatur inflasi dan membiayai krisis atau perang melalui pencetakan uang. Selain itu, uang menjadi simbol kedaulatan dan identitas nasional.
Perkembangan menuju uang fiat modern memperkuat posisi pemerintah, karena mata uang kini tidak lagi terikat emas atau perak. Dengan demikian, keberadaan mata uang nasional lebih banyak didorong oleh faktor politik dan simbolik dibandingkan efisiensi ekonomi.
Timor-Leste sendiri telah menggunakan dolar Amerika Serikat sebagai mata uang resmi sejak tahun 2000, sebuah langkah yang diterapkan oleh United Nations Transitional Administration in East Timor (UNTAET) setelah referendum kemerdekaan dan dipertahankan setelah negara merdeka pada 2002.
Menurut laporan Selected Issues Paper IMF (SIP/2024/042) yang dipublikasikan oleh International Monetary Fund (MF) atau Dana Moneter Internasional, kebijakan dollarization ini membawa stabilitas harga dan inflasi yang relatif rendah, membantu negara pasca-konflik ini menghadapi volatilitas pendapatan minyak dan gas serta kelemahan institusional di masa awal kemerdekaan.
Namun, laporan IMF juga menyoroti sejumlah tantangan. Pertumbuhan ekonomi non-minyak per kapita tetap rendah dan stagnan, sementara kemampuan pemerintah dalam menetapkan kebijakan moneter sendiri sangat terbatas karena bergantung pada dolar AS.
Selain itu, meskipun ekonomi Amerika Serikat menentukan nilai dolar, siklus ekonomi Timor-Leste lebih banyak dipengaruhi oleh hubungan dagang dengan negara-negara ASEAN, sehingga kebijakan moneter AS tidak selalu sesuai dengan kondisi domestik.
Studi IMF menambahkan bahwa dollarization membatasi mekanisme penyesuaian terhadap guncangan eksternal. Misalnya, penurunan harga minyak pada 2014 dan penguatan dolar sejak 2022 berdampak langsung pada daya saing sektor non-minyak karena nilai tukar nominal tidak dapat berfungsi sebagai penyangga.
Nilai tukar riil efektif (REER) yang menguat signifikan dalam beberapa tahun terakhir membuat impor lebih murah dan menekan pengembangan produk lokal serta sektor pariwisata.
IMF menekankan bahwa meski dollarization membawa keuntungan dalam hal stabilitas harga, rezim ini memiliki biaya signifikan terhadap daya saing dan pertumbuhan ekonomi non-minyak.
Lembaga internasional itu merekomendasikan Timor-Leste untuk melakukan reformasi struktural mendalam dan mengurangi ketidakseimbangan fiskal sebelum mempertimbangkan perubahan rezim mata uang di masa depan.
Reporter: Cidalia Fátima
Editor: Armandina Moniz




