DILI, 02 Juli 2025 (TATOLI)— Presiden Republik, Jose Ramos Horta mengatakan kasus rabies yang semakin bertambah di Timor-Leste, merupakan pandemi yang harus dikontrol dan secepatnya dicegah oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes).
“Masalah ini sudah lama bermula di Indonesia, beberapa bulan lalu. Saya pribadi telah mengirim pesan peringatan ke Kementerian kesehatan kita. Dan mereka mengatakan akan menindaklanjuti masalah tersebut. Pemerintah sendiri harus melakukan apapun untuk mencegahnya, karena ini menjadi pandemic. Sebab, seperti yang diketahui anjing di Timor-Leste lebih banyak berkeliaran diluar, dibandingkan dengan negara lain dimana anjing mereka tidak berkeliaran,” kata Presiden Horta melalui Konferensi pers dengan media di Istana Kepresidenan, Dili, Rabu ini.
Berita terkait : Sejak 2024 hingga Juni 2025, lima orang meninggal dunia terkonfirmasi terjangkit rabies
Presiden Horta mengatakan, anjing dengan virus rabies yang semakin bertambah sangat membahayakan masyarakat Timor-Leste, sehingga di perlukan pengendalian dari pihak Kemenkes.
“Anjing rabies yang bertambah ini sangat membahayakan. Sebenarnya kasus tersebut mudah dikendalikan, jika semua yang orang memelihara anjing harus dijaga di rumah. Tetapi saya tidak tahu apa yang dilakukan Kementerian Kesehatan terhadap pengendalian ini, karna ini bisa lebih buruk,” tegas Presiden Horta.
Kepala Negara, mengingatkan kembali bahwa sebelumnya pada 15 tahun lalu di Timor-Leste, kasus virus babi juga mengancam nyawa masyarakat sehingga Kemenkes mengambil Keputusan untuk membunuh babi-babi yang berkeliaran di jalanan.
Berdasarkan laporan MAPPF (Kementerian Pertanian, Peternakan, Perikanan, dan Kehutanan), sebanyak 1.557 ekor anjing telah divaksinasi dari Januari hingga Juni 2025. Sementara pada tahun 2024, total 52.524 hewan, terdiri dari 48.745 ekor anjing, 3.530 ekor kucing, dan 249 ekor monyet telah mendapatkan vaksinasi anti-rabies.
Dilain pihak, menurut data, kasus rabies di Timor-Leste berjumlah tujuh orang yang meninggal dunia, berasal dari kotamadya Bobonaro dua (2) orang, Ermera satu (1), Covalima satu (1), dan RAEOA (Daerah Administratif Spesial Oecusse Ambeno) tiga (3) orang.
Reporter : Mirandolina Barros Soares
Editor : Armandina Moniz




