iklan

EKONOMI, HEADLINE

Forum Bisnis, COIN-TL ajak pengusaha manfaatkan peluang pasar ASEAN

Forum Bisnis, COIN-TL ajak pengusaha manfaatkan peluang pasar ASEAN

Foto Tatoli/ Cidalia Fatima

DILI, 09 Juni 2026 (TATOLI) – Kamar Dagang Indonesia di Timor-Leste (COIN-TL) mengajak pelaku usaha nasional untuk memanfaatkan peluang besar yang terbuka melalui keanggotaan penuh Timor-Leste di ASEAN, sekaligus memperkuat daya saing sektor swasta agar mampu bersaing di pasar regional dan global.

Seruan tersebut mengemuka dalam Forum Bisnis bertema “Tantangan dan Peluang Pertumbuhan Usaha Swasta Timor-Leste di Era Integrasi ASEAN” yang diselenggarakan COIN-TL bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) dan Fantiber Balance (FB) Timor-Leste di Pusat Budaya Indonesia (PBI), Dili, Selasa ini.

Forum tersebut menghadirkan Wakil Menteri Perdagangan dan Industri, Augusto Júnior Trindade, Gubernur Bank Sentral Timor-Leste (BCTL), Helder Lopes, CEO dan Founder Hii Pot Corporation Adrianus Soedijopranoto, serta Prof. Dr. Aurélio Sérgio Cristóvão Guterres yang merupakan Eminent Person dalam High-Level Task Force (HLTF) ASEAN.

Ketua COIN-TL, Marley Yahya, mengatakan forum tersebut diselenggarakan sebagai wadah dialog antara pemerintah, dunia usaha, dan para pemangku kepentingan untuk membahas langkah-langkah strategis dalam menghadapi era integrasi ekonomi ASEAN.

Menurutnya, sektor swasta memiliki peran penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Timor-Leste dan perlu didukung melalui komunikasi, kolaborasi, serta akses informasi yang terbuka.

“Partisipasi seluruh pemangku kepentingan sangat penting untuk memastikan pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Dunia usaha harus menjadi bagian dari transformasi ekonomi nasional,” ujarnya.

Ketua COIN-TL, Marley Yahya. Foto Tatoli/Cidalia Fatima

Sementara itu, Perwakilan KBRI di Timor-Leste, Banga Malewa, menegaskan bahwa berbagai laporan ekonomi, termasuk laporan tahunan BCTL, menunjukkan bahwa sektor swasta harus menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi Timor-Leste.

Ia menjelaskan bahwa forum bisnis tersebut merupakan tindak lanjut dari berbagai rekomendasi yang menekankan pentingnya penguatan sektor swasta sebagai motor pembangunan ekonomi.

“Jika Timor-Leste ingin maju, sektor swasta harus menjadi leading sector. Karena itu, pemerintah dan pelaku usaha harus berjalan bersama dalam memanfaatkan peluang yang tersedia,” katanya.

Menurut Banga, penyelenggaraan forum juga mencerminkan komitmen Indonesia untuk terus mendukung pembangunan ekonomi Timor-Leste, baik melalui kerja sama antar pemerintah maupun kemitraan bisnis.

Ia mengingatkan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang secara konsisten mendukung proses aksesi Timor-Leste ke ASEAN dan kini berkomitmen membantu negara tersebut memperkuat fondasi ekonominya setelah resmi menjadi anggota penuh organisasi regional tersebut pada Oktober 2025.

“ASEAN menghadirkan tantangan sekaligus peluang. Jika pemerintah dan sektor swasta bersinergi, Timor-Leste memiliki kesempatan besar untuk tumbuh dan bersaing di tingkat regional,” ujarnya.

Dalam paparannya, Wakil Menteri Perdagangan dan Industri Augusto Júnior Trindade menjelaskan bahwa keanggotaan Timor-Leste sebagai anggota ke-11 ASEAN membuka akses ke pasar regional yang mencakup sekitar 680 juta penduduk dengan nilai ekonomi mencapai sekitar US$4 triliun.

Menurut Augusto, meskipun Timor-Leste merupakan negara kecil dengan jumlah penduduk sekitar 1,4 juta jiwa, posisinya yang strategis di antara ASEAN, Australia, dan kawasan Indo-Pasifik memberikan keunggulan tersendiri.

“Timor-Leste tidak datang ke ASEAN untuk bersaing, tetapi untuk belajar dan memanfaatkan peluang yang tersedia. Posisi geografis kita memberikan keuntungan besar sebagai penghubung antara ASEAN dan kawasan Indo-Pasifik,” katanya.

Ia menambahkan bahwa integrasi ASEAN membuka peluang baru bagi sektor kopi, perikanan, pariwisata, budidaya perairan, industri kreatif, hingga ekonomi digital. Selain itu, Timor-Leste juga berpotensi menarik lebih banyak investasi asing langsung (Foreign Direct Investment/FDI) berkat stabilitas politik dan keamanan yang terus membaik dalam beberapa tahun terakhir.

Namun demikian, Augusto mengakui bahwa sektor swasta nasional masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan kapasitas usaha, biaya logistik yang tinggi, infrastruktur yang belum memadai, hingga persaingan yang semakin ketat setelah integrasi ASEAN.

“Persaingan kini tidak hanya terjadi di tingkat lokal, tetapi juga regional dan internasional. Karena itu, peningkatan kapasitas pelaku usaha dan perbaikan iklim bisnis menjadi sangat penting,” ujarnya.

Untuk menjawab tantangan tersebut, pemerintah melalui Kementerian Perdagangan dan Industri terus melakukan reformasi di bidang perdagangan dan investasi, termasuk penyederhanaan prosedur kepabeanan, digitalisasi layanan perdagangan, harmonisasi regulasi dengan standar ASEAN dan WTO, serta penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Forum bisnis tersebut dihadiri oleh perwakilan asosiasi pengusaha dari berbagai negara, akademisi, pelaku usaha, serta pejabat pemerintah. Para peserta sepakat bahwa keberhasilan Timor-Leste dalam memanfaatkan keanggotaannya di ASEAN akan sangat bergantung pada kemampuan sektor swasta untuk meningkatkan daya saing, memperluas jaringan bisnis, dan menangkap peluang pasar yang semakin terbuka di kawasan.

Reporter : Cidalia Fátima

Editor    : Armandina Moniz

 

iklan
iklan

Leave a Reply

iklan
error: Content is protected !!